Senin, 21 Desember 2009

Keberanian Mengolah Tanaman Lokal Indonesia

Streblus/Serut Lanang, koleksi wisnujakas "Lintas Batas"


Ki Jagad, koleksi wisnujakas "Lintas Batas"


Landepan, koleksi wisnujakas "Lintas Batas"


Gulo Gumantung, koleksi wisnujakas "Lintas Batas"


Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Pemurah kekayaan alam yang sungguh sangat banyak dan beraneka ragam. Salah satu kekayaan alam di bumi Indonesia adalah keragaman flora. Berkaitan dengan keragaman flora, Indonesia memiliki kekayaan flora nomor dua di dunia setelah Brazil. Ini berarti bahwa di bumi Indonesia terdapat puluhan ribu jenis tanaman yang terhampar di berbagai macam ekosistem.

Dari ribuan jenis tanaman tersebut tentunya terdapat banyak spesies yang dapat dijadikan sebagai bahan bonsai yang bermutu tinggi. Selama ini melalui literature-literatur tentang bonsai kita hanya mengenal ratusan jenis tanaman yang dijadikan bonsai. Dari kondisi ini maka sangat terbuka kemungkinan bagi seniman-seniman bonsai Indonesia untuk menggali potensi keindahan flora Indonesia melalui seni bonsai. Hal ini menjadi peluang untuk mempopulerkan tanaman-tanaman local/endemic yang ada di Indonesia untuk menjadi jenis tanaman bonsai yang terkenal di dunia internasional.

Peluang ini juga menjadi tantangan bagi seniman bonsai Indonesia untuk mengukur kemampuan mengolah bahan bonsai serta menunjukkan kreativitasnya di bidang seni bonsai. Ibarat suatu pertaruhan maka tantangan di atas sangat mungkin akan mampu mengangkat berbagai jenis spesies tanaman endemic Indonesia dan nama seniman bonsai Indonesia.

Jika dilihat dari kaca mata analisis SWOT maka penulis sangat yakin bahwa lebih dominant factor-faktor yang menguntungkan bagi seniman bonsai Indonesia untuk dapat berkarya dengan baik. Bagi penulis, dibutuhkan kenekatan untuk dapat menghasilkan karya bonsai yang bernilai tinggi. Jangan pernah merasa ragu atau terlalu pasti akan masa depan akan tetapi akan jauh lebih baik dan bijaksana jika kita mengupayakan dan mengerjakan hal-hal yang baik untuk berkarya menghasilkan bonsai yang memiliki kualitas tinggi. Selamat berjuang dan mengukir prestasi!

Minggu, 20 Desember 2009

Seni Bonsai sebagai Hobby Keluarga

Ayo Nak, cari bonsai-bonsai!

Ini dia bonsai Kimeng yang akan ditata ulang.

Baru setengah pekerjaan nich!

Tinggal pruning bagian atasnya saja.

Hasil akhir pengerjaan Bulan November 2009.

Akhir-akhir ini dunia perbonsaian di Indonesia mulai banyak aktivitas yang menandakan bahwa nafas kehidupan bonsai semakin jelas. Dinamika kegiatan-kegiatan para penggemar bonsai juga semakin tinggi, hal ini ditengarai dengan seringnya digelar berbagai acara seperti pameran, kontes, sarasehan maupun aktivitas pribadi para penggemar bonsai untuk merawat bonsainya.

Bagi admin sendiri kondisi di atas sungguh sangat menggembirakan tatkala dunia bonsai semakin semarak. Ini berarti bahwa akan ada semakin banyak rekan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang bonsai dengan admin. Dengan bertambahnya penggemar bonsai maka dapat dipastikan bahwa aktivitas dan komunikasi tentang bonsai juga akan mengalami pertambahan. Sungguh sangat menyenangkan membayangkan bahwa akan bertemu, berkomunikasi dan saling berbagi dengan rekan-rekan yang memiliki minat yang sama di bidang seni bonsai.

Seni bonsai bagi admin adalah suatu hobby yang sangat menyenangkan, bagaimana tidak? Setiap hari admin dikelilingi dengan tanaman-tanaman bonsai yang indah meliuk-liuk, sensual, berdaun hijau yang memberi kesejukan dan kesegaran bagi mata dan pikiran. Setiap memandang bonsai-bonsai di rumah, selalu timbul perasaan-perasaan keterkejutan yang membahagiakan karena menemukan keindahan-keindahan yang selama ini tersembunyi.

Situasi, suasana hati seperti ini ternyata tidak hanya dialami oleh pribadi admin sendiri tetapi juga dialami dan dirasakan oleh orang-orang di lingkungan admin seperti istri, anak dan keluarga lainnya. Admin merasa sangat beruntung karena seluruh anggota keluarga dan orang yang di lingkungan admin mendukung serta menggemari bonsai sebagai hobby. Atau paling tidak adalah ikut menikmati keberadaan dan keindahan-keindahan pohon bonsai itu sendiri.

Hobby admin pada seni bonsai ternyata juga diikuti oleh keluarga. Orang-orang terdekat admin peduli dengan keberadaan pohon bonsai yang ada di lingkungan rumah sehingga setiap hari ikut memperhatikan dan merawat tanaman-tanaman indah itu. Jika sedang memiliki waktu yang luang maka mereka tidak canggung-canggung untuk membantu admin untuk mengolah pohon bonsai seperti pruning, cutting, wiring, repotting dan lain sebagainya. Bahkan yang sangat mengejutkan bagi admin sendiri adalah sudah beberapa bulan terakhir ini istri admin membentuk sendiri pohon bonsai pilihannya sendiri.

Mrs Savitri secara khusus merawat beberapa bonsai yang menjadi pilihannya. Entah pertimbangan apa yang ada dalam benaknya sehingga memilih beberapa bonsai untuk dirawat. Menurut hasil pengamatan admin, Mrs Savitri sangat intens dan focus merawat bonsai-bonsai itu. Sering admin melihat atau mendampinginya selama berjam-jam ketika mengerjakan bonsai-bonsai tersebut. Selepas menyelesaikan program terhadap bonsai biasanya Mrs. Savitri merasa sangat puas dengan hasil karyanya dan merencanakan program selanjutnya untuk bonsai tersebut beberapa minggu atau bulan ke depan.

Akhirnya setelah mengamati beberap bulan kegiatan Mrs. Savitri di dunia seni bonsai, maka admin berpendapat bahwa istri admin telah memiliki hobby baru yaitu seni bonsai. Ini berarti bahwa hobby admin telah mampu menginduksi dan mencemari pikiran dan perasaan Mrs. Savitri sehingga ia juga menyukai dan hobby terhadap seni bonsai. Ada yang mau mencemari pikiran dan perilaku keluarga kita dengan seni bonsai sehingga hobby terhadap seni bonsai memasyarakat? Andakah orang selanjutnya?

Selasa, 15 Desember 2009

Mengenalkan Seni Bonsai Pada Anak

Aryaguna mengapresiasi positif atas hasil karya bonsai

Jika sejak dini anak dikenalkan dan belajar bonsai dari seniornya
Insya Allah kelak menjadi pribadi yang hebat dan mampu menghasilkan
bonsai yang bermutu tinggi.

Beberapa tahun terakhir ini pasca runtuhnya kerajaan anthurium yang bak menara gading membawa angina perubahan yang cukup segar bagi dunia seni bonsai. Bagaimana tidak? Pada saat kerajaan anthurium berjaya, dunia seni bonsai dilupakan oleh para penggemarnya yang kesilap oleh lembaran-lembaran rupiah dalam setiap lembar daun anthurium. Orang-orang yang materialistic dan ingin segera kaya secara instant berlari mengejar dan memuja-muja daun-daun anthurium. Koleksi bonsainya yang selama ini dipelihara dicampakkan begitu saja seolah tidak ada harga dan bekasnya. Bahkan yang paling ironis adalah membuang atau membiarkan pohon-pohon bonsai itu merana dan akhirnya mati. Sungguh sangat ironis, gambaran ketamakan manusia-manusia yang rapuh beberapa tahun yang lalu.

Setelah runtuhnya kerajaan anthurium maka sebagian penggemar bonsai seperti disadarkan dari hipnotis, mereka mencari kembali sisa-sisa koleksi bonsainya yang telah rusak karena sekian lama dicampakkan dan dilupakan begitu saja. Beruntung bagi penggemar yang masih menemukan koleksi bonsainya masih hidup. Cinta lama bersemi kembali.

Itulah bukti nyata kepalsuan cinta para penggemar bonsai yang dimabuk asmara pada daun muda yang terkesan dapat membuat kaya raya mendadak. Itulah bukti nyata bahwa mayoritas penggemar bonsai Indonesia masih berorientasi pada pundi-pundi rupiah dalam berbonsai. Bonsai mayoritas bukanlah berakar pada hobby tetapi berawal dari harapan mereguk untung financial yang besar dengan memilikinya. Sungguh sangat menyedihkan, keluhuran filosofi yang terkandung dalam hobby seni bonsai hanya digantikan dengan lembaran-lembaran uang saja.

Fenomena social ekonomi di atas sungguh membuat penulis malu hati. Menurut pendapat penulis fenomena tersebut disebabkan karena kondisi social ekonomi Indonesia yang kurang makmur dan berkeadilan social yang merata di samping factor konsep pola pikir para penggemar bonsai yang kurang memahami hakikat hobby seni bonsai. Penulis berpendapat bahwa salah satu alternative untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan menanamkan pengetahuan, hobby dan kecintaan terhadap seni bonsai pada anak-anak sejak dini dan pada lingkungan keluarga kita.

Mayoritas penggemar bonsai Indonesia saat ini mulai menggeluti dunia seni bonsai paling dini sejak berusia remaja atau bahkan setelah dewasa. Rasa-rasanya penulis belum pernah mengetahui bahwa tokoh bonsai Indonesia saat ini mulai menggelutinya sejak masih anak-anak. Penulis membuat suatu hipotesa bahwa jika dunia seni bonsai dikenalkan dan diajarkan kepada anak-anak sejak dini maka kelak ketika dewasa maka si anak akan menjadi seniman atau orang yang mampu membuat bonsai yang berkualitas tinggi atau setidak-tidaknya menjadi penggemar bonsai yang bonafide.

