Kamis, 04 Juni 2009

Silaturahim Komunitas Bonsai di Jogja


Komunitas Bonsai Jogja & Sekitarnya

Sulisyanto "Ninja" Soeyoso menganalisa

Trainer Ismak Risandi berkarya

Wahyudi D. Sutomo memberi tanggapan

Hasil kerja sama para maestro & trainer

Komunitas penggemar bonsai di area Jogja dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu (Jumat, 22 Mei 2009) menggelar acara silaturahim dan sambung rasa di halaman belakang rumah Wisnu Jakas yang terletak di Ringroad Selatan No. 49, Tambak Tamanan Banguntapan Bantul Yka. Acara yang digelar malam hari itu dihadiri lebih dari 60 orang yang berlatar belakang dari mulai sekedar penggemar, kolektor, programmer, trainer, pedagang, broker, pendongkel hingga pembuat pot bonsai. Mereka berasal dari Komunitas PPBI, Komunitas Grogolan, Komunitas Ringinsari, Komunitas Klaten, Komunitas Gunungkidul, Komunitas Srandakan, Komunitas Giwangan dan lainnya. Keanekaragaman dari yang hadir ini dapat ditafsirkan oleh Admin bahwa bonsai dapat masuk dan diterima oleh berbagai kalangan di masyarakat.

Dari jumlah yang hadir dalam acara silaturahim dan sambung rasa bonsai tersebut, Admin menilai bahwa jumlah tersebut cukup besar serta ramai untuk suatu acara yang digelar secara mendadak dan undangan hanya by phone dan gethok tular dari mulut ke mulut. Kehadiran para penggemar bonsai pada acara tersebut (menurut Admin) dapat diartikan sebagai jawaban atas keinginan dan kebutuan akan kegiatan silaturahim penggemar bonsai di Jogja dan sekitarnya. Selama ini komunitas bonsai di Jogja dan sekitarnya sangat jarang untuk menggelar acara bersama, kumpul-kumpul sekedar untuk bersilaturahim dan diskusi tentang bonsai. Salah satu daya tarik yang ditawarkan oleh Admin pada waktu itu adalah sekedar kumpul-kumpul untuk menikmati masakan rica-rica menthog/itik sambil ngobrol ke sana ke mari tentang bonsai. Selain itu magnet lain yang ditawarkan dalam rencana acara tersebut adalah akan hadir master-master dan trainer bonsai dari Jawa Timur.

Dua isu utama yang ditawarkan dalam undangan lisan untuk acara silaturahim dan sambung rasa komunitas bonsai tersebut sengaja diangkat oleh Admin karena beberapa alasan. Yang pertama, isu silaturahim dan sambung rasa dilatarbelakangi oleh keprihatinan beberapa pihak atas keadaan perbonsaian di Jogja. Selama ini Jogja dikenal sebagai kota pendidikan, kota seni dan budaya. Di Jogja seni bonsai telah hidup cukup lama bahkan beberapa kali Kota Jogja dipercaya untuk menyelenggarakan event nasional pameran bonsai beberapa tahun yang lalu. Kehadiran lebih dari 60 orang dalam acara tersebut menunjukkan bahwa di Jogja dan sekitarnya terdapat sejumlah besar penggemar seni bonsai. Namun, selama beberapa waktu terakhir ini, aktivitas dan hasil karya bonsai dari Jogja kurang begitu terdengar dan menggigit di kancah perbonsaian nasional apalagi internasional. Oleh karena itu beberapa pihak dan Admin menggagas untuk dengan cepat memfasilitasi kegiatan silaturahim dan sambung rasa komunitas bonsai di Jogja dan sekitarnya.

Yang kedua, harus diakui bahwa beberapa waktu terakhir ini perbonsaian di Jogja kurang bergairah dan cenderung monoton berkiblat pada bahan, posisi dan gaya yang itu-itu saja padahal di Jogja kaya akan bahan-bahan bonsai yang bagus, banyak orang yang kreatif. Oleh karena itu perlu diberikan sedikit rangsangan dan kejutan agar segera tersadar, bangun dan berbuat nyata dan menciptakan prestasi-prestasi hebat di bidang perbonsaian. Rangsangan dan kejutan yang diusung oleh beberapa pihak dan Admin adalah mengahadirkan master-master dan trainer-trainer bonsai yang saat ini hasil karya dan ide-idenya sedang mewarnai dunia perbonsaian di Indonesia dan internasional. Master bonsai yang diminta untuk membantu memotivasi komunitas bonsai Jogja dan sekitarnya adalah Wahyudi D. Sutomo (Forum Komunikasi Bonsai Sidoarjo) dan Sulistyanto “Ninja” Soejoso (Imagine Bonsai Club & Samandiman Bonsai Club). Sedangkan trainer dari Jatim yang diminta untuk hadir memberikan motivasi adalah Ismak Risandi (Prigen Pasuruan) dan Saiful (Sidoarjo).

Acara yang digelar secara lesehan dikemas dalam suasana santai penuh keakraban dan kekeluargaan. Pukul 20.00 WIB, acara diawali dengan sesi sambung rasa antar pebonsai Jogja dan sekitarnya. Dalam sesi ini muncul butir-butir ide dan keinginan dari para pebonsai untuk menyelenggarakan acara serupa secara terjadual dan berkelanjutan. Selain itu diharapkan agar ada tindak lanjut dari acara malam itu berupa tukar kawruh/saling asah asih & asuh perihal seni bonsai sehingga pengetahuan dan ketrampilan semua pihak tentang seni bonsai semakin meningkat. Yang hadir sepakat untuk lebih memajukan dunia seni bonsai di Jogja dan sekitarnya dalam tahap awal.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sharing pengetahuan dan pengalaman dari Wahyudi D. Sutoma dan Sulis Ninja. Di sela-sela acara, beberapa yang hadir bertanya kepada penyaji dan sekali tempo penyaji melempar pertanyaan/fenomena yang actual yang membutuhkan perenungan serta pendapat dari yang hadir. Sesi ini berjalan hidup, mengalir dua arah baik dari penyaji maupun yang hadir. Pada kesempatan ini Wahyudi D. Sutomo menyampaikan tentang bonsai yang baik sedangkan Sulis Ninja lebih dominant memberi motivasi dan membuka wawasan kreativitas dari para pebonsai.

Ketika acara berjalan semakin hangat dan menarik, mayoritas yang hadir minta agar para master dan trainer membedah bahan bonsai yang ada untuk dijadikan bonsai yang baik dan memberikan karakter yang khas. Setelah observasi sebentar atas bahan-bahan bonsai yang ada selanjutnya pilihan dijatuhkan pada sebuah bahan santigi raft sepanjang 120 cm dan tinggi 60 cm. Bahan bonsai santigi tersebut berasal dari akar yang tumbuh memanjang tidak diketahui ujung dan pangkalnya. Cabang cabang yang tumbuh beserta ranting membentuk imajinasi sebuah perahu layer yang sering digunakan nelayan-nelayan Indonesia.

Setelah berembug sebentar disepakati bahwa yang akan menggarap bahan bonsai santigi tersebut adalah Sulis Ninja, Ismak dan Saiful sedangkan Wahyudi D. Sutomo yang akan memberikan tanggapan atas bonsai yang telah dibentuk ulang tersebut. Sebelum membedah, Sulis Ninja memberikan analisis atas bahan bonsai tentang kelebihan dan kekurangan serta perspektif ke depan bentuk bonsai baru yang akan dibangun. Selanjutnya setiap tindakan atas bahan bonsai tersebut disampaikan kepada yang hadir mengapa dilakukan tindakan tersebut dan sekali-kali bertanya kepada yang hadir dan pemilik bonsai tentang pendapat mereka atas bonsai tersebut. Sulis Ninja berhasil membangun training bonsai secara interaktif antara trainer, penonton & pemilik bonsai.

Pada bagian akhir bedah bonsai, Wahyudi D. Sutomo memberi komentar atas bahan bonsai yang kini menjadi bonsai baru. Wahyudi mengungkapkan bahwa bahan bonsai santigi tersebut bahan dasarnya sangat bagus, masih diperlukan beberapa tahun lagi agar menjadi bonsai dewasa. Selanjutnya Wahyudi menyarankan agar dilakukan sedikit reposisi diangkat dan ditegakkan sedikit ke arah yang melihat. Untuk pot, Wahyudi juga menyarankan agar direpotting dengan pot yang lebih tipis sedikit. Bonsai akan tampil lebih optimal jika kelak perantingannya dibuat lebih ramping masuk ke dalam. Harapan dari Tim pembedah bonsai yang baru saja dibedah tersebut kelak menjadi salah satu masterpiece bonsai Indonesia. Semoga saja.

Seluruh rangkaian acara silaturahmi dan sambung rasa komunitas bonsai area Jogja dan sekitarnya selesai pada pukul 01.00 WIB. Menurut pengamatan Admin seluruh yang hadir cukup puas dengan acara yang telah digelar. Harapannya adalah ada hal-hal positif yang dapat dipetik dari kegiatan ini dan ide-ide atau wawasan baru yang diperoleh semoga menjadi pemicu serta katalis bagi perkembangan kreativitas komunitas bonsai sehingga dapat menghantarkan bonsai Indonesia menjadi bonsai yang dipanang dan dihargai di negara sendiri dan dunia internasional.