Minggu, 29 November 2009

Pameran Bonsai Jogja 2009

Lintas Batas setelah sarasehan di STPP

Tanto "Lintas Batas" mengkomunikasikan hasil karyanya

Wisnujakas interaktif dengan peserta sarasehan
yang berasal dari pascasarjana ilmi budaya Al-Azhar, Cairo

Sulis Ninja, Wahyudi D. Sutomo, Teddy Boy &
Bambang Subyandono mengapresiasi hasil trainer award.


Peserta Trainer Award

Beberapa waktu yang lalu di Bulan Oktober 2009 di halaman Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Jl. Kusuma Negara No. 3 Yogyakarta telah diselenggarakan Pameran Bonsai Jogja 2009 dengan tema "The Power of Harmony". Dalam rangkaian pameran tersebut diselenggarakan kegiatan bursa tanaman bonsai, pameran & kontes bonsai, sarasehan serta trainer award.
Sarasehan bonsai diselenggarakan selama beberapa hari yang dibawakan oleh Wahyudi D. Sutomo dengan materi "Indahnya Bonsai Asimetri", Teddy Boy dengan materi "Manajemen Bonsai", Sulistyanto "Ninja" Soejoso dengan materi "Kreativitas Transendental dalam Seni Bonsai, Rudi Julianto dengan materi "Jati Diri Bonsai Indonesia" serta Wisnujakas "Lintas Batas" dengan materi "Menjadi jauh lebih bermanfaat melalui seni bonsai".
Dalam acara tersebut digelar kegiatan Trainer Award yaitu suatu acara pemberian penghargaan kepada seniman bonsai yang melakukan demonstrasi membuat bonsai. Acara Trainer Award ini merupakan acara pertama kali yang diselenggarakan di Indonesia bahkan mungkin dunia untuk seni bonsai. Trainer Award diikuti oleh 14 orang seniman-seniwati bonsai dari Jogja dan sekitarnya. Pada kesempatan tersebut para seniman-seniwati bonsai masing-masing diberi bahan bonsai Cemara Chinensis yang sebelumnya dilakukan pengundian. Trainer Award merupakan ajang untuk menampilkan kreativitas para seniman-seniwati bonsai terhadap bahan bonsai yang diperolehnya. Yang menjadi tujuan utama dari Trainer Award ini adalah lebih ditonjolkan pada aspek nilai tambah yang mampu diberikan oleh seorang trainer atas bahan bonsai. Diharapkan agar acara trainer award ini akan mampu menjadi pemicu munculnya kegiatan-kegiatan serupa dalam acara pameran maupun kegiatan bonsai lainnya.
Satu hal yang sangat menarik dari kegiatan pameran bonsai Jogja 2009 yaitu bahwa rangkaian kegiatan pameran ini didukung sepenuhnya oleh komunitas-komunitas seni bonsai, paguyuban seni bonsai dan club-club bonsai yang ada di Jogja dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa PPBI Jogja mampu menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan organisasi-organisasi bonsai lainnya. Semoga hal ini mampu menyebar dengan cepat ke seluruh Indonesia sehingga iklim perbonsaian nasional menjadi semakin baik dan bonsai Indonesia mencapai kejayaan.