Hipotesa di atas didasarkan pada sejumlah fakta yang telah kita ketahui bersama bahwa anak-anak merupakan subjek yang paling mudah untuk menerima pengaruh/stimulus tertentu seperti pengetahuan tentang seni bonsai, dengan metode yang benar dan dilakukan secara berkesinambungan maka akan terjadi proses internalisasi terhadap seni bonsai secara optimal. Kemampuan anak-anak untuk menyerap dan merekam ilmu pengetahuan relative lebih baik dari pada orang dewasa atau lanjut usia. Seiring dengan berjalannya waktu maka kemampuan si subjek anak ini akan semakin berkembang sehingga kapasitasnya akan semakin meningkat.

Hobby seni bonsai merupakan sebuah hobby yang hidup dan selalu berkembang. Dari hobby seni bonsai ini maka setiap penggemarnya akan memiliki kualitas kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengenal hobby seni sama sekali. Dalam hobby seni bonsai, setiap penggemar akan dilatih untuk percaya kepada kemampuan dirinya sendiri, mau dan mampu menghargai hasil karya orang lain serta memuliakan nama Allah Swt yang telah menciptakan bahan-bahan bonsai secara indah dan menakjubkan. Hal ini juga memicu terjadinya peningkatan kecerdasan spiritual.

Beberapa fakta ilmiah yang diperoleh dari serangkaian penelitian menyatakan bahwa mayoritas orang besar dan sukses di dunia ini bukanlah orang-orang yang dominant memiliki kecerdasan intelektual saja. Akan tetapi mayoritas orang besar dan sukses adalah subjek/orang yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kecerdasan social dan kecerdasan intelektual.

Upaya-upaya pengenalan hobby seni bonsai pada anak usia dini merupakan upaya proaktif dan investasi jangka panjang terhadap anak di masa yang akan datang. Upaya pengenalan hobby bonsai pada anak usia dini dapat ditempuh dengan beberapa cara seperti mengajak anak dan keluarga ke acara pameran, sarasehan maupun ketika merawat atau membuat bonsai. Pengenalan hobby seni bonsai secara bertahap dan sistematis juga akan membawa dampak yang positif.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa proses belajar yang paling efektif adalah dengan melihat suatu model keteladanan dan melakukan keteladanan itu ditambahi dengan kreativitas pribadi masing-masing. Anak-anak dan keluarga yang sering diajak pada kegiatan-kegiatan hobby seni bonsai dapat dipastikan mengalami proses belajar seni bonsai walaupun secara informal dan kurang termonitor dengan baik. Singkatnya adalah bahwa penulis berpendapat, dunia seni bonsai Indonesia akan maju dengan pesat jika proses belajar seni bonsai diajarkan pada anak dan keluarga sejak usia dini. Anda punya anak dan keluarga? Ayo kita ajak untuk terlibat dalam kegiatan seni bonsai!

Senin, 14 Desember 2009

DIPERLUKAN KEBERANIAN BERKREASI DALAM MEMBUAT BONSAI

Panorama Luweng (sungai bawah tanah) di Gunungkidul.

Ulmus mikro, karya Lintas Batas.
Pot dari kayu jati yang dipahat kemudian dicat
untuk menimbulkan efek air, batu karang dijadikan
sebagai media tempat tumbuhnya bonsai, tulisan-tulisan
corat-coret pada karang merupakan gambaran realistis vandalisme.

Dewasa ini bonsai oleh beberapa pakar mulai dimasukkan dalam suatu ranah seni khususnya masuk dalam ranah seni rupa. Konsekuensi logis dari penggolongan bonsai menjadi bagian dari ranah seni rupa adalah bahwa karya seni bonsai harus memenuhi kaidah-kaidah sebagai benda seni rupa. Oleh karena itu bonsai untuk dapat disebut sebagai hasil karya seni rupa yang bermutu tinggi maka untuk membuatnya para seniman bonsai perlu memahami tentang ilmu seni rupa. Pemahaman ilmu seni rupa merupakan prasyarat wajib bagi para seniman bonsai untuk dapat menjadi landasan konsep pembuatan suatu seni bonsai.

Jika seorang seniman bonsai telah memahami tentang ilmu seni rupa maka diharapkan seniman tersebut akan memiliki keinginan serta imajinasi-imajinasi yang indah, berani, liar namun dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu seni rupa. Diharapkan pemahaman yang memadai tentang dasar-dasar seni rupa akan menjadi pemicu dan katalis dalam penciptaan hasil karya seni bonsai yang bermutu tinggi.

Ketika seniman bonsai telah “diracuni” dengan dasar seni rupa maka dalam benak pikirannya saat membuat bonsai tentunya akan muncul unsur-unsur seni rupa seperti garis, warna, tekstur, keseimbangan, komposisi, dimensi, total performance. Waduh! Koq banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan untuk dapat membuat sebuah karya seni bonsai? Koq malah jadi ribet, ruwet dan sebagainya? Itu pertanyaan-pertanyaan mendasar yang akan muncul ketika awal teori-teori seni rupa dijadikan pertimbangan dalam membuat seni bonsai, tetapi ketika sudah diterapkan dan seniman memiliki rasa yang peka maka semuanya akan mengalir begitu saja. Sebuah karya seni bonsai yang bermutu tinggi tidak mesti ruwet, muter-muter, kompleks dan sebagainya. Justeru sebuah karya seni bonsai yang bermutu tinggi adalah karya seni bonsai yang penuh kesederhanaan namun mampu menampilkan seluruh unsur-unsur seni rupa secara pas.

Seorang seniman bonsai untuk dapat menghasilkan karya yang bermutu tinggi juga harus berani mengekplorasi setiap kemungkinan yang ada baik dari segi pemanfaatan bahan pokok, material pendukung maupun dari segi konsep bonsai yang hendak diwujudkan serta cara-cara pengerjaan. Bahkan jika perlu harus berani bersifat kontemporer yaitu melawan, menentang kaidah-kaidah yang selama ini telah mapan dengan cara-cara atau kaidah yang baru yang dapat dipertanggungjawabkan namun mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik dari kaidah yang telah ada.

Keberanian para seniman bonsai untuk bersifat kontemporer menurut pendapat penulis akan lebih mampu mendorong munculnya kreativitas-kreativitas “nakal dan liar” dari para seniman sehingga hasil karya seni bonsai tidak hanya yang seperti itu-itu saja. Fakta sejarah menunjukkan bahwa perkembangan kemajuan jaman diperoleh dari usaha-usaha yang terkadang melawan kaidah yang telah ada, berasal dari upaya yang nekat dan berhasil. Kenapa hal ini tidak kita coba untuk berkarya di bidang seni bonsai yang dasarnya merupakan hobby yang kecenderungannya untuk memuaskan hasrat hati atau egoisme pribadi? Kenapa untuk hobby kesenangan hati, kita masih mau dibelenggu dengan aturan-aturan yang diciptakan oleh orang lain yang belum tentu cocok untuk kita?

Oleh karenanya, sekarang beranikah Anda untuk menghasilkan karya seni bonsai yang bersifat Anda Banget? Narsis bukanlah dosa!

Rabu, 02 Desember 2009

Bonsai Lantana Camara Sebagai Bio Pestisida

Bunga Camara yang cantik eksotis



Lantana Camara Linn/Tembelekan

Indonesia yang terletak di daerah beriklim tropis dan terdiri dari belasan ribu pulau-pulau sungguh sangat kaya akan spesies flora dan fauna. Salah satu kekayaan flora Indonesia adalah tumbuhan Lantana Camara Linn/Wild Sage/Tembelekan yang daerah asalnya semula dari daerah Amerika Latin yang juga beriklim tropis.
Lantana Camara Linn/Tembelekan merupakan flora dengan batang berbulu dan berduri serta berukuran lebih kurang 2 m. Daunnya kasar, beraroma dan berukuran panjang beberapa sentimeter dengan bagian tepi daun yang bergerigi. Bercabang banyak, ranting bentuk segi empat, ada varietas berduri dan ada varietas yang tidak berduri. Daun tunggal, duduk berhadapan bentuk bulat telur ujung meruncing pinggir bergerigi tulang daun menyirip, permukaan atas berambut banyak terasa kasar dengan perabaan permukaan bawah berambut jarang. Bunga dalam rangkaian yang bersifat rasemos mempunyai warna putih, merah muda, jingga kuning, dsb. Buah seperti buah buni berwarna hitam mengkilap bila sudah matang.
Lantana Camara Linn/Tembelekan memiliki habitat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1.700 m di atas permukaan air laut. Lantana banyak tumbuh di tempat-tempat yang terbuka atau agak ternaungi, tetapi di tempat yang relatif panas sering digunakan untuk pagar. Lantana ini di samping memiliki bentuk dan warna bunga yang sangat indah ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bio pestisida yaitu obat alami pembunuh serangga. Hal ini terjadi karena di ekstrak daun dan bunga Lantana mengandung lantadene A, lantadene B, lantanolic acid, lantic acid, humule (mengandung minyak asiri), b-caryophyllene, g-terpidene, a-pinene serta r-cymene.
Lantana Camara Linn termasuk tanaman perdu yang dapat tumbuh mencapai ketinggian 2 m, mampu memiliki percabangan dan perantingan yang kaya namun pertumbuhannya relatif lambat untuk memiliki batang berkayu yang besar. Hal yang menarik bagi penulis adalah keindahan dari bunga Lantana Camara Linn/Tembelekan ini yang memang sangat indah. Lantana dapat mengeluarkan berbagai macam warna bunga seperti kuning, orange, pink, putih dan biru. Perdaunan Lantana juga cukup lebat, rapat dan mampu cepat mengecil ketika sering di pangkas serta diatur nutrisinya. Karakter seperti ini berarti bahwa Lantana Camara Linn cukup layak untuk dijadikan sebagai pohon bonsai yang indah dan mempesona. Selama ini penulis belum pernah melihat Lantana Camara Linn/Tembelekan ditampilkan dalam suatu kontes/pameran bonsai di Indonesia. Penulis sangat yakin jika Lantana ditampilkan saat sedang berbunga penuh ketika pameran bonsai maka akan mampu menarik perhatian dan jatuh cinta para penggemar serta juri bonsai. Saat ini penulis juga sedang mengolah salah satu koleksi Lantana Camara Linn/Tembelekan hanya sedang tidak berbunga. Mungkin rekan pembaca juga memiliki si cantik Lantana Camara?

Minggu, 29 November 2009

Pameran Bonsai Jogja 2009

Lintas Batas setelah sarasehan di STPP

Tanto "Lintas Batas" mengkomunikasikan hasil karyanya

Wisnujakas interaktif dengan peserta sarasehan
yang berasal dari pascasarjana ilmi budaya Al-Azhar, Cairo

Sulis Ninja, Wahyudi D. Sutomo, Teddy Boy &
Bambang Subyandono mengapresiasi hasil trainer award.


Peserta Trainer Award

Beberapa waktu yang lalu di Bulan Oktober 2009 di halaman Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Jl. Kusuma Negara No. 3 Yogyakarta telah diselenggarakan Pameran Bonsai Jogja 2009 dengan tema "The Power of Harmony". Dalam rangkaian pameran tersebut diselenggarakan kegiatan bursa tanaman bonsai, pameran & kontes bonsai, sarasehan serta trainer award.
Sarasehan bonsai diselenggarakan selama beberapa hari yang dibawakan oleh Wahyudi D. Sutomo dengan materi "Indahnya Bonsai Asimetri", Teddy Boy dengan materi "Manajemen Bonsai", Sulistyanto "Ninja" Soejoso dengan materi "Kreativitas Transendental dalam Seni Bonsai, Rudi Julianto dengan materi "Jati Diri Bonsai Indonesia" serta Wisnujakas "Lintas Batas" dengan materi "Menjadi jauh lebih bermanfaat melalui seni bonsai".
Dalam acara tersebut digelar kegiatan Trainer Award yaitu suatu acara pemberian penghargaan kepada seniman bonsai yang melakukan demonstrasi membuat bonsai. Acara Trainer Award ini merupakan acara pertama kali yang diselenggarakan di Indonesia bahkan mungkin dunia untuk seni bonsai. Trainer Award diikuti oleh 14 orang seniman-seniwati bonsai dari Jogja dan sekitarnya. Pada kesempatan tersebut para seniman-seniwati bonsai masing-masing diberi bahan bonsai Cemara Chinensis yang sebelumnya dilakukan pengundian. Trainer Award merupakan ajang untuk menampilkan kreativitas para seniman-seniwati bonsai terhadap bahan bonsai yang diperolehnya. Yang menjadi tujuan utama dari Trainer Award ini adalah lebih ditonjolkan pada aspek nilai tambah yang mampu diberikan oleh seorang trainer atas bahan bonsai. Diharapkan agar acara trainer award ini akan mampu menjadi pemicu munculnya kegiatan-kegiatan serupa dalam acara pameran maupun kegiatan bonsai lainnya.
Satu hal yang sangat menarik dari kegiatan pameran bonsai Jogja 2009 yaitu bahwa rangkaian kegiatan pameran ini didukung sepenuhnya oleh komunitas-komunitas seni bonsai, paguyuban seni bonsai dan club-club bonsai yang ada di Jogja dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa PPBI Jogja mampu menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan organisasi-organisasi bonsai lainnya. Semoga hal ini mampu menyebar dengan cepat ke seluruh Indonesia sehingga iklim perbonsaian nasional menjadi semakin baik dan bonsai Indonesia mencapai kejayaan.

Selasa, 17 November 2009

BONSAI TANAMAN LAUT & PANTAI

Pantai Drini/Cantigi di Jogja

Fajar di pantai Miangas

Cantigi

Cantigi


Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki belasan ribu pulau dan gugusan pulau yang terhampar dari ujung Sabang hingga Merauke dan dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Dapat dikatakan bahwa mayoritas wilayah Indonesia berupa lautan yang kaya akan berbagai sumber daya. Kekayaan alam Indonesia sudah sangat terkenal ke seluruh penjuru dunia.
Posisi wilayah Indonesia yang berada di daerah tropis menyebabkan seluruh wilayah Indonesia mendapat curahan sinar matahari yang melimpah. Posisi silang Indonesia di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta Benua Asia dan Benua Australia menyebabkan mayoritas wilayah Indonesia mendapat curah hujan yang mencukupi. Dari kedua kondisi tersebut di atas maka di Indonesia terdapat banyak hutan hujan tropis dan berbagai biota tempat hidup flora dan fauna. Hal ini mendorong tumbuhnya ribuan jenis tanaman tumbuh dengan cukup baik di wilayah Indonesia, oleh karenanya Indonesia memiliki kekayaan flora nomor dua terbanyak di dunia setelah Brazil.
Keanekaragaman spesies flora di Indonesia tidak dapat disangkal lagi. Namun pada saat penjajahan yang dilakukan oleh Belanda beberapa abad yang lampau masih meninggalkan bekas yang mendalam. Pada waktu itu Belanda paham benar bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa Bahari jadi kekuatannya ada di laut, oleh karena itu Belanda menjadikan laut menjadi pembatas-pembatas pulau yang satu dengan yang lainnya serta lebih menonjolkan wilayah daratan. Taktik devide et impera diberlakukan pada Bangsa Indonesia, rakyat kita difokuskan pada urusan-urusan yang berhubungan dengan kebijakan kontinental seperti perkebunan, pertanian, irigasi sungai, pembangunan kota tetapi tidak pernah diajak untuk melihat daerah pantai dan laut.
Dampak dari hal itu adalah pembangunan dan cara pandang masyarakat kita saat ini juga masih berorientasi pada hal-hal yang ada di daratan/pulau. Demikian pulau dalam seni bonsai, jika diamati maka mayoritas jenis tanaman yang dijadikan bonsai di Indonesia adalah tanaman-tanaman di daerah yang jauh dari laut bukan tanaman laut atau biota pantai lainnya. Mayoritas penggemar bonsai jauh lebih mengenal bonsai beringin, bonsai asem, bonsai serut, bonsai loa, bonsai mustam dan lain sebagainya dibandingkan dengan bonsai santigi, pacar laut, wahong, saing simbur. Di arena pameran dan kontes bonsai yang selama ini sering digelar di berbagai daerah yang sering ditampilkan adalah bonsai-bonsai yang hidup di daratan pedalaman daripada bonsai tanaman laut dan pantai.
Menurut pengamatan dan pendapat penulis, sebenarnya tanaman-tanaman yang hidup di laut dan pantai akan jauh lebih indah untuk dijadikan bonsai. Hal tersebut karena tanaman laut dan pantai hidup di lingkungan yang relatif mengalami perubahan fisis yang drastis seperti media tanam yang terbatas, perbedaan suhu yang besar, kecepatan angin dan arus ombak yang besar. Kondisi-kondisi seperti ini jelas akan mempengaruhi bentuk fisik tanaman yang hidup ditempat itu. Tanaman-tanaman laut dan pantai akan memiliki bentuk yang meliuk-liuk ekstrim, banyak keroposan/keringan karena sering mati yang menimbulkan eksotisme tersendiri. Liukan tanaman pantai relatif lebih sensual dibandingkan tanaman daratan pedalaman yang tidak banyak mengalami perubahan cuaca dan fisik.
Melihat potensi yang sangat tinggi dari jenis-jenis tanaman laut dan pantai di atas maka menurut hemat penulis, kiranya para penggemar bonsai perlu mempertimbangkan lagi untuk segera mengolah tanaman biota laut dan pantai untuk menghasilkan karya seni bonsai yang bermutu tinggi dan membawa nama harum Bangsa Indonesia. Selamat mencoba dan sukses selalu.......

Sabtu, 14 November 2009

Menjadikan Keragaman Sebagai Unsur Jati Diri Bonsai Indonesia


Beragam, setelah dipadupadan dengan tepat akan jadi indah & nikmat!


