Kamis, 28 Mei 2009

Penerapan Strategi Perang Sebelum Kontes Bonsai
















Kimeng (ficus mycrocarpa) on the rock

Pendapat banyak orang pandai menyatakan bahwa manusia/seseorang melakukan suatu perbuatan karena didasari oleh adanya motivasi tertentu. Menurut Abraham Maslow motivasi tertinggi dari seseorang ketika melakukan suatu perbuatan adalah karena adanya kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri merupakan suatu upaya untuk membuktikan pada diri sendiri dan atau pada orang lain tentang kemampuan dan keadaan yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Namun secara umum aktualisasi diri lebih ditujukan kepada orang lain sehingga timbul pengakuan dari orang lain yang pada muara akhirnya menghasilkan kepuasan batin.

Dari pengalaman dan literatur yang pernah diketahui, penulis berpendapat bahwa mayoritas orang cenderung bersifat sosio-egosentris. Mayoritas orang ingin bersosialisasi guna memuaskan kebutuhan batinnya yaitu diakui, dipandang, dihargai, dianggap memiliki sesuatu yang lebih oleh orang lain. Inilah ego manusia. Setiap pribadi memiliki cara tersendiri untuk mengaktualisasikan diri, salah satunya adalah dengan membandingkan dirinya dengan orang lain yang secara umum dapat melalui mengikuti suatu kontes dan atau pameran guna menjadi pemenang atau setidak-tidaknya diakui oleh orang lain berani untuk berkompetisi, tampil bersanding dengan yang lain.

Berbagai macam kontes dan pameran diselenggarakan guna memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, salah satunya adalah kontes dan pameran bonsai. Kontes dan pameran bonsai selama ini merupakan event yang istimewa dan ekslusif. Bagaimana tidak, bagi penulis bonsai adalah suatu seni yang memiliki kelas tersendiri. Bonsai adalah gabungan antara seni yang tinggi, perwujudan pribadi yang matang dari trainer dan pemiliknya, wujud dari pemahaman ilmu botani yang tinggi, membutuhkan pembiayaan & keterampilan “yang khusus”, singkatnya tidak setiap orang dapat berkecimpung di dunia bonsai, hanya orang-orang istimewa yang mampu eksis berkesinambungan di dunia bonsai.

Dalam kontes dan pameran bonsai tentunya peserta memilki harapan-harapan tersendiri yang ingin diraih seperti keluar sebagai pemenang, dikenal orang, dihargai, dipuji, ingin bersosialisasi atau setidak-tidaknya ingin mengukur kemampuannya serta mengetahui apresiasi orang lain atas hasil karyanya di bidang bonsai. Melihat pentingnya tujuan yang hendak diraih dalam setiap event kontes dan pameran bonsai maka hendaknya setiap peserta mempersiapkan segala sesuatunya agar hal-hal yang menjadi tujuannya dapat tercapai sehingga mendapatkan kepuasan batin secara maksimal.

Penulis memandang bahwa kontes dan atau pameran bonsai ibarat suatu peperangan. Untuk memasuki suatu peperangan maka dibutuhkan suatu strategi perang yang handal sehingga mampu keluar sebagai pemenang bukan sebagai korban perang. Berkaitan dengan strategi perang, seorang Sun Tsu menyatakan bahwa barang siapa mengetahui segala hal tentang musuh, mengetahui kondisi diri sendiri dan mengetahui kondisi angin, cuaca dan alam sekitarnya maka kemenangan ada pada dirinya. Inilah teori strategi perang kuno yang menjadi dasar teori intelijen yang banyak dipakai oleh militer, perusahaan bisnis dan lainnya.

Segala hal tentang musuh dapat diartikan sebagai segala informasi yang berkaitan dengan bonsai-bonsai pesaing, dewan juri yang akan melakukan penilaian, pengunjung yang akan melihat dan memberikan apresiasi atas bonsai yang dikonteskan/dipamerkan. Pihak-pihak di atas dapat memberi informasi tentang kualitas bonsai pesaing; kemampuan pemahaman & penilaian dari juri serta kecenderungan selera juri terhadap kualitas bonsai; kemampuan pengunjung dalam menangkap pesan dari bonsai yang kita tampilkan.

Kondisi diri sendiri dapat diartikan sebagai hasil inovasi atas bonsai kita yang didasarkan pada analisis kekurangan dan kelebihan dasar bonsai yang selanjutnya digabungkan dengan imajinasi serta keterampilan menampilkan sisi keunggulan bonsai serta menghilangkan kelemahan bonsai menggunakan materiil/benda lain seperti pot, batu, tanah, lumut & penataan posisi bonsai.