Selasa, 17 November 2009

BONSAI TANAMAN LAUT & PANTAI

Pantai Drini/Cantigi di Jogja

Fajar di pantai Miangas

Cantigi

Cantigi


Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki belasan ribu pulau dan gugusan pulau yang terhampar dari ujung Sabang hingga Merauke dan dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Dapat dikatakan bahwa mayoritas wilayah Indonesia berupa lautan yang kaya akan berbagai sumber daya. Kekayaan alam Indonesia sudah sangat terkenal ke seluruh penjuru dunia.
Posisi wilayah Indonesia yang berada di daerah tropis menyebabkan seluruh wilayah Indonesia mendapat curahan sinar matahari yang melimpah. Posisi silang Indonesia di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta Benua Asia dan Benua Australia menyebabkan mayoritas wilayah Indonesia mendapat curah hujan yang mencukupi. Dari kedua kondisi tersebut di atas maka di Indonesia terdapat banyak hutan hujan tropis dan berbagai biota tempat hidup flora dan fauna. Hal ini mendorong tumbuhnya ribuan jenis tanaman tumbuh dengan cukup baik di wilayah Indonesia, oleh karenanya Indonesia memiliki kekayaan flora nomor dua terbanyak di dunia setelah Brazil.
Keanekaragaman spesies flora di Indonesia tidak dapat disangkal lagi. Namun pada saat penjajahan yang dilakukan oleh Belanda beberapa abad yang lampau masih meninggalkan bekas yang mendalam. Pada waktu itu Belanda paham benar bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa Bahari jadi kekuatannya ada di laut, oleh karena itu Belanda menjadikan laut menjadi pembatas-pembatas pulau yang satu dengan yang lainnya serta lebih menonjolkan wilayah daratan. Taktik devide et impera diberlakukan pada Bangsa Indonesia, rakyat kita difokuskan pada urusan-urusan yang berhubungan dengan kebijakan kontinental seperti perkebunan, pertanian, irigasi sungai, pembangunan kota tetapi tidak pernah diajak untuk melihat daerah pantai dan laut.
Dampak dari hal itu adalah pembangunan dan cara pandang masyarakat kita saat ini juga masih berorientasi pada hal-hal yang ada di daratan/pulau. Demikian pulau dalam seni bonsai, jika diamati maka mayoritas jenis tanaman yang dijadikan bonsai di Indonesia adalah tanaman-tanaman di daerah yang jauh dari laut bukan tanaman laut atau biota pantai lainnya. Mayoritas penggemar bonsai jauh lebih mengenal bonsai beringin, bonsai asem, bonsai serut, bonsai loa, bonsai mustam dan lain sebagainya dibandingkan dengan bonsai santigi, pacar laut, wahong, saing simbur. Di arena pameran dan kontes bonsai yang selama ini sering digelar di berbagai daerah yang sering ditampilkan adalah bonsai-bonsai yang hidup di daratan pedalaman daripada bonsai tanaman laut dan pantai.
Menurut pengamatan dan pendapat penulis, sebenarnya tanaman-tanaman yang hidup di laut dan pantai akan jauh lebih indah untuk dijadikan bonsai. Hal tersebut karena tanaman laut dan pantai hidup di lingkungan yang relatif mengalami perubahan fisis yang drastis seperti media tanam yang terbatas, perbedaan suhu yang besar, kecepatan angin dan arus ombak yang besar. Kondisi-kondisi seperti ini jelas akan mempengaruhi bentuk fisik tanaman yang hidup ditempat itu. Tanaman-tanaman laut dan pantai akan memiliki bentuk yang meliuk-liuk ekstrim, banyak keroposan/keringan karena sering mati yang menimbulkan eksotisme tersendiri. Liukan tanaman pantai relatif lebih sensual dibandingkan tanaman daratan pedalaman yang tidak banyak mengalami perubahan cuaca dan fisik.
Melihat potensi yang sangat tinggi dari jenis-jenis tanaman laut dan pantai di atas maka menurut hemat penulis, kiranya para penggemar bonsai perlu mempertimbangkan lagi untuk segera mengolah tanaman biota laut dan pantai untuk menghasilkan karya seni bonsai yang bermutu tinggi dan membawa nama harum Bangsa Indonesia. Selamat mencoba dan sukses selalu.......

Sabtu, 14 November 2009

Menjadikan Keragaman Sebagai Unsur Jati Diri Bonsai Indonesia


Beragam, setelah dipadupadan dengan tepat akan jadi indah & nikmat!


Dewasa ini seni bonsai telah menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk juga ke Indonesia. Seni Bonsai yang memiliki sejarah berasal dari luar negeri (mungkin saja China, Jepang, India atau Mesir) telah masuk ke Indonesia dan terjadi proses asimilasi serta akulturasi dengan Budaya Indonesia. Demikian pula seni bonsai juga masuk dan berkembang ke seluruh penjuru dunia.
Di negara-negara lain sebut saja Amerika Serikat, Italia, Perancis, Belanda, Belgia, Australia dan lain sebagainya, seni bonsai mengalami perkembangan yang relatif bergeser dari corak dan gaya aslinya. Seni bonsai tidak lagi mutlak mengikuti pakem Jepang dan Cina yang semula dijadikan acuan dasar dalam seni bonsai. Di negara-negara tersebut seni bonsai dikembangkan secara bebas, dipadupadankan dengan bidang seni yang lain menggunakan imajinasi dan kreativitas senimannya. Oleh karenanya di negara-negara tersebut seni bonsai menjadi berkembang jauh lebih pesat di bandingkan dengan di negara kita tercinta Indonesia.
Jika kita melihat bonsai-bonsai hasil karya seniman-seniman bonsai dari Eropa, Amerika, Cina dan Jepang tentu dalam hati kita akan mampu menduga bahwa bonsai-bonsai tersebut berasal dari belahan dunia di atas. Hal tersebut terjadi karena bonsai-bonsai tersebut memiliki kepribadian, karakter, ciri khas dan ruh yang menjadikan bonsai tersebut memiliki jati diri. Lalu bagaimana ketika kita melihat mayoritas bonsai-bonsai yang ada di tanah air? Menurut penglihatan penulis pribadi, mayoritas bonsai-bonsai yang ada di tanah air kita belum menggambarkan/mencitrakan suatu bonsai yang berkepribadian Indonesia, belum sebenar-benarnya menggambarkan Indonesia. Mayoritas masih mencitrakan bonsai hasil reproduksi bonsai-bonsai Jepang dan Cina!
Dari dua gambaran yang kontras di atas, lalu muncul pertanyaan bagaimana semestinya bonsai-bonsai yang ada di Indonesia? Apa pentingnya Bonsai Indonesia harus memiliki jati diri? Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia? Untuk menjawab sejumlah pertanyaan di atas, dapat dilakukan dengan suatu pendekatan analisa stratejik yang bersudut pandang dari wawasan nusantara. Wawasan nusantara sebagaimana diketahui bersama sebagai suatu konsepsi berbangsa bagi negara kita Indonesia.
Untuk memahami jati diri kita berpegang pada konsep jati diri yang mendasarkan pada kesadaran tentang esensi keberadaan kita sebagai seorang manusia. Jati diri berasal dari Bahasa Jawa ”sejatining diri” yang berarti siapa diri kita sesungguhnya, hakikat atau fitrah manusia yang berisikan sifat-sifat dasar manusia murni dari Tuhan dalam batas kemampuan insani yang dibawa sejak lahir. Jati diri erat kaitannya dengan hati yang bersih dan sehat. Pada perkembangannya jati diri merupakan totalitas penampilan atau kepribadian seseorang yang akan mencerminkan secara utuh pemikiran, sikap dan perilakunya. Orang yang berjati diri akan mampu memadukan antara cipta (olah pikir), karsa (kehendak dan karya) serta rasa (olah hati).
Jika hal ini diterapkan dalam dunia seni bonsai maka jati diri Bonsai Indonesia oleh penulis diartikan sebagai hakikat Bonsai-bonsai yang dimiliki, dihasilkan oleh Bangsa Indonesia yang memiliki karakter beragam sesuai dengan nilai-nilai luhur yang hidup, tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Jati diri Bonsai Indonesia merupakan hasil olah pikir, kehendak-karya dan oleh rasa seniman-seniwati bonsai Indonesia.
Membahas tentang Bonsai Indonesia tentu saja tidak dapat lepas dari karakteristik Bangsa Indonesia. Semua orang tahu bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari belasan ribu pulau-pulau yang dihubungkan oleh samudera yang sangat luas. Kepulauan yang terhampar dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote dihuni oleh ratusan suku bangsa yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain.
Dari ratusan suku bangsa ini lahirlah beratus-ratus budaya daerah yang pucuk-pucuk tertingginya menjadi Budaya Nasional Indonesia. Semua budaya daerah yang menjelma menjadi Budaya Nasional Indonesia diakui kualitasnya dan termasyur di seluruh dunia. Sejak jaman dahulu kala Bangsa Indonesia termasyur akan keanekaragamannya dan kekayaan alam serta budayanya. Keanekaragaman dan kekayaan inilah yang menarik bagi bangsa-bangsa lain di dunia untuk datang ke Indonesia bahkan sempat melakukan penjajahan secara nyata di Bumi Indonesia.
Keanekaragaman yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan bangsa namun juga dapat digunakan menjadi kelemahan bangsa. Menjadikan keragaman sebagai bahan terjadinya konflik merupakan wujud dari cara memandang keragaman sebagai suatu kelemahan. Namun sebaliknya, keragaman dipandang sebagai suatu kekuatan bangsa maka keragaman dipandang dan disikapi secara bijaksana. Kita harus menyadari bahwa pada hakikatnya setiap orang, suku bangsa pastilah berbeda/beragam satu dengan yang lainnya karena Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan sejak awal setiap orang sempurna dalam segala perbedaan/keragamannya. Hal ini harus kita hormati, harus kita hargai sehingga sangat diperlukan untuk mengembangkan sikap tenggang rasa serta menghormati.
Tenggang rasa dan penghormatan atas perbedaan dan keragaman juga sudah sepantasnya jika diterapkan pada perbedaan sikap, pendapat dan pilihan jalan hidup seseorang. Setiap orang merdeka untuk bersikap, berpendapat dan mengekspresikan jati dirinya secara bertanggung jawab. Bangsa Indonesia telah menyadari bahwa setiap orang setiap bangsa berhak atas kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Kemerdekaan sebagaimana yang dimaksud dalam pembukaan UUD 1945 juga sepatutnya dijunjung tinggi dan diterapkan dalam dunia seni bonsai di Indonesia. Setiap penggemar bonsai tanah air harus dihormati kemerdekaan dalam selera, pilihan dan kemampuan membuat bonsainya. Setiap orang wajib hukumnya untuk menghormati dan menghargai penggemar bonsai dan hasil karya satu dengan yang lain. Jika setiap orang sudah mampu saling menhargai dan menghormati kemerdekaan dan kebebasan dalam berkarya dan berekspresi di seni bonsai, niscaya akan muncul keberagaman Bonsai Indonesia serta memiliki jati diri.
Membicarakan tentang jati diri bonsai maka tentu tidak dapat terlepas dari eksistensi/keberadaan Bonsai Indonesia dalam dunia perbonsaian nasional, regional maupun internasional. Jati diri Bonsai Indonesia perlu dibangun dalam rangka untuk mempertahankan eksistensinya dan mampu unggul dalam persaingan dengan bonsai-bonsai dari negara lain. Saat ini untuk mencari jati diri Bonsai Indonesia dipengaruhi oleh beberap faktor strategis baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri.
Dari dalam negeri Indonesia terdapat sejumlah faktor yang dapat berperan sebagai faktor kelemahan dan faktor kekuatan dalam mencari jati diri Bonsai Indonesia. Beberapa hal yang dapat menjadi faktor yang melemahkan segala upaya mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia adalah perilaku penggemar bonsai yang cenderung: kurang santun, kurang tenggang rasa, mampu menghargai dan menghormati penggemar dan karya orang lain, kurang bertanggung jawab serta terkadang tidak jujur, lebih dominan bersifat individualistik dari pada mengutamakan kepentingan umum. Kelemahan yang lainnya adalah sarana dan prasarana untuk menghasilkan bonsai kurang tersebar merata di seluruh nusantara, masih cenderung terpusat di Pulau Jawa, komunikasi yang kurang lancar antara para stakeholders (PPBI, pebisnis, penggemar).
Adapun hal-hal yang dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia adalah bahwa Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa yang masing-masing memiliki budaya dan kearifan lokal yang tinggi, orang Indonesia terkenal kreatif mensiasati keterbatasan/hambatan yang dijumpai, bumi Indonesia kaya akan flora/tumbuhan yang dapat dijadikan bahan bonsai bermutu tinggi, panorama alam Indonesia sangat beragam dan indah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai inspirasi dalam membuat bonsai. Selain itu Indonesia juga kaya akan bahan-bahan pendukung untuk membuat bonsai-bonsai yang berkualitas.
Faktor dari luar negeri yang menjadi hambatan untuk mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia adalah bahwa bonsai asli berasal dari luar negeri serta perkembangan bonsai luar negeri yang sedemikian pesatnya sehingga sering ditiru mutlak oleh penggemar di Indonesia. Akibatnya adalah bahwa banyak kita jumpai bonsai-bonsai kita hanya merupakan jiplakan atau tiruan dari bonsai-bonsai luar negeri, kreativitas seniman bonsai Indonesia dapat menjadi menurun karenanya. Adanya pemilik modal yang kuat dari luar negeri dapat juga menjadi tantangan bagi kita, karena mereka sering membeli bahan-bahan bonsai hasil karya seniman Indonesia yang belum jadi. Hal ini menyebabkan banyak calon-calon bonsai bagus segera berpindah tangan kepemilikannya ke luar negeri.
Sedangkan peluang dari luar negeri yang dapat dimanfaatkan antara lain adalah adanya tata kelola bonsai yang telah terbangun secara baik di luar negeri sehingga dapat memotivasi seniman bonsai Indonesia untuk ditampilkan secara obyektif di luar negeri atau bahkan nantinya dijual dalam bentuk bonsai jadi di pasar internasional.
Mensikapi beberapa fakta riil di atas maka dapat disarankan agar diberlakukan tata kelola dunia seni bonsai yang baik (good governance di bidang bonsai) di Indonesia. Adapun yang menjadi pilar utamanya adalah PPBI selaku organisasi resmi masyarakat bonsai, pebisnis bonsai dan penggemar bonsai. Masing-masing pihak diharapkan mau dan mampu untuk mawas diri dan berkomitmen untuk memajukan dunia seni bonsai di Indonesia. Kemudian diharapkan terjadi kerja sama antara para pihak untuk membentuk sinergi mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia.
Hal penting lainnya adalah tentang perilaku para penggemar bonsai agar menjadi semakin baik, luhur dan bijaksana seperti filosofi dari seni bonsai itu sendiri. Diharapkan agar para penggemar bonsai mengakui adanya keberagaman Bangsa Indonesia dan Bonsai Indonesia sehingga tidak dijadikan seragam karena keberagaman adalah hak yang wajib dihormati.
Demikian sekilas pengantar tinjauan stratejik tentang pencarian jati diri Bonsai Indonesia disampaikan untuk menghantarkan suatu alternatif wacana pemahaman bagi penggemar bonsai sekalian. Diharapkan agar setelah memahami pengantar ini maka akan membuka forum-forum diskusi/musyawarah untuk membahas upaya-upaya riil secara menyeluruh terintegrasi guna mewujudkan jati diri Bonsai Indonesia.