Dewasa ini seni bonsai telah menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk juga ke Indonesia. Seni Bonsai yang memiliki sejarah berasal dari luar negeri (mungkin saja China, Jepang, India atau Mesir) telah masuk ke Indonesia dan terjadi proses asimilasi serta akulturasi dengan Budaya Indonesia. Demikian pula seni bonsai juga masuk dan berkembang ke seluruh penjuru dunia.
Di negara-negara lain sebut saja Amerika Serikat, Italia, Perancis, Belanda, Belgia, Australia dan lain sebagainya, seni bonsai mengalami perkembangan yang relatif bergeser dari corak dan gaya aslinya. Seni bonsai tidak lagi mutlak mengikuti pakem Jepang dan Cina yang semula dijadikan acuan dasar dalam seni bonsai. Di negara-negara tersebut seni bonsai dikembangkan secara bebas, dipadupadankan dengan bidang seni yang lain menggunakan imajinasi dan kreativitas senimannya. Oleh karenanya di negara-negara tersebut seni bonsai menjadi berkembang jauh lebih pesat di bandingkan dengan di negara kita tercinta Indonesia.
Jika kita melihat bonsai-bonsai hasil karya seniman-seniman bonsai dari Eropa, Amerika, Cina dan Jepang tentu dalam hati kita akan mampu menduga bahwa bonsai-bonsai tersebut berasal dari belahan dunia di atas. Hal tersebut terjadi karena bonsai-bonsai tersebut memiliki kepribadian, karakter, ciri khas dan ruh yang menjadikan bonsai tersebut memiliki jati diri. Lalu bagaimana ketika kita melihat mayoritas bonsai-bonsai yang ada di tanah air? Menurut penglihatan penulis pribadi, mayoritas bonsai-bonsai yang ada di tanah air kita belum menggambarkan/mencitrakan suatu bonsai yang berkepribadian Indonesia, belum sebenar-benarnya menggambarkan Indonesia. Mayoritas masih mencitrakan bonsai hasil reproduksi bonsai-bonsai Jepang dan Cina!
Dari dua gambaran yang kontras di atas, lalu muncul pertanyaan bagaimana semestinya bonsai-bonsai yang ada di Indonesia? Apa pentingnya Bonsai Indonesia harus memiliki jati diri? Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia? Untuk menjawab sejumlah pertanyaan di atas, dapat dilakukan dengan suatu pendekatan analisa stratejik yang bersudut pandang dari wawasan nusantara. Wawasan nusantara sebagaimana diketahui bersama sebagai suatu konsepsi berbangsa bagi negara kita Indonesia.
Untuk memahami jati diri kita berpegang pada konsep jati diri yang mendasarkan pada kesadaran tentang esensi keberadaan kita sebagai seorang manusia. Jati diri berasal dari Bahasa Jawa ”sejatining diri” yang berarti siapa diri kita sesungguhnya, hakikat atau fitrah manusia yang berisikan sifat-sifat dasar manusia murni dari Tuhan dalam batas kemampuan insani yang dibawa sejak lahir. Jati diri erat kaitannya dengan hati yang bersih dan sehat. Pada perkembangannya jati diri merupakan totalitas penampilan atau kepribadian seseorang yang akan mencerminkan secara utuh pemikiran, sikap dan perilakunya. Orang yang berjati diri akan mampu memadukan antara cipta (olah pikir), karsa (kehendak dan karya) serta rasa (olah hati).
Jika hal ini diterapkan dalam dunia seni bonsai maka jati diri Bonsai Indonesia oleh penulis diartikan sebagai hakikat Bonsai-bonsai yang dimiliki, dihasilkan oleh Bangsa Indonesia yang memiliki karakter beragam sesuai dengan nilai-nilai luhur yang hidup, tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Jati diri Bonsai Indonesia merupakan hasil olah pikir, kehendak-karya dan oleh rasa seniman-seniwati bonsai Indonesia.
Membahas tentang Bonsai Indonesia tentu saja tidak dapat lepas dari karakteristik Bangsa Indonesia. Semua orang tahu bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari belasan ribu pulau-pulau yang dihubungkan oleh samudera yang sangat luas. Kepulauan yang terhampar dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote dihuni oleh ratusan suku bangsa yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain.
Dari ratusan suku bangsa ini lahirlah beratus-ratus budaya daerah yang pucuk-pucuk tertingginya menjadi Budaya Nasional Indonesia. Semua budaya daerah yang menjelma menjadi Budaya Nasional Indonesia diakui kualitasnya dan termasyur di seluruh dunia. Sejak jaman dahulu kala Bangsa Indonesia termasyur akan keanekaragamannya dan kekayaan alam serta budayanya. Keanekaragaman dan kekayaan inilah yang menarik bagi bangsa-bangsa lain di dunia untuk datang ke Indonesia bahkan sempat melakukan penjajahan secara nyata di Bumi Indonesia.
Keanekaragaman yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan bangsa namun juga dapat digunakan menjadi kelemahan bangsa. Menjadikan keragaman sebagai bahan terjadinya konflik merupakan wujud dari cara memandang keragaman sebagai suatu kelemahan. Namun sebaliknya, keragaman dipandang sebagai suatu kekuatan bangsa maka keragaman dipandang dan disikapi secara bijaksana. Kita harus menyadari bahwa pada hakikatnya setiap orang, suku bangsa pastilah berbeda/beragam satu dengan yang lainnya karena Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan sejak awal setiap orang sempurna dalam segala perbedaan/keragamannya. Hal ini harus kita hormati, harus kita hargai sehingga sangat diperlukan untuk mengembangkan sikap tenggang rasa serta menghormati.
Tenggang rasa dan penghormatan atas perbedaan dan keragaman juga sudah sepantasnya jika diterapkan pada perbedaan sikap, pendapat dan pilihan jalan hidup seseorang. Setiap orang merdeka untuk bersikap, berpendapat dan mengekspresikan jati dirinya secara bertanggung jawab. Bangsa Indonesia telah menyadari bahwa setiap orang setiap bangsa berhak atas kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Kemerdekaan sebagaimana yang dimaksud dalam pembukaan UUD 1945 juga sepatutnya dijunjung tinggi dan diterapkan dalam dunia seni bonsai di Indonesia. Setiap penggemar bonsai tanah air harus dihormati kemerdekaan dalam selera, pilihan dan kemampuan membuat bonsainya. Setiap orang wajib hukumnya untuk menghormati dan menghargai penggemar bonsai dan hasil karya satu dengan yang lain. Jika setiap orang sudah mampu saling menhargai dan menghormati kemerdekaan dan kebebasan dalam berkarya dan berekspresi di seni bonsai, niscaya akan muncul keberagaman Bonsai Indonesia serta memiliki jati diri.
Membicarakan tentang jati diri bonsai maka tentu tidak dapat terlepas dari eksistensi/keberadaan Bonsai Indonesia dalam dunia perbonsaian nasional, regional maupun internasional. Jati diri Bonsai Indonesia perlu dibangun dalam rangka untuk mempertahankan eksistensinya dan mampu unggul dalam persaingan dengan bonsai-bonsai dari negara lain. Saat ini untuk mencari jati diri Bonsai Indonesia dipengaruhi oleh beberap faktor strategis baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri.
Dari dalam negeri Indonesia terdapat sejumlah faktor yang dapat berperan sebagai faktor kelemahan dan faktor kekuatan dalam mencari jati diri Bonsai Indonesia. Beberapa hal yang dapat menjadi faktor yang melemahkan segala upaya mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia adalah perilaku penggemar bonsai yang cenderung: kurang santun, kurang tenggang rasa, mampu menghargai dan menghormati penggemar dan karya orang lain, kurang bertanggung jawab serta terkadang tidak jujur, lebih dominan bersifat individualistik dari pada mengutamakan kepentingan umum. Kelemahan yang lainnya adalah sarana dan prasarana untuk menghasilkan bonsai kurang tersebar merata di seluruh nusantara, masih cenderung terpusat di Pulau Jawa, komunikasi yang kurang lancar antara para stakeholders (PPBI, pebisnis, penggemar).
Adapun hal-hal yang dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia adalah bahwa Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa yang masing-masing memiliki budaya dan kearifan lokal yang tinggi, orang Indonesia terkenal kreatif mensiasati keterbatasan/hambatan yang dijumpai, bumi Indonesia kaya akan flora/tumbuhan yang dapat dijadikan bahan bonsai bermutu tinggi, panorama alam Indonesia sangat beragam dan indah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai inspirasi dalam membuat bonsai. Selain itu Indonesia juga kaya akan bahan-bahan pendukung untuk membuat bonsai-bonsai yang berkualitas.
Faktor dari luar negeri yang menjadi hambatan untuk mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia adalah bahwa bonsai asli berasal dari luar negeri serta perkembangan bonsai luar negeri yang sedemikian pesatnya sehingga sering ditiru mutlak oleh penggemar di Indonesia. Akibatnya adalah bahwa banyak kita jumpai bonsai-bonsai kita hanya merupakan jiplakan atau tiruan dari bonsai-bonsai luar negeri, kreativitas seniman bonsai Indonesia dapat menjadi menurun karenanya. Adanya pemilik modal yang kuat dari luar negeri dapat juga menjadi tantangan bagi kita, karena mereka sering membeli bahan-bahan bonsai hasil karya seniman Indonesia yang belum jadi. Hal ini menyebabkan banyak calon-calon bonsai bagus segera berpindah tangan kepemilikannya ke luar negeri.
Sedangkan peluang dari luar negeri yang dapat dimanfaatkan antara lain adalah adanya tata kelola bonsai yang telah terbangun secara baik di luar negeri sehingga dapat memotivasi seniman bonsai Indonesia untuk ditampilkan secara obyektif di luar negeri atau bahkan nantinya dijual dalam bentuk bonsai jadi di pasar internasional.
Mensikapi beberapa fakta riil di atas maka dapat disarankan agar diberlakukan tata kelola dunia seni bonsai yang baik (good governance di bidang bonsai) di Indonesia. Adapun yang menjadi pilar utamanya adalah PPBI selaku organisasi resmi masyarakat bonsai, pebisnis bonsai dan penggemar bonsai. Masing-masing pihak diharapkan mau dan mampu untuk mawas diri dan berkomitmen untuk memajukan dunia seni bonsai di Indonesia. Kemudian diharapkan terjadi kerja sama antara para pihak untuk membentuk sinergi mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia.
Hal penting lainnya adalah tentang perilaku para penggemar bonsai agar menjadi semakin baik, luhur dan bijaksana seperti filosofi dari seni bonsai itu sendiri. Diharapkan agar para penggemar bonsai mengakui adanya keberagaman Bangsa Indonesia dan Bonsai Indonesia sehingga tidak dijadikan seragam karena keberagaman adalah hak yang wajib dihormati.
Demikian sekilas pengantar tinjauan stratejik tentang pencarian jati diri Bonsai Indonesia disampaikan untuk menghantarkan suatu alternatif wacana pemahaman bagi penggemar bonsai sekalian. Diharapkan agar setelah memahami pengantar ini maka akan membuka forum-forum diskusi/musyawarah untuk membahas upaya-upaya riil secara menyeluruh terintegrasi guna mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia.

Rabu, 28 Oktober 2009

Lintas Batas Silaturahim dengan Imagine Bonsai Club

Lintas Batas foto bersama di kebun bonsai milik Sulistyanto Soejoso


3 Mantan Jejakas sedang berbincang tentang bonsai




Pada Hari Minggu tanggal 25 Oktober 2009, Forum Komunikasi Lintas Batas menyempatkan diri bersilaturahim dengan Imagine Bonsai Club yang bermarkas di Kutisari Utara tempat kediaman Sulis Ninja di Sidoarjo Jatim. Silaturahim kali ini diisi dengan kegiatan diskusi seputar dunia seni bonsai dan dunia pendidikan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi kebun Santigi di samping rumah Sulis Ninja.

Diskusi kali itu membahas tentang kondisi aktual dunia seni bonsai di Indonesia serta idealisme untuk mengupayakan agar dunia seni bonsai tersebut menjadi maju, berkualitas, memiliki jati diri sehingga diperhitungkan serta memiliki reputasi dan prestasi dalam kancah perbonsaian internasional. Dalam diskusi tersebut muncul pendapat bahwa untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi itu paling tidak harus dilakukan pembenahan pada 4 pilar utama perbonsaian di tanah air. Keempat pilar utama tersebut adalah aturan tentang tata kelola seni bonsai, organisasi bonsai, pebisnis bonsai serta para penggemar seni bonsai.

Dalam kesempatan itu, diskusi dilakukan secara santai, penuh keakraban dan jauh dari ketegangan serta egoisme pribadi. Hal positif yang dapat dipetik oleh admin dari event itu adalah pertama bertambah wawasan tentang dunia seni bonsai, semakin akrab dengan peserta diskusi, saling asih asah dan asuh secara santun. Memang diskusi tersebut tidak ditujukan secara muluk-muluk, hanya untuk masukan masing-masing pribadi untuk lebih meningkatkan kapabilitasnya. Selama acara diskusi, peserta diskusi disuguhi sajian cemilan yang berupa jajan pasar buatan home industri khas Sidoarjo.

Selepas diskusi, peserta diberi kesempatan langka untuk melihat koleksi Suiseki dan batu-batuan lainnya milik Sulis Ninja. Ternyata selain seniman bonsai yang berkarakter, Sulis Ninja juga seorang kolektor batu dan suiseki. Koleksi yang dimilikinya sangat banyak, bahkan beberapa di antaranya termasuk koleksi yang langka. Sungguh beliau sangat beruntung memilikinya. Selanjutnya setelah selesai melihat bebatuan, perserta diajak untuk berkunjung ke samping dan belakang rumah untuk melihat-lihat koleksi bonsai milik Sulis Ninja yang mayoritas adalah bonsai Santigi yang sangat indah dan dramatis. Bagi admin, beliau memang layak dan pantas jika disebut sebagai seorang Maestro Bonsai Indonesia. Jika beliau menginginkan sekedar populer atau ngetop seantero dunia maka dengan memanfaatkan teknologi informasi saat ini yang sudah maju tentu hal itu sangat mudah. Jika masyarakat dunia tahu koleksi Santigi dari Sulis Ninja tentunya beliau akan segera menjadi the most wanted bonsai artist and collector, especially Santigi Bonsai.

Selain bonsai Santigi, Sulis Ninja juga membuat bonsai Wahong Laut, Cemara udang, Chinnensis dan lain sebagainya. Namun dari sekian jenis bahan bonsai tersebut, menurut pengamatan admin ternyata Sulis Ninja paling piawai membuat bonsai Santigi.


Selasa, 27 Oktober 2009

Lintas Batas silaturahim ke Surabaya

"Lintas Batas" disambut di FKSB Surabaya



"Lintas Batas di kebun FKSB Surabaya"



Pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 24-25 Oktober 2009 Forum Komunikasi "Lintas Batas" melaksanakan silaturahim dan study tour ke Surabaya dan Sidoarjo. Rombongan berangkat dari Jogjakarta Jumat malam dan tiba di Surabaya Sabtu pagi menjelang subuh. Di bilangan Waru, Surabaya rombongan dijemput oleh penggagas Forum Komunikasi Seni Bonsai Surabaya, Wahyudi D. Sutomo. Selanjutnya rombongan beristirahat sejenak di hotel di kawasan Sidosermo.

Pada Sabtu siang, rangkaian kegiatan diawali dengan penerimaan rombongan oleh FKSB Surabaya yang dihadiri oleh anggota komunitas bonsai Surabaya-Sidoarjo. Selanjutnya setelah sejenak beramah tamah diteruskan dengan performance seniman-seniman bonsai dari "Lintas Batas" menggunakan bahan-bahan bonsai yang tersedia di kebun FKSB Surabaya. Performance dilakukan oleh Aan Arif "Lintas Batas", Roni "Lintas Batas" dan Tanto "Lintas Batas".

Pada kesempatan itu dipilih bahan-bahan bonsai dari wahong laut yang kondisinya paling minim jika dibandingkan dengan seluruh bahan bonsai yang ada di kebun tersebut. Seniman "Lintas Batas" memang sengaja mengambil alternatif tersebut karena performance tersebut ditujukan untuk memberi wawasan dan nuansa baru dalam memandang seni bonsai sehingga menjadi wacana yang baru bagi dunia seni bonsai khususnya di tanah air tercinta ini. Jika bahan yang diolah adalah bahan yang sudah bagus tentunya tidak sulit untuk meningkatkannya menjadi lebih bagus, tetapi jika bahan yang diolah itu kondisinya minim maka jika dioleh menjadi bonsai yang jauh lebih bagus maka akan ada nilai tambah yang besar pada proses pengolahan bahan bonsai tersebut. Hal-hal seperti ini yang selalu ditanamkan di Forum Komunikasi "Lintas Batas" yaitu bagaimana menciptakan nilai tambah/value added sehingga setiap bahan bonsai akan mempunyai keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif.

Pada awal performance, seperti biasa bahwa audience kurang tertarik karena memang seniman-seniman "Lintas Batas" relatif "baru" dan kurang populer di dunia perbonsaian nasional. Namun kondisi seperti itu sudah biasa dialami oleh mereka sehingga tanpa terpengaruh tetap fokus menganalisa kondisi bahan bonsai (melakukan content analysis) untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan cara mengolah bahan bonsai tersebut. Setelah muncul ide yang paling brilliant maka selanjutnya bahan bonsai dieksekusi dengan segera. Di tengah-tengah performance seluruh audience terdiam semua dan fokus memperhatikan kesigapan para seniman bonsai yang sedang mencurahkan segenap kemampuan dalam merespon bahan bonsai tersebut.

Singkatnya ketiga bahan bonsai tersebut kini menjadi dasaran bonsai yang baru yang memiliki nilai seni yang tinggi yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh pemilik atau audience. Selanjutnya para seniman menjelaskan segenap proses yang telah dilaksanakan serta konsep bonsai seperti apa yang kini disuguhkan kepada audience. Dari beberapa yang hadir sempat terlontar ucapan bahwa kemampuan para seniman "Lintas Batas" di atas rata-rata seniman bonsai yang lain karena pemahaman tentang seni bonsainya jauh di atas tahap maju tetapi lebih ke arah tahap kreatif eksploratif, bonsai yang ditawarkan benar-benar wacana baru yang melambangkan ciri khas bonsai Indonesia.

Ungkapan-ungkapan di atas tentunya tidak lepas dari kreativitas yang telah ditunjukkan, penggunaan material sederhana untuk membangun kesatuan antara pohon dan tempat tumbuhnya, konsep keseluruhan yang ditampilkan dari bonsai yang dibentuk. Untuk gambaran bagaimana performance-nya, hasil bonsainya bagaimana dan fakta sebenarnya seperti apa jika penasaran tanya aja ke FKSB Surabaya atau Wahyudi D. Sutomo. Foto-fotonya nyusul aja yach!

Pada sore harinya dilanjutkan dengan kunjungan "Lintas Batas" ke kebun bonsai milik Husni Bahasuan di Surabaya. Pada acara ini "Lintas Batas" berkesempatan untuk melihat-lihat koleksi Pak Husni yang buanyak sekali. Beberapa tanaman langka dan impor juga ditunjukkan pada acara tersebut. Sungguh pengalaman yang berharga karena menambah wawasan dan semakin meningkatkan rasa persahabatan.

Selepas Maghrib, "Lintas Batas" diajak oleh Wahyudi D. Sutomo dan Sulistyo "Ninja" Soejoso untuk berwisata kuliner di kawasan-kawasan Surabaya sambil ngobrol tentang dunia seni bonsai dan seni rupa lainnya. Pada malam hari itu juga sempat dibawa ke salah satu galeri lukisan yang sering mengadakan pameran lukisan.


Salam bonsai kreatif.


Jumat, 16 Oktober 2009

Menjadi Jauh Lebih Bernilai, Bijaksana & Bermanfaat



4 Pribadi, dapat beda: karakter, cara pandang,
persepsi dan pendapat. Inilah indahnya keragaman.


Salam persahabatan dalam harmony keragaman,

Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Tujuan hobi adalah untuk memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan. Terdapat berbagai macam jenis hobi seperti mengumpulkan perangko dan barang antik, melakukan olah raga, memancing, membaca dan juga beraktivitas di seni bonsai.
Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/Ketulusan Jiwa". Penulis memaknainya dengan keberangkatan orang/seniman saat akan membuat karya seni, namun menurut kajian ilmu di Eropa mengatakan "ART" (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang atau karya dari sebuah kegiatan. Namun kita tidak usah mempersoalkan makna ini, karena kenyataannya kalau kita memperdebatkan makna yang seperti ini maka tidak akan berakhir, biarlah orang memilih terserah mereka. Secara pribadi penulis cenderung pada pemahaman seni dalam arti jiwa yang luhur/ketulusan jiwa.

Sahabat bonsai yang kreatif,

Kita semua ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menjadi makhluk sosial di samping menjadi makhluk individual. Dalam keseharian, kita bergaul dengan orang lain dalam ikatan komunitas dan masyarakat. Dalam pergaulan tersebut sering terjadi konflik-konflik/pertentangan dengan orang lain, termasuk juga dalam tata pergaulan di dunia seni bonsai.
Sering kali kita dengar atau melihat terjadi konflik antara penggemar bonsai dengan penggemar bonsai yang lainnya. Hal itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang mendasar sebagai berikut: pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda (beragam, bukan seragam) satu dengan yang lainnya, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan pendapat dan egonya sendiri dalam rangka menunjukkan keberadaan/eksistensinya.
Persepsi seseorang terhadap suatu hasil karya seni bonsai dan atau terhadap orang lain sangat mungkin menimbulkan konflik dalam pergaulan sehari-hari. Perbedaan persepsi orang tentang suatu hasil karya seni bonsai atau hal lain terjadi karena keragaman kualitas seseorang/pemersepsi, karakter benda/orang yang dipersepsi serta suasana yang terbangun pada kesempatan itu.

Sahabat bonsai yang kreatif,

Konflik-konflik destruktif yang terkadang mewarnai pergaulan kita dalam masyarakat seni bonsai sungguh patut disayangkan karena hal-hal tersebut sangat tidak menguntungkan bagi kita semua. Akan jauh lebih baik jika kita mengingat kembali kepada pemahaman tentang seni yang mengarah pada keluhuran/ketulusan jiwa kita yang menggeluti seni bonsai. Seni bonsai sepantasnya dinikmati sebagai hobi yang merupakan kegiatan rekreasi yang menyenangkan dan menenangkan jiwa kita semua.
Diawali dari hobi dalam seni bonsai hendaknya kita memiliki sikap tenggang rasa terhadap sahabat bonsai yang lain, mau dan mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Tidak semua perbedaan yang timbul dalam tata pergaulan masyarakat seni bonsai harus dibuat menjadi sama/seragam karena keragaman adalah suatu rahmat yang indah. Namun demikian perbedaan yang sering muncul bukan tabu untuk dijadikan diskusi yang sehat, karena dengan diskusi maka akan muncul ide-ide kreatif dan inovasi-inovasi dalam seni bonsai. Perbedaan yang muncul dalam diskusi seni bonsai akan mampu mengembangkan, membesarkan dan memajukan dunia seni bonsai itu sendiri. Tanpa adanya perbedaan dan perubahan maka dunia seni bonsai Indonesia akan diam tidak berkembang.
Kritik terhadap suatu hasil karya seni bonsai atau terhadap seseorang jika disampaikan dengan cara-cara yang santun dan disikapi dengan santun pula maka tidak akan menjadi konflik yang merusak. Cara-cara yang santun dalam mengkritik dan menjawab kritik akan mampu mengurangi tekanan dan meredam suasana yang hati panas. Kesantunan selaras dengan tujuan seni bonsai yaitu membentuk jiwa yang luhur. Kritik seseorang terhadap orang lain atau diri kita harus dipahami sebagai tanda cinta, kepedulian orang lain terhadap yang dikritik.
Apabila kesantunan dalam bergaul di masyarakat seni bonsai telah terwujud secara konsisten maka akan muncul persahabatan dan persaudaraan yang hakiki. Sesama pebonsai adalah sahabat, saudara yang harus dihargai, dihormati, disayangi dan dilindungi ketika mengalami kesulitan/kesusahan. Idealnya para sahabat bonsai mampu menyebarkan kebaikan-kebaikan bagi sahabat bonsai yang lainnya. Sesungguhnya setiap sahabat bonsai akan memiliki kemuliaan yang sejati ketika sahabat bonsai sekalian mampu memberikan manfaat bagi orang-orang dan lingkungan sekitar kita.

Sahabat bonsai yang kreatif,

Sebagai penggemar bonsai yang memiliki keluhuran jiwa, sahabat bonsai sekalian tentunya mampu membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan Yang Maha Sempurna melalui alam dan tanaman yang kita jadikan bonsai. Pebonsai yang berjiwa kreatif dan luhur memiliki kepekaan membaca fenomena alam, mampu menyerap keindahan yang telah diciptakan Tuhan pada bahan-bahan bonsai.
Sahabat bonsai sekalian sungguh sangat beruntung hidup di alam Indonesia yang kaya raya akan jenis tumbuhan, memiliki pemandangan alam yang indah, memiliki beragam habitat hidup tanaman. Kekayaan alam Indonesia seperti di atas jika mendapat sentuhan kreatif dari jiwa-jiwa yang luhur sahabat bonsai serta kehendak Tuhan maka niscaya akan menjadi hasil-hasil karya seni bonsai yang bermutu tinggi yang mencerminkan identitas bonsai Indonesia.
Penulis sungguh sangat yakin bahwa sahabat bonsai yang kreatif dan berbudi luhur akan mampu mengolah bahan-bahan bonsai yang secara alami sudah indah sehingga menjadi bonsai yang bermutu tinggi. Harapannya adalah para sahabat bonsai mampu meningkatkan nilai dari bahan-bahan bonsai asli alam Indonesia. Peningkatan nilai ini secara sederhana dapat dipahami dari pilihan seperti ini ” sebatang pohon yang tumbuh di alam hendak dijadikan seikat kayu bakar atau hendak dijadikan sebuah maha karya seni bonsai yang bermutu tinggi?” Semua itu adalah salah satu contoh pilihan yang penulis yakin bahwa para sahabat bonsai tentu akan lebih memilih untuk membentuk pohon itu menjadi sebuah bonsai indah yang bermutu tinggi.
Pada kesempatan ini penulis menaruh harapan kepada para sahabat bonsai Indonesia untuk memiliki kepekaan rasa dalam melihat bahan-bahan bonsai dan alam Indonesia serta mau berupaya untuk meningkatkan nilainya sehingga mampu membawa manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Majulah Bonsai Indonesia, Salam persahabatan dalam harmony keragaman.


Senin, 28 September 2009

Terus Belajar, Diskusi dan Berlatih

Maestro Wahyudi D. Sutomo mengajarkan
cara membuat Bonsai Asimetris yang indah.

Maestro Wahyudi D. Sutomo menganalisa
hasil karya Lintang "Lintas Batas"



Lintas Batas sebagai suatu wahana yang selama ini dikelola oleh admin menerapkan prinsip terus belajar (iqra'), berdiskusi dan berlatih dalam segala hal untuk memperbaiki kualitas diri hingga pantas untuk mendapatkan kesuksesan dan kemuliaan. Salah satu minat Lintas Batas adalah mengembangkan dunia seni bonsai di tanah air. Melalui dunia seni bonsai, insya Allah akan menjadi jalan untuk mendapat kemanfaatan yang besar.
Bagi admin dan seniman/seniwati Lintas Batas, belajar diartikan sebagai proses membaca secara luas dari literatur-literatur seni bonsai yang ada, gambar/foto bonsai dari para seniman yang lain serta membaca hamparan alam semesta yang sejatinya adalah madrasah yang tidak pernah habis untuk digali ilmunya. Membaca (iqra') akan menambah wawasan, akan memberikan tambahan pemahaman.
Berdiskusi selalu dilakukan dengan semua orang yang mau. Di Lintas Batas diskusi dilakukan secara santun, yaitu berbicara dan mendengar silih berganti. Semua orang menempatkan diri sebagai pemula yang hendak memperoleh ilmu dari rekan diskusi. Semua saling menghormati dan mampu menahan diri. Kami menyadari bahwa dunia dan manusia diciptakan Allah berbeda satu dengan yang lain sehingga harus dihargai. Kami memandang bahwa perbedaan yang ada di antara kami adalah suatu anugerah yang indah yang membuat kami menjadi jauh lebih baik dan kuat. Kebiasaan melakukan diskusi akan menjadikan komunitas Lintas Batas menjadi semakin arif dan terbiasa berinteraksi dengan orang lain dengan baik.
Budaya berlatih membuat bonsai (membentuk, mempertahankan, mengubah gaya hingga menciptakan bonsai baru dengan bahan baku bonsai lama/transformasi) akan membuat kami menjadi terampil hingga akhirnya mencapai tahap mahir dalam membuat bonsai. Kami percaya bahwa kemahiran hanya dapat dicapai dengan latihan yang konsisten (teratur, terstruktur dan terukur).
Lintas Batas merasa sangat beruntung karena selama ini banyak seniman-seniman bonsai dan pihak lain yang berkaitan dengan bonsai memberikan perhatian pada upaya-upaya kami menuju kebaikan. Maestro Bonsai Indonesia seperti Wahyudi D. Sutomo dari Forum Komunikasi Bonsai Sidoarjo mau meluangkan waktu bertandang ke Lintas Batas untuk berbagi ilmu dan pengalaman bagi kami. Dalam beberapa kesempatan, Beliau mengajarkan dan membimbing seniman & seniwati Lintas Batas. Secara pribadi Wahyudi D. Sutomo memberikan apresiasi yang positif atas upaya-upaya Lintas Batas untuk mengembangkan dunia seni bonsai di tanah air. Semoga saja Allah meridhoi upaya-upaya Lintas Batas, memberikan petunjuk dan pertolongan-Nya hingga kita semua dapat memajukan Bonsai Indonesia.
Bonsai Indonesia . . . . . .Jaya!
Bonsai Indonesia . . . . . .Jaya!
Bonsai Indonesia . . . . . .Jaya!

Cute Bonsai Trainer



Beberapa tahun terakhir ini perkembangan seni bonsai di tanah air menurut pengamatan admin sangat menggembirakan. Para penggemar bonsai, seniman bonsai, kolektor, pedagang, klub/paguyuban, para pengurus organisasi perbonsaian dan berbagai pihak lainya cukup intensif mengolah dan menampilkan kembali bonsai-bonsainya. Gejala dinamisnya terlihat dari berbagai acara pameran dan kontes bonsai yang marak digelar di berbagai wilayah di Indonesia dari yang tingkatan regional hingga internasional seperti Aspac di Bali beberapa tahun yang lalu. Kondisi ini sungguh sangat menggembirakan.

Para seniman, maestro dan pengurus giat untuk kembali mengangkat bonsai Indonesia hingga pencapaian yang membanggakan dalam taraf internasional. Admin menduga bahwa seniman, maestro dan pengurus perkumpulan bonsai sedang berusaha untuk menemukan, mewujudkan suatu “identitas bonsai Indonesia”. Admin yakin bahwa para pihak yang concern terhadap bonsai nasional menginginkan agar bonsai Indonesia memiliki ciri khas ke-Indonesia-an sehingga bonsai di tanah air yang konon katanya berasal muasal dari luar negeri dapat diasimilasikan dengan budaya dan kekayaan hayati Indonesia yang sungguh sangat mengagumkan.

Sepengetahuan admin, selama ini dalam dunia seni bonsai di tanah air keterlibatan kaum perempuan sangat terbatas. Para perempuan yang berkecimpung di dunia seni bonsai tanah air sebatas pada menyenangi atau mengoleksi berbagai bonsai saja, sedangkan pembuat/seniwati/trainer bonsai perempuan sepertinya belum ada. Fenomena ini sangat menarik bagi admin untuk mengkajinya dan berupaya untuk memberikan alternatif pilihan konsep cara pandang terhadap seniwati bonsai.

Hobi dalam seni bonsai menurut beberapa orang maestro seni bonsai di Indonesia merupakan bagian dalam ranah seni rupa. Berbicara mengenai ranah seni rupa, biasanya makhluk yang namanya perempuan memiliki sensitivitas rasa seni yang tinggi sehingga sering kita temui hasil-hasil karya seni para seniwati memiliki kualitas yang tinggi. Hasil karya seni dari seniwati biasanya penjiwaannya lebih terasa menyentuh para penikmatnya. Feminisme perempuan biasanya juga akan terekspresi pada benda-benda di sekitarnya termasuk juga jika menyukai bonsai maka kesan feminim akan tampak.

Setelah sekian waktu berinteraksi dengan para pebonsai, beberapa waktu yang lalu admin beruntung berkenalan dengan seorang pebonsai perempuan yang mempunyai minat membuat bonsai bukan sekedar membeli atau menikmati bonsai saja. Pada akhirnya seniwati bonsai ini mau bergabung dengan admin dalam suatu wahana ”Lintas Batas” untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan belajar tentang bonsai dan kehidupan.

Saat ini secara rutin setiap Hari Minggu, seniwati bonsai ini bersama dengan seniman bonsai yang lain bertemu di ”Lintas Batas” untuk sekedar berdiskusi, belajar dan meningkatkan keterampilan pembuatan bonsai. Semoga aktivitas yang produktif ini kelak bermanfaat bagi semua pihak. Eh, hampir kelupaan nama seniwati bonsai ini ”Lintang Lintas Batas”. Ada yang menemukan seniwati bonsai yang lainnya?

Senin, 31 Agustus 2009

Buka Puasa Bersama di 'Bonsai Lintas Batas'



Pada Hari Minggu tanggal 23 Agustus 2009 bertempat di halaman belakang rumah wisnujakas yang terletak di Jogja Selatan, Komunitas Bonsai Lintas Batas telah menyelenggarakan acara silaturahim dan buka puasa bersama antara penggemar bonsai yang ada di Jogja dan sekitarnya. Hadir dalam acara tersebut lebih kurang dua puluh lima orang pebonsai yang berasal dari berbagai lintas komunitas bonsai yang ada di Jogja seperti Komunitas Grogolan, Komunitas Prambanan, Komunitas Wonosari, Komunitas Sradakan, Komunitas Wates, Komunitas Sleman Barat dan PPBI Cabang Yogyakarta.

Event buka bersama dan dialog bonsai yang difasilitasi forum komunikasi bonsai lintas batas ternyata dihadiri oleh lebih dari 25 orang dari berbagai komunitas bonsai di Jogja. Sungguh indah hikmah dari acara sore hari tersebut. Bagaimana tidak? Selama ini penggemar bonsai di berbagai daerah cenderung memiliki sikap indiviualisme yang tinggi sehingga sulit untuk berkumpul dalam jumlah banyak untuk bersilaturahim. Kebersamaan yang terjalin sore itu oleh admin dimaknai bahwa para penggemar bonsai yang tersebar di beberapa komunitas yang ada di Jogja memiliki sikap tenggang rasa yang tinggi, memiliki semangat kebersamaan yang patut dibanggakan. Admin merasa bahwa kehadiran bonsai mania sore itu dikarenakan semangat kebersamaan untuk memajukan dunia bonsai di tanah air Indonesia tercinta.

Dalam acara silaturahim dan buka puasa bersama tersebut juga dibahas tentang rencana akan digelar pameran bonsai nasional tingkat madya di Yogyakarta yang sedianya akan diselenggarakan pada tanggal 01-11 Oktober 2009 di Kompleks Kampus Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Yogyakarta, Jl. Kusumanegara Yogyakarta. Direncanakan untuk rangkaian pameran nasional bonsai mengambil tema “the power of harmony”. Adapun kegiatan yang akan diselenggaran selama pameran meliputi bursa bonsai dan produk pertanian, pelatihan juri bonsai, pengenalan budidaya bonsai kepada masyarakat, talk show di TVRI, kontes keterampilan trainer, serta gerakan penghijauan di sekitar Kota Yogyakarta.

Acara silaturahim berlangsung hingga malam hari diisi dengan kegiatan dialog dan sambung rasa. Selama acara berlangsung suasana yang terbangun sungguh sangat indah, masing-masing hadirin saling memberikan apresiasi yang positif dan menghargai pendapat yang disampaikan oleh yang lain. Jika terjadi perbedaan pendapat atau cara pandang pun suasana tidak berkembang menjadi perdebatan yang tanpa terkontrol tetapi sebaliknya perbedaan yang ada tetap dihormati dan tidak perlu pendapat tersebut disatukan. Sungguh suatu proses pembelajaran toleransi yang patut diacungi jempol. Harapan Admin semoga acara dan suasana dialog yang kondusif dan konstruktif seperti ini semakin terbangun dan menyebar ke seluruh Indonesia sehingga Bangsa Indonesia semakin besar dengan segala kekayaannya.

Bonsai Indonesia . . . . . . Jaya!

Bonsai Indonesia . . . . . . Jaya!

Bonsai Indonesia . . . . . . Jaya!

Salam persahatan dalam harmony.

Kamis, 04 Juni 2009

Silaturahim Komunitas Bonsai di Jogja


Komunitas Bonsai Jogja & Sekitarnya

Sulisyanto "Ninja" Soeyoso menganalisa

Trainer Ismak Risandi berkarya

Wahyudi D. Sutomo memberi tanggapan

Hasil kerja sama para maestro & trainer

Komunitas penggemar bonsai di area Jogja dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu (Jumat, 22 Mei 2009) menggelar acara silaturahim dan sambung rasa di halaman belakang rumah Wisnu Jakas yang terletak di Ringroad Selatan No. 49, Tambak Tamanan Banguntapan Bantul Yka. Acara yang digelar malam hari itu dihadiri lebih dari 60 orang yang berlatar belakang dari mulai sekedar penggemar, kolektor, programmer, trainer, pedagang, broker, pendongkel hingga pembuat pot bonsai. Mereka berasal dari Komunitas PPBI, Komunitas Grogolan, Komunitas Ringinsari, Komunitas Klaten, Komunitas Gunungkidul, Komunitas Srandakan, Komunitas Giwangan dan lainnya. Keanekaragaman dari yang hadir ini dapat ditafsirkan oleh Admin bahwa bonsai dapat masuk dan diterima oleh berbagai kalangan di masyarakat.

Dari jumlah yang hadir dalam acara silaturahim dan sambung rasa bonsai tersebut, Admin menilai bahwa jumlah tersebut cukup besar serta ramai untuk suatu acara yang digelar secara mendadak dan undangan hanya by phone dan gethok tular dari mulut ke mulut. Kehadiran para penggemar bonsai pada acara tersebut (menurut Admin) dapat diartikan sebagai jawaban atas keinginan dan kebutuan akan kegiatan silaturahim penggemar bonsai di Jogja dan sekitarnya. Selama ini komunitas bonsai di Jogja dan sekitarnya sangat jarang untuk menggelar acara bersama, kumpul-kumpul sekedar untuk bersilaturahim dan diskusi tentang bonsai. Salah satu daya tarik yang ditawarkan oleh Admin pada waktu itu adalah sekedar kumpul-kumpul untuk menikmati masakan rica-rica menthog/itik sambil ngobrol ke sana ke mari tentang bonsai. Selain itu magnet lain yang ditawarkan dalam rencana acara tersebut adalah akan hadir master-master dan trainer bonsai dari Jawa Timur.

Dua isu utama yang ditawarkan dalam undangan lisan untuk acara silaturahim dan sambung rasa komunitas bonsai tersebut sengaja diangkat oleh Admin karena beberapa alasan. Yang pertama, isu silaturahim dan sambung rasa dilatarbelakangi oleh keprihatinan beberapa pihak atas keadaan perbonsaian di Jogja. Selama ini Jogja dikenal sebagai kota pendidikan, kota seni dan budaya. Di Jogja seni bonsai telah hidup cukup lama bahkan beberapa kali Kota Jogja dipercaya untuk menyelenggarakan event nasional pameran bonsai beberapa tahun yang lalu. Kehadiran lebih dari 60 orang dalam acara tersebut menunjukkan bahwa di Jogja dan sekitarnya terdapat sejumlah besar penggemar seni bonsai. Namun, selama beberapa waktu terakhir ini, aktivitas dan hasil karya bonsai dari Jogja kurang begitu terdengar dan menggigit di kancah perbonsaian nasional apalagi internasional. Oleh karena itu beberapa pihak dan Admin menggagas untuk dengan cepat memfasilitasi kegiatan silaturahim dan sambung rasa komunitas bonsai di Jogja dan sekitarnya.

Yang kedua, harus diakui bahwa beberapa waktu terakhir ini perbonsaian di Jogja kurang bergairah dan cenderung monoton berkiblat pada bahan, posisi dan gaya yang itu-itu saja padahal di Jogja kaya akan bahan-bahan bonsai yang bagus, banyak orang yang kreatif. Oleh karena itu perlu diberikan sedikit rangsangan dan kejutan agar segera tersadar, bangun dan berbuat nyata dan menciptakan prestasi-prestasi hebat di bidang perbonsaian. Rangsangan dan kejutan yang diusung oleh beberapa pihak dan Admin adalah mengahadirkan master-master dan trainer-trainer bonsai yang saat ini hasil karya dan ide-idenya sedang mewarnai dunia perbonsaian di Indonesia dan internasional. Master bonsai yang diminta untuk membantu memotivasi komunitas bonsai Jogja dan sekitarnya adalah Wahyudi D. Sutomo (Forum Komunikasi Bonsai Sidoarjo) dan Sulistyanto “Ninja” Soejoso (Imagine Bonsai Club & Samandiman Bonsai Club). Sedangkan trainer dari Jatim yang diminta untuk hadir memberikan motivasi adalah Ismak Risandi (Prigen Pasuruan) dan Saiful (Sidoarjo).

Acara yang digelar secara lesehan dikemas dalam suasana santai penuh keakraban dan kekeluargaan. Pukul 20.00 WIB, acara diawali dengan sesi sambung rasa antar pebonsai Jogja dan sekitarnya. Dalam sesi ini muncul butir-butir ide dan keinginan dari para pebonsai untuk menyelenggarakan acara serupa secara terjadual dan berkelanjutan. Selain itu diharapkan agar ada tindak lanjut dari acara malam itu berupa tukar kawruh/saling asah asih & asuh perihal seni bonsai sehingga pengetahuan dan ketrampilan semua pihak tentang seni bonsai semakin meningkat. Yang hadir sepakat untuk lebih memajukan dunia seni bonsai di Jogja dan sekitarnya dalam tahap awal.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sharing pengetahuan dan pengalaman dari Wahyudi D. Sutoma dan Sulis Ninja. Di sela-sela acara, beberapa yang hadir bertanya kepada penyaji dan sekali tempo penyaji melempar pertanyaan/fenomena yang actual yang membutuhkan perenungan serta pendapat dari yang hadir. Sesi ini berjalan hidup, mengalir dua arah baik dari penyaji maupun yang hadir. Pada kesempatan ini Wahyudi D. Sutomo menyampaikan tentang bonsai yang baik sedangkan Sulis Ninja lebih dominant memberi motivasi dan membuka wawasan kreativitas dari para pebonsai.

Ketika acara berjalan semakin hangat dan menarik, mayoritas yang hadir minta agar para master dan trainer membedah bahan bonsai yang ada untuk dijadikan bonsai yang baik dan memberikan karakter yang khas. Setelah observasi sebentar atas bahan-bahan bonsai yang ada selanjutnya pilihan dijatuhkan pada sebuah bahan santigi raft sepanjang 120 cm dan tinggi 60 cm. Bahan bonsai santigi tersebut berasal dari akar yang tumbuh memanjang tidak diketahui ujung dan pangkalnya. Cabang cabang yang tumbuh beserta ranting membentuk imajinasi sebuah perahu layer yang sering digunakan nelayan-nelayan Indonesia.

Setelah berembug sebentar disepakati bahwa yang akan menggarap bahan bonsai santigi tersebut adalah Sulis Ninja, Ismak dan Saiful sedangkan Wahyudi D. Sutomo yang akan memberikan tanggapan atas bonsai yang telah dibentuk ulang tersebut. Sebelum membedah, Sulis Ninja memberikan analisis atas bahan bonsai tentang kelebihan dan kekurangan serta perspektif ke depan bentuk bonsai baru yang akan dibangun. Selanjutnya setiap tindakan atas bahan bonsai tersebut disampaikan kepada yang hadir mengapa dilakukan tindakan tersebut dan sekali-kali bertanya kepada yang hadir dan pemilik bonsai tentang pendapat mereka atas bonsai tersebut. Sulis Ninja berhasil membangun training bonsai secara interaktif antara trainer, penonton & pemilik bonsai.

Pada bagian akhir bedah bonsai, Wahyudi D. Sutomo memberi komentar atas bahan bonsai yang kini menjadi bonsai baru. Wahyudi mengungkapkan bahwa bahan bonsai santigi tersebut bahan dasarnya sangat bagus, masih diperlukan beberapa tahun lagi agar menjadi bonsai dewasa. Selanjutnya Wahyudi menyarankan agar dilakukan sedikit reposisi diangkat dan ditegakkan sedikit ke arah yang melihat. Untuk pot, Wahyudi juga menyarankan agar direpotting dengan pot yang lebih tipis sedikit. Bonsai akan tampil lebih optimal jika kelak perantingannya dibuat lebih ramping masuk ke dalam. Harapan dari Tim pembedah bonsai yang baru saja dibedah tersebut kelak menjadi salah satu masterpiece bonsai Indonesia. Semoga saja.

Seluruh rangkaian acara silaturahmi dan sambung rasa komunitas bonsai area Jogja dan sekitarnya selesai pada pukul 01.00 WIB. Menurut pengamatan Admin seluruh yang hadir cukup puas dengan acara yang telah digelar. Harapannya adalah ada hal-hal positif yang dapat dipetik dari kegiatan ini dan ide-ide atau wawasan baru yang diperoleh semoga menjadi pemicu serta katalis bagi perkembangan kreativitas komunitas bonsai sehingga dapat menghantarkan bonsai Indonesia menjadi bonsai yang dipanang dan dihargai di negara sendiri dan dunia internasional.




Kamis, 28 Mei 2009

Penerapan Strategi Perang Sebelum Kontes Bonsai
















Kimeng (ficus mycrocarpa) on the rock

Pendapat banyak orang pandai menyatakan bahwa manusia/seseorang melakukan suatu perbuatan karena didasari oleh adanya motivasi tertentu. Menurut Abraham Maslow motivasi tertinggi dari seseorang ketika melakukan suatu perbuatan adalah karena adanya kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri merupakan suatu upaya untuk membuktikan pada diri sendiri dan atau pada orang lain tentang kemampuan dan keadaan yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Namun secara umum aktualisasi diri lebih ditujukan kepada orang lain sehingga timbul pengakuan dari orang lain yang pada muara akhirnya menghasilkan kepuasan batin.

Dari pengalaman dan literatur yang pernah diketahui, penulis berpendapat bahwa mayoritas orang cenderung bersifat sosio-egosentris. Mayoritas orang ingin bersosialisasi guna memuaskan kebutuhan batinnya yaitu diakui, dipandang, dihargai, dianggap memiliki sesuatu yang lebih oleh orang lain. Inilah ego manusia. Setiap pribadi memiliki cara tersendiri untuk mengaktualisasikan diri, salah satunya adalah dengan membandingkan dirinya dengan orang lain yang secara umum dapat melalui mengikuti suatu kontes dan atau pameran guna menjadi pemenang atau setidak-tidaknya diakui oleh orang lain berani untuk berkompetisi, tampil bersanding dengan yang lain.

Berbagai macam kontes dan pameran diselenggarakan guna memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, salah satunya adalah kontes dan pameran bonsai. Kontes dan pameran bonsai selama ini merupakan event yang istimewa dan ekslusif. Bagaimana tidak, bagi penulis bonsai adalah suatu seni yang memiliki kelas tersendiri. Bonsai adalah gabungan antara seni yang tinggi, perwujudan pribadi yang matang dari trainer dan pemiliknya, wujud dari pemahaman ilmu botani yang tinggi, membutuhkan pembiayaan & keterampilan “yang khusus”, singkatnya tidak setiap orang dapat berkecimpung di dunia bonsai, hanya orang-orang istimewa yang mampu eksis berkesinambungan di dunia bonsai.

Dalam kontes dan pameran bonsai tentunya peserta memilki harapan-harapan tersendiri yang ingin diraih seperti keluar sebagai pemenang, dikenal orang, dihargai, dipuji, ingin bersosialisasi atau setidak-tidaknya ingin mengukur kemampuannya serta mengetahui apresiasi orang lain atas hasil karyanya di bidang bonsai. Melihat pentingnya tujuan yang hendak diraih dalam setiap event kontes dan pameran bonsai maka hendaknya setiap peserta mempersiapkan segala sesuatunya agar hal-hal yang menjadi tujuannya dapat tercapai sehingga mendapatkan kepuasan batin secara maksimal.

Penulis memandang bahwa kontes dan atau pameran bonsai ibarat suatu peperangan. Untuk memasuki suatu peperangan maka dibutuhkan suatu strategi perang yang handal sehingga mampu keluar sebagai pemenang bukan sebagai korban perang. Berkaitan dengan strategi perang, seorang Sun Tsu menyatakan bahwa barang siapa mengetahui segala hal tentang musuh, mengetahui kondisi diri sendiri dan mengetahui kondisi angin, cuaca dan alam sekitarnya maka kemenangan ada pada dirinya. Inilah teori strategi perang kuno yang menjadi dasar teori intelijen yang banyak dipakai oleh militer, perusahaan bisnis dan lainnya.

Segala hal tentang musuh dapat diartikan sebagai segala informasi yang berkaitan dengan bonsai-bonsai pesaing, dewan juri yang akan melakukan penilaian, pengunjung yang akan melihat dan memberikan apresiasi atas bonsai yang dikonteskan/dipamerkan. Pihak-pihak di atas dapat memberi informasi tentang kualitas bonsai pesaing; kemampuan pemahaman & penilaian dari juri serta kecenderungan selera juri terhadap kualitas bonsai; kemampuan pengunjung dalam menangkap pesan dari bonsai yang kita tampilkan.

Kondisi diri sendiri dapat diartikan sebagai hasil inovasi atas bonsai kita yang didasarkan pada analisis kekurangan dan kelebihan dasar bonsai yang selanjutnya digabungkan dengan imajinasi serta keterampilan menampilkan sisi keunggulan bonsai serta menghilangkan kelemahan bonsai menggunakan materiil/benda lain seperti pot, batu, tanah, lumut & penataan posisi bonsai.

Kondisi lingkungan seperti arah angin, cuaca, cahaya & habitat/alam sekitar dapat diartikan sebagai imajinasi tema dari bonsai yang ditampilkan, seperti bonsai yang tumbuh di lereng bukit karang di tepi pantai dengan posisi miring sedang tertiup angin yang selalu mendapat sinar matahari hanya dari satu sisi saja. Artis dan pemilik bonsai harus mampu menampilkan bonsainya seperti imajinasi tema tersebut sehingga setiap pengunjung yang melihat dapat dengan mudah menangkap pesan dari imajinasi tema tersebut dan terbawa dalam alam imajinasi yang dikomunikasikan oleh bonsai tersebut. Singkatnya, bonsai tersebut dapat berkomunikasi dengan orang yang melihat walaupun tidak dapat berbicara dan diberi naskah narasinya.

Beberapa hal di atas adalah rangkaian analisa untuk menentukan akan mengikuti kontes dan pameran bonsai atau tidak. Setelah menentukan akan mengikuti kontes dan atau pameran maka selanjutnya perlu dipersiapkan agar nantinya bonsai dapat tampil prima. Persiapan yang perlu dilakukan biasanya berkaitan dengan pot, lilitan kawat yang masih ada, tampilan umum pohon, transportasi serta iklim di tempat kontes/pameran.

Pot, bonsai merupakan gabungan antara pot/wadah/tempat tanam dan pohon yang merupakan satu kesatuan utuh. Pemilihan pot harus sesuai dengan karakter pohon dan tema yang hendak dikomunikasikan dari bonsai tersebut (kesesuaian pot, pohon & tema dibahas tersendiri). Dalam tulisan ini yang dibahas hanya masalah kebersihan pot saja. Pot bonsai harus dibersihkan dari kotoran yang menempel termasuk sticker penomoran bonsai. Setelah bersih dari kotoran, pot dapat disemir dengan semir netral atau diolesi pelumas yang sangat encer (seperti pelumas mesin jahit, pelumas dgn SAE 20) kemudian dilap dengan kain kaos hingga bersih, kering dan tidak mengkilap. Penting, pot juga dinilai dalam kontes bonsai!

Kawat yang melilit, sebaiknya bonsai yang akan kontes tidak menggunakan kawat lagi jadi jika sudah memungkinkan ranting yang semula masih ada lilitan kawatnya maka kawat tersebut dilepas dengan cara dipotong-potong atau dilepas lilitannya dengan hati-hati. Namun bila diduga masih diperlukan kawat lilitan untuk menimbulkan arah ranting yang pas maka gunakanlah kawat dengan warna yang serupa dengan warna batang/ranting dan besarnya juga ideal jadi tidak terlalu mencolok dan dapat mengurangi nilai bonsai.

Tampilan umum pohon, ketika akan kontes bersihkan batang, cabang hingga daun dari kotoran yang ada seperti bekas tanah, lumut & jamur yang menempel di batang, daun yang menguning/kering, debu dan kotoran lainnya. Potong daun-daun yang posisinya tidak pas dan ‘ngganjel’ tanpa meninggalkan bekas potongan sehingga kerangka pohon dapat terlihat, nampak dimensi dari pohon. Daun dipotong cuplik sehingga menimbulkan kesan ada letupan-letupan atau awan-awan kecil pada kanopi sesuai karakter perdaunan jenis pohon tersebut. Singkatnya bonsai harus tampil bersih, sehat, kelihatan matang/dewasa dan alami.

Transportasi, perlu dipikirkan cara untuk memindah bonsai dari tempat asalnya ke area kontes/pameran dengan aman bagi bonsai. Bonsai harus dipindah dengan hati-hati sehingga selama perjalanan tidak mengalami kerusakan atau menimbulkan stress pada bonsai yang dapat mengakibatkan kematian bonsai.

Iklim, kesesuaian antara iklim (suhu, kelembaban, curah sinar matahari, ketersediaan air untuk menyiram) di tempat asal dengan tempat kontes sangat penting untuk diperhatikan. Perbedaan iklim yang sangat besar akan menyulitkan bonsai untuk beradaptasi sehingga berpotensi menimbulkan turunnya kualitas bahkan kematian pada bonsai yang dikonteskan. Jika terjadi perbahan iklim yang signifikan maka perlu dilakukan upaya meminimalisasi perbedaan ini tergantung dari penyebab utama perbedaan iklim ini. Sebagai contoh, jika tempat kontes di atas aspal, conblock atau lantai cor yang cenderung lebih panas dari pada tempat asal yang berasal dari tanah atau di atas rumput maka perlu dilakukan penyiraman yang baik lebih sering dan jumlah airnya juga lebih banyak.

Demikianlah kira-kira persiapan yang dapat dilakukan untuk mengikuti kontes/pameran bonsai agar hasilnya sesuai dengan tujuan dan harapan yang diinginkan. Selamat mencoba, bravo bonsai Indonesia!