Kondisi lingkungan seperti arah angin, cuaca, cahaya & habitat/alam sekitar dapat diartikan sebagai imajinasi tema dari bonsai yang ditampilkan, seperti bonsai yang tumbuh di lereng bukit karang di tepi pantai dengan posisi miring sedang tertiup angin yang selalu mendapat sinar matahari hanya dari satu sisi saja. Artis dan pemilik bonsai harus mampu menampilkan bonsainya seperti imajinasi tema tersebut sehingga setiap pengunjung yang melihat dapat dengan mudah menangkap pesan dari imajinasi tema tersebut dan terbawa dalam alam imajinasi yang dikomunikasikan oleh bonsai tersebut. Singkatnya, bonsai tersebut dapat berkomunikasi dengan orang yang melihat walaupun tidak dapat berbicara dan diberi naskah narasinya.

Beberapa hal di atas adalah rangkaian analisa untuk menentukan akan mengikuti kontes dan pameran bonsai atau tidak. Setelah menentukan akan mengikuti kontes dan atau pameran maka selanjutnya perlu dipersiapkan agar nantinya bonsai dapat tampil prima. Persiapan yang perlu dilakukan biasanya berkaitan dengan pot, lilitan kawat yang masih ada, tampilan umum pohon, transportasi serta iklim di tempat kontes/pameran.

Pot, bonsai merupakan gabungan antara pot/wadah/tempat tanam dan pohon yang merupakan satu kesatuan utuh. Pemilihan pot harus sesuai dengan karakter pohon dan tema yang hendak dikomunikasikan dari bonsai tersebut (kesesuaian pot, pohon & tema dibahas tersendiri). Dalam tulisan ini yang dibahas hanya masalah kebersihan pot saja. Pot bonsai harus dibersihkan dari kotoran yang menempel termasuk sticker penomoran bonsai. Setelah bersih dari kotoran, pot dapat disemir dengan semir netral atau diolesi pelumas yang sangat encer (seperti pelumas mesin jahit, pelumas dgn SAE 20) kemudian dilap dengan kain kaos hingga bersih, kering dan tidak mengkilap. Penting, pot juga dinilai dalam kontes bonsai!

Kawat yang melilit, sebaiknya bonsai yang akan kontes tidak menggunakan kawat lagi jadi jika sudah memungkinkan ranting yang semula masih ada lilitan kawatnya maka kawat tersebut dilepas dengan cara dipotong-potong atau dilepas lilitannya dengan hati-hati. Namun bila diduga masih diperlukan kawat lilitan untuk menimbulkan arah ranting yang pas maka gunakanlah kawat dengan warna yang serupa dengan warna batang/ranting dan besarnya juga ideal jadi tidak terlalu mencolok dan dapat mengurangi nilai bonsai.

Tampilan umum pohon, ketika akan kontes bersihkan batang, cabang hingga daun dari kotoran yang ada seperti bekas tanah, lumut & jamur yang menempel di batang, daun yang menguning/kering, debu dan kotoran lainnya. Potong daun-daun yang posisinya tidak pas dan ‘ngganjel’ tanpa meninggalkan bekas potongan sehingga kerangka pohon dapat terlihat, nampak dimensi dari pohon. Daun dipotong cuplik sehingga menimbulkan kesan ada letupan-letupan atau awan-awan kecil pada kanopi sesuai karakter perdaunan jenis pohon tersebut. Singkatnya bonsai harus tampil bersih, sehat, kelihatan matang/dewasa dan alami.

Transportasi, perlu dipikirkan cara untuk memindah bonsai dari tempat asalnya ke area kontes/pameran dengan aman bagi bonsai. Bonsai harus dipindah dengan hati-hati sehingga selama perjalanan tidak mengalami kerusakan atau menimbulkan stress pada bonsai yang dapat mengakibatkan kematian bonsai.

Iklim, kesesuaian antara iklim (suhu, kelembaban, curah sinar matahari, ketersediaan air untuk menyiram) di tempat asal dengan tempat kontes sangat penting untuk diperhatikan. Perbedaan iklim yang sangat besar akan menyulitkan bonsai untuk beradaptasi sehingga berpotensi menimbulkan turunnya kualitas bahkan kematian pada bonsai yang dikonteskan. Jika terjadi perbahan iklim yang signifikan maka perlu dilakukan upaya meminimalisasi perbedaan ini tergantung dari penyebab utama perbedaan iklim ini. Sebagai contoh, jika tempat kontes di atas aspal, conblock atau lantai cor yang cenderung lebih panas dari pada tempat asal yang berasal dari tanah atau di atas rumput maka perlu dilakukan penyiraman yang baik lebih sering dan jumlah airnya juga lebih banyak.

Demikianlah kira-kira persiapan yang dapat dilakukan untuk mengikuti kontes/pameran bonsai agar hasilnya sesuai dengan tujuan dan harapan yang diinginkan. Selamat mencoba, bravo bonsai Indonesia!


Selasa, 26 Mei 2009

Rimbun? enggak dech. . . . . .















(Timan Monthit, trainer bonsai dari Jogja)



Beberapa hari yang lalu di halaman timur Ambarukmo Plaza Jogjakarta diselenggarakan pameran & kontes bonsai regional Jogja 2008. Dalam kesempatan tersebut digelar kontes bonsai kemudian dipamerkan secara bersamaan. Bonsai yang dipamerkan terdiri dari berbagai macam spesies dan gaya. Yang menarik dari saya adalah banyak bonsai yang dilihat dari karakter dasar bonsai-bonsai tersebut sesungguhnya sangat fantastis dan begitu indah namun oleh artis maupun pemiliknya dijadikan bonsai yang asal rimbun, maksudnya adalah bonsai dengan konopi yang dibentuk dari daun-daun yang lebat berbentuk tudung segi tiga.

Menurut penglihatan dan persepsi saya, bonsai tersebut menunjukkan tingkat kesuburan dan kesehatan tanaman bonsai yang sangat baik. Akan tetapi, bonsai yang asal rimbun itu justru kehilangan ruh dan pesan yang ada pada karakter dasar si pohon bonsai. Lebatnya dedaunan yang hijau menutupi gerak dasar akar, batang, cabang dan sistem perantingannya. Hilanglah keindahan yang tercipta secara alami dari bagian-bagian penyusun bonsai tersebut. Ibarat seorang gadis yang bertubuh molek dan berparas cantik maka rambut si gadis yang tumbuh lebat tersebut menutupi keindahan bola matanya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sensual dan lehernya yang jenjang. Keindahan tubuh si gadis juga tersembunyi dengan rapat dibalik balutan kain yang tebal dan lebar. Si gadis kontes yang seharusnya cantik dan sensual tersebut hanya menjadi gadis model yang kurang menarik karena memiliki potongan tubuh yang lurus-lurus saja dan wajahnya tidak nampak.

Untuk dapat melihat keindahannya penikmat bonsai harus bersusah payah mencari angel (sudut pandang) yang paling pas, saya harus menyingkap rimbunnya dedaunan hingga mampu melihat liukan batang dan cabang. Bagi orang yang hanya sepintas mengamati dan tidak berusaha dengan tekun berupaya menyingkap selubung penutup tersebut tentu akan kehilangan moment untuk menikmati hal-hal indah dari bonsai rimbun tersebut. Sungguh hal ini sangat disayangkan.

Hal tersebut di atas masih terjadi pada sejumlah artis dan pemilik bonsai. Mereka berpendapat bahwa bonsai itu bagus jika daunnya tumbuh subur, lebat dan membentuk kanopi segi tiga yang lebar. Pengamatan saya ini ternyata juga dirasakan oleh Bpk Wawang Sawala, seorang juri senior bonsai dari Surabaya. Bahkan beliau dalam sarasehan yang digelar dalam event di atas juga mencontohkan pada sebuah bonsai yang juga ikut kontes. Beliau mengatakan bahwa bahan dasar bonsai tersebut sangat indah hanya saja kurangnya pemahaman artis dan pemiliknya maka bonsai tersebut dibentuk menjadi bonsai asal rimbun. Hasil akhir penilaian bonsai asal rimbun tersebut juga menjadi kurang maksimal.

Kontra dengan hal di atas, pada saat dilakukan demonstrasi pembuatan bonsai oleh beberapa orang artis/trainner dari jogja dan sekitarnya. Para artis memilih sendiri bahan-bahan bonsai yang akan dibentuk menjadi bonsai yang indah yaitu bonsai yang memenuhi kaidah-kaidah dalam membuat bonsai dan hasil akhirnya adalah bonsai yang sesuai kaidah umum dan tampil indah menurut orang yang tidak tahu tentang bonsai sekalipun. Pada prinsipnya bonsai yang indah adalah bonsai yang mampu mengatakan sendiri tentang keindahan dirinya melalui bahasa tubuh dan penampilannya sendiri.

Hampir seluruh artis pada waktu itu membawa bahan-bahan bonsai yang berdaun rimbun. Dari daun yang rimbun tersebut para artis menghilangkan cabang, ranting dan daun yang tidak dibutuhkan dan hanya meninggalkan yang dibutuhkan saja disesuaikan dengan karakter dasar bahan bonsai.

Yang paling menarik dari demo tersebut adalah ketika artis Timan Monthit mulai tampil maka banyak suara-suara yang menurut saya sangat sumbang yang dilontarkan oleh penonton yang mayoritas adalah penggemar bonsai. “Awas, nanti pohonnya jadi gundul dan menjadi nol! Awas, nanti butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu tumbuhnya cabang dan ranting baru, jangan asal potong!”

Ucapan-ucapan yang terlontar dari para penonton tersebut menurut saya pribadi adalah wujud ketidaktahuan dan kurangnya keberanian mereka untuk melakukan perubahan guna mendapatkan bonsai baru dengan kualitas baik layak kontes yang berasal dari bahan bonsai lama. Suara-suara sumbang itu merupakan manifestasi dari rasa sayang untuk kehilangan performa bonsai asal rimbun tersebut. Inilah penyakit yang sedang mengidap orang-orang tersebut. Hal ini juga yang membuat kita menjadi hanya jalan di tempat dan tidak pernah maju. Anti perubahan!

Secara pribadi saya salut atas sikap dan pendirian yang diambil oleh artis yang cukup “nyleneh” tersebut. Ia tetap bersabar dan mulai menjelaskan bahwa ia paling suka dengan bonsai dengan beraliran konvensional sempurnya. Ia akan berusaha membuat sebuah bonsai menjadi bonsai matang yang memiliki nilai seni yang tinggi hingga jika diikutkan kontes maka akan mendapat kategori bonsai yang sangat baik. Ia menjelaskan bahwa bahan dasar bonsai ini (sancang/premna microphylla) cukup baik. Akar menyebar memutar hanya arahnya terlalu menghunjam masuk ke tanah sehingga perlu untuk dimekarkan membentuk sudut maksimal 45 derajat dari batang dan menghilangkan akar yang dirasakan mengganjal pandangan. Batang juga tidak hanya lurus tetapi menampakkan gerak batang yang indah. Cabang-cabangnya cukup banyak.

Singkatnya artis Timan Monthit melakukan eksekusi terhadap bahan bonsai sancang tersebut dengan cara memotong cabang-cabang yang tidak diperlukan dan tidak sesuai dengan alur akar dan batang utama hingga tertinggal sekitar empat cabang. Akar dimekarkan diganjal dengan kerikil-kerikil dan memangkas beberapa akar yang kurang pas. Hasil akhirnya adalah sebuah bonsai baru yang sederhana/simpel namun sesuai dengan kaidah pembuatan bonsai secara profesional.

Timan Monthit selanjutnya menjelaskan proyeksi ke depan bonsai yang akan didapat dari bahan bonsai baru tersebut. Bonsai baru tersebut merupakan kerangka dasar yang baik, kelak dari cabang-cabang yang tersisa itu akan tumbuh ranting-ranting baru dan dipilih ranting yang pas saja sedangkan ranting yang tidak diperlukan kelak harus dibuang lagi. Memang untuk mendapatkan bonsai yang bernilai seni tinggi tidak mudah dan butuh waktu yang cukup lama. Di sinilah letak seni bonsai, dibutuhkan keahlian, cita rasa, kesabaran, keuletan yang luar biasa dari artis maupun pemilik. Semakin lama bonsai dimiliki dan dirawat seharusnya semakin memiliki nilai seni yang semakin tinggi.

Pada akhirnya dari dua hal di atas maka saya pribadi menarik suatu simpulan bahwa bonsai yang rimbun belum tentu indah, memiliki nilai seni yang tinggi. Bonsai yang indah adalah bonsai yang secara alami memiliki karakter dan gerak dasar yang indah kemudian dibentuk dan dirawat menurut kaidah-kaidah seni bonsai hingga hasil akhirnya adalah bonsai matang bernilai seni tinggi yang jika dilihat oleh siapa saja maka akan tampak indah dan menyentuh hati (bonsai yang mampu berbicara sendiri bahwa dirinya adalah indah).

Bonsai yang indah tidak selalu harus dibuat dan tampil rumit namun bisa jadi bonsai indah lahir dari bonsai yang sederhana. Kesederhanaan menjadi kekuatan dari sebuah bonsai indah yang bernilai seni tinggi.