Selasa, 07 Desember 2010

Jadilah Kaya

Pak Putut Sugito, BA di antara pemula

       Beberapa hari yang lalu saya bersilaturahim dengan rekan-rekan sesama penghobi seni bonsai di Ponorogo Jawa Timur. Kebetulan acara waktu itu bertepatan dengan sebuah pagelaran pameran Seni Bonsai Indonesia V yang diusung oleh Samandiman Bonsai Club. Perjalanan darat yang saya lakukan sebenarnya berjalan kurang lancer karena sempat salah jalan hingga lebih dari satu setengah jam. Kejadian itu walaupun agak merisaukan namun saya coba untuk menikmati pemandangan alam yang ada. Kapan lagi saya sampai di tempat indah seperti itu kalau tidak karena kesasar?
       Setelah menyusuri jalan yang penuh dengan kelokan seksi selama rute kesasar ini akhirnya saya tiba di Bumi Reog, daerah tempat lahirnya budaya Bangsa Indonesia yang adi luhung dan sangat mempesona. Rekan-rekan yang berada di lokasi pameran menyambut saya dan rombongan dengan sangat baik dan penuh dengan keakraban. Pada waktu itu rekan-rekan dan panitia pameran sedang sibuk mempersiapkan acara penjurian peserta kontes bonsai serta persiapan ini dan itu untuk acara pembukaan pameran yang sedianya akan dilangsungkan malam harinya.
       Ketika sedang menikmati suasana sambil menunggu proses penjurian, tampak dari pintu sebelah utara lokasi pameran berjalan masuk seorang yang sudah sangat matang didampingi seorang pemuda yang gagah. Orang-orang yang berada di tempat itu langsung berhambur menyambut kehadiran mereka serta memberi jabat tangan dan penghormatan yang sangat dalam serta santun. Dalam benak saya bertanya, “O….o….siapa dia?” Belum sempat pertanyaan itu memperoleh jawaban tanpa disangka Beliau mengucapkan satu pertanyaan kepada yang ada di tempat itu, “Mana Kapolda Jogja?” Semua yang ada terdiam dan masih bingung dengan pertanyaan beliau ini karena pada waktu itu tidak ada dan tidak diagendakan kehadiran Kapolda Jogja di acara tersebut. Sesaat kemudian Beliau mengulang pertanyaan yang sama, saya juga masih terdiam karena saya bukan atau belum menjadi seperti pertanyaanya (he….he….he…. just joke!).
       Selanjutnya tuan rumah yang paling senior mengenalkan Beliau kepada saya dan saya pun mengenalkan diri kepadanya. Ternyata Beliau adalah Pak Putut Sugito, B.A. Saat kami bersalaman dengan erat dan mantap, pandangan beliau menatap tajam namun tidak menghakimi dan menyakiti, kemudian untaian senyum terangkai dari bibir Beliau. Dalam hati saya berkata, “Pria yang sangat berkarakter!” Setelah beberapa menit berlalu dengan sejumlah dialog, baru saya tahu bahwa Pak Putut ini adalah seorang tokoh yang sangat popular di kalangan masyarakat Ponorogo. Menurut penuturan rekan-rekan, hampir seluruh orang dari tua hingga anak-anak di Ponorogo tahu profil Pak Putut. Beliau adalah sesepuh, orang tuanya masyarakat Ponorogo.
       Dari obrolan yang kami lakukan akhirnya saya tahu bahwa dulunya Pak Putut juga penggemar bonsai. Beliau mulai mempunyai hobi seni bonsai sejak tahun 1970, jauh lebih awal dibanding Ismak Risandi atau senior yang lainnya. Baru tahu pula saya bahwa Beliau ini adalah seorang penganut Seni Bonsai Tauhid. Segala hal yang berkaitan dengan seni bonsai dikaitkan dengan Keesaan dan Kebesaran Allah Swt. Sungguh pribadi yang sangat luar biasa.
       Dalam salah satu obrolan kami, tiba-tiba beliau memandang saya dengan dalam dan penuh arti kemudian bertutur, “Mas, Njenengan (Anda) harus kaya!” Saat itu saya belum memberi respon yang begitu berarti namun berupaya untuk semakin meningkatkan perhatian dan berupaya untuk memaknai perkataan beliau dengan kecerdasan spiritual (wah….topik yang berat nich, batin saya waktu itu). Ujar Beliau selanjutnya, “Dengan menjadi kaya maka Anda akan dapat melakukan banyak hal untuk membantu banyak orang dan memberi manfaat bagi masyarakat. Jaman sekarang ini untuk dapat berbuat banyak harus orang harus kaya dalam segala hal yang baik-baik. Memang untuk dapat berbuat baik dan membantu yang lain tidak mutlak harus kaya, tapi akan jauh lebih mudah dan baik lagi jika memiliki semua piranti yang dibutuhkan sehingga akan lebih mampu bermanfaat bagi banyak orang.”
       Secara cepat, tegas dan mantap segera saya sambut petuah dari yang patut diteladani ini dengan perkataan, “Inggih Pak, dalem nyuwun donga kaliyan pangestunipun (iya Pak,saya mohon doa dan restunya). Hati saya semakin mantap ketika Beliau menjawab, “Saya doakan semoga menjadi orang yang kaya, sehat dan selamat!”
       Detik-detik berikutnya terjadi dialog panjang dalam diri saya antara batin dan pikiran. Hal yang disampaikan Pak Putut sangat benar. Untuk dapat menolong orang lain dan memberi manfaat untuk banyak orang dibutuhkan berbagai sumber daya tidak hanya yang berwujud uang, harta benda maupun sumber daya tangible lainnya. Sumber daya yang tidak berwujud pun juga akan sangat dibutuhkan dan membantu jika saya memilikinya. Semakin banyak tersedia sumber daya atau modal dalam arti luas maka logikanya ditambah dengan kesediaan dan keikhlasan untuk berbagi dengan sesama maka akan mampu memberi manfaat bagi banyak pihak.
       Namun demikian untuk berbuat kebajikan, membantu yang lain serta memberi manfaat bagi sesama tentu tidak perlu menunggu untuk kaya dulu baru berbuat. Dalam kondisi seperti apa saja tentu saya dapat melakukan hal-hal baik dan bermanfaat, mumpung masih bias melakukan maka seyogianya berbuat karena kita tidak tahu apakah masih akan ada kesempatan beberapa menit yang akan datang, besok, bulan depan atau tahun depan bagi kita? Sesungguhnya manusia terlahir dalam keadaan telanjang tanpa membawa bekal, jika sekarang memiliki sesuatu tentu saja itu hanya karena campur tangan dari Allah, itu semua milik Allah yang dititipkan. Semua titipan itu dilekatkan hak guna pakai, jadi dapat digunakan untuk kepentingan kita atau untuk menyebarkan kebaikan dan manfaat.
       Tanpa terasa saya terlarut dalam dialog pribadi dan tahu-tahu penjurian bonsai telah selesai. Kini waktunya menikmati sate Ponorogo yang sangat masyur. Roda-roda karet akhirnya membawa saya ke Nologaten gang sate, warung sate Pak Tukri telah menanti.

Selasa, 02 November 2010

Ruang ICU untuk Bonsai

Santigi yg busuk akar dirawat dalam
Ruang ICU


Seringkali penggemar bonsai menghadapi situasi kritis ketika bonsai maupun bahan bonsai kesayangannya kondisi kesehatan dan kebugarannya menurun. Banyak bonsai mengalami nasib buruk seperti mati ranting, cabang bahkan mati total karena berbagai hal. Keadaan yang terkadang menyebabkan situasi kritis ini seperti proses repotting dengan pemotongan akar yang banyak maupun pencucian akar, terkena hujan asam, terlambat menyiram, ataupun sedang terserang penyakit.
Upaya yang dapat dilakukan adalah menanggulangi penyebab menurunnya kondisi bonsai kita dengan tepat. Jika berkaitan dengan adanya penyakit maka segera diberi obat untuk membunuh penyakit itu, bila karena terkena hujan asam maka segera bilas dengan banyak air bersih, jika berkaitan dgn akar maka segera bersihkan akar yang mungkin busuk atau jamuran dgn fungisida dll. Selanjutnya isolasi bonsai dalam ruangan khusus yang biasa disebut "Intensive Care Unit/ICU". Ruang ICU digunakan untuk memudahkan mengontrol kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban maupun kandungan oksigen serta air.
Ruang ICU dapat dibuat secara sederhana menggunakan plastik transparan, bilah bambu, tali rafia serta penjepit. Prinsip dasar dari Ruang ICU buatan ini adalah untuk mengisolasi tanaman dari perubahan kondisi lingkungan yang besar. Ruang ICU dibangun dari plastik transparan di atas kerangka bilah bambu agar sirkulasi udara dapat dikontrol secara maksimal oleh pemilik. Tempatkan Ruang ICU pada tempat yang teduh, tidak terkena sinar matahari secara langsung agar suhunya tidak terlalu panas.
Setelah Ruang ICU terbangun, semprot tanaman dengan air bersih pada bagian daun dan batang serta permukaan media untuk memberi cukup kelembaban bagi tanaman. Secara berkala tanaman disemprot kabut air untuk mempertahankan kelembaban dan memenuhi kebutuhan air bagi tanaman. Perawatan khusus bonsai dalam Ruang ICU lama waktunya tergantung kondisi kesehatan bonsai, semakin parah kondisinya maka biasanya memerlukan waktu perawatan yang jauh lebih lama hingga tumbuh tunas-tunas baru. Berdasar pengalaman, perawatan berlangsung dari 1 minggu hingga 1,5 bulan, tergantung kondisi dan jenis tanaman. Upaya penyelamatan tanaman ini relatif lebih berhasil dibanding jenis perlakuan yang lain. Terkadang ada bagian tanaman yang tidak mampu diselamatkan seperti adanya ranting yang mati, akan tetapi setidaknya bonsai masih dapat diselamatkan untuk dirawat lebih lanjut.

Rabu, 27 Oktober 2010

Arti Keberhasilan Pameran Seni Bonsai

Beberapa tahun terakhir ini seni bonsai seolah bangkit dari tidur panjangnya. Para penggemar dan pemilik bonsai marak merawat kembali koleksi bonsainya. Tidak sedikit pula pameran bonsai diselenggarakan di berbagai daerah dalam skala local, regional maupun nasional. Yang menarik dari sejumlah penyelenggaraan pameran bonsai tersebut adalah sering terdengar bahwa penyelenggaraan pameran sukses atau bahkan malah gagal.

Suatu pameran seni bonsai menurut pandangan para penggemar bonsai sukses karena diikuti oleh banyak bonsai tetapi beda lagi menurut penyelenggara yang menyatakan bahwa pameran tersebut gagal karena panitia mengalami kerugian secara keuangan. Mengapa dalam satu kegiatan pameran hasilnya dinyatakan berbeda? Sebenarnya apa yang menjadi dasar kriteria sukses atau gagalnya suatu pameran seni bonsai?

Perbedaan pendapat tentang hasil pameran bonsai di atas karena adanya perbedaan kriteria untuk ukuran keberhasilan pameran. Penyelenggara menggunakan criteria keuntungan keuangan sebagai ukuran keberhasilan, sedangkan penggemar bonsai menggunakan criteria jumlah peserta pameran sebagai ukuran keberhasilan. Dasar criteria keberhasilan suatu pameran bonsai ditentukan oleh rencana penyelenggaraan pameran yang umumnya dituangkan dalam proposal pameran atau rencana pameran. Dalam proposal atau dokumen rencana pameran biasanya dicantumkan tujuan dari penyelenggaraan pameran. Tujuan-tujuan inilah yang menjadi criteria bagi penentuan keberhasilan suatu pameran bonsai.

Setiap orang dapat dengan mudah mengatakan suatu pameran bonsai sukses atau tidak setelah membandingkan antara proposal pameran dan hasil penyelenggaraan pameran. Perbandingan antara tujuan pameran dengan hasil pameran dapat disimpulkan apakah berhasil atau gagal.

Tujuan yang umum dalam pameran bonsai seperti jumlah peserta pameran, jumlah pengunjung, kualitas bonsai yang dipamerkan, jumlah stand bursa, besarnya biaya dan pemasukan dana, jumlah pihak yang menjadi sponsor, dampak di masyarakat dan lain sebagainya.

Rabu, 15 September 2010

Kesulitan yang Memuliakan



Beberapa hari yang lalu seorang sahabat silaturahim ke rumah. Sahabat yang satu ini memang sering bertandang ke rumah untuk tetap menjalin tali silaturahim atau untuk sharing tentang masalah yang sedang dihadapi. Tampilan fisik yang cakep, sikap dan tutur bahasa yang sangat sopan menjadi atribut harian sahabat yang satu ini, pastinya setiap orang akan merasa senang berinteraksi dengannya.
Setelah berbincang-bincang tentang aktivitas dan seabrek masalah yang menyertainya akhirnya pembicaraan mengarah kepada topik kualitas kepemimpinan. Memang saat ini sahabat yang satu ini memimpin suatu unit organisasi yang cukup kompleks. Dia bercerita tentang model kepemimpinan yang diterapkannya selama ini dan ternyata cukup efektif sehingga tujuan-tujuan yang ditetapkan dapat dicapai dengan sangat baik.
Di ujung topik pembicaraan kepemimpinan dan organisasi, sahabat ini mengungkapkan bahwa selama ia memimpin ternyata menghadapi berbagai macam kesulitan baru yang selama ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dulu ketika ia belum memimpin, hari-harinya hanya untuk mengurusi segala kepentingannya sendiri, uang....uang....dan uang. Ia tidak peduli sama sekali dengan kondisi lingkungan organisasinya, yang penting tujuan pribadinya tercapai.
Namun kini kondisinya berbeda 180 derajat. Setelah ia memimpin maka secara otomatis ia harus bertanggung jawab untuk menjalankan organisasi dengan segala keterbatasan sumber daya dan akuntabilitasnya. Setiap sumber daya yang dipergunakan untuk tujuan organisasi harus diperhitungkan dengan cermat efektivitas dan efisiensinya. Berbicara tentang efektivitas dan efisiensi inilah yang terkadang membuat kepala pusing.
Ada sesuatu hal yang membuat saya bangga dan tersenyum ketika ia menyatakan bahwa ia kini telah berubah. Ketika jadi karyawan ia banyak menuntut dan egois, tapi kini ketika ia memimpin maka ia harus banyak memberi serta mencontohkan kepada seluruh karyawan. Ia dituntut mampu bertindak secara cepat, tepat, tegas namun memperhatikan aspek-aspek dari sudut karyawan. Ia merasa banyak mengalami kesulitan dalam berbagai situasi, namun segala kesulitan yang dihadapi ia tanggapi dengan cukup tenang, kepala dingin dan yang paling penting adalah mampu membangun hubungan kerja yang harmonis di seluruh lini organisasi.
Singkatnya ia kini merasakan bahwa hidupnya jadi jauh lebih bermakna, walau masih muda usia kini ia harus mampu meneladankan dalam segala aspek bagi bawahannya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika ia mampu memperbaiki karyawannya baik di tataran organisasi maupun pribadi. Kini ia merasa menikmati hidup, lebih pandai bersyukur dan merasa dekat dengan Allah Swt.
Butir yang dapat disarikan dari cerita sahabat ini adalah:
  1. Lingkungan kita pasti berubah sehingga kita juga harus berubah agar mampu mempertahankan eksistensi dan unggul.
  2. Kekurangan sumber daya yang dapat menjadi kelemahan kita harus mampu diatasi sehingga menjadi kekuatan baru.
  3. Hambatan yang menjadi penghalang harus mampu diubah menjadi peluang.
  4. Sharing merupakan salah satu upaya penyelesaian masalah dan sebagai media pembelajaran yang berkelanjutan.

Kamis, 09 September 2010

Bonsai di Istana Gedung Agung

Iprik, Aryaguna "Lintas Batas" Yogyakarta


Cemara Duri, Wisnujakas "Lintas Batas" Yogyakarta


Beringin Korea, Tejo-Yogyakarta


Santigi (Pempis acidula), Sulis Ninja "Imagine" Surabaya


Serut (Streblus asper), Husny Bahasuan-Sidoarjo




Pacar Laut, Sulis Ninja "Imagine" Surabaya


Sejak Juni 2010 yang lalu, di halaman Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta dapat dilihat beberapa deretan pilar dengan bonsai-bonsai indah di atasnya. Yach, pihak Istana Negara telah bersepakat dengan Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN) untuk mendekorasi/menghias istana yang menjadi lambang kebanggaan Bangsa Indonesia ini dengan bonsai.
Bonsai-bonsai yang didisplay di Gedung Agung Yogyakarta ini merupakan bonsai hasil karya para seniman-seniman bonsai Indonesia bukan berasal dari luar negeri. Bonsai yang ditampilkan merupakan representasi kreativitas dan kerja keras seniman bonsai Indonesia. Siapa lagi yang mesti peduli dan bangga dengan bangsa ini jika bukan kita-kita yang mengaku bertanah air Indonesia.
Sudah beberapa tahun terakhir ini Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta yang menyimpan benda-benda seni dan budaya bermutu tinggi membuka diri untuk dikunjungi oleh masyarakat. Pihak Istana berupaya untuk menjadikan Gedung Agung sebagai rumah miliki bangsa Indonesia yang dapat dijadikan sarana pendidikan dan pembentukan karakter bangsa dan seni bonsai salah satunya.
Semoga dengan keberadaan bonsai-bonsai indah di halaman Gedung Agung Yogyakarta ini akan mampu merangsang kemajuan seni bonsai dan semakin meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bonsai di Indonesia. Majulah Seni Bonsai Indonesia, Jayalah Bangsa Indonesia.

Kamis, 05 Agustus 2010

Bukan Sekedar Hobi Bonsai







Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN) menyelenggarakan deklarasi dan pameran Seni Bonsai di Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta, 1-7 Juli 2010. Pameran nasional Seni Bonsai yang pertama kali digelar ini terbilang sangat sukses jika dilihat dari beberapa aspek yang sebelumnya telah ditargetkan.

Hal yang sangat menarik dari rangkaian kegiatan Seni Bonsai ini adalah lokasi pameran yang merupakan tempat sangat bersejarah bagi eksistensi NKRI, tempat ini sangat mudah dikunjungi masyarakat umum, untuk hiburan disuguhkan pentas seni angklung yang merupakan budaya Indonesia, diselenggarakan pentas tari-tarian dari Papua untuk hiburan dan penggalangan dana kemanusiaan bagi korban bencana gempa bumi di Biak Papua, selain itu digelar juga demonstrasi melukis bonsai oleh pelukis difabel (tunadaksa). Kegiatan juga tidak ketinggalan diisi dengan diskusi dan sarasehan Seni Bonsai dengan tema utama kreativitas serta keragaman.

Butir-butir penting yang dapat dijadikan hikmah dari sukses penyelenggaraan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
  1. Kerja keras dengan cara gotong royong akan memberi sukses penyelenggaraan suatu kegiatan.
  2. Bangsa Indonesia perlu meneladani kembali semangat perjuangan para pendahulu.
  3. Bangsa Indonesia harus mau dan mampu menghargai dan mengembangkan budaya kita.
  4. Rasa kemanusiaan harus dipupuk dan dikembangkan agar kita lebih peduli serta memberi manfaat bagi sesama.
  5. Setiap manusia memiliki kelebihan dalam segala bentuk sempurna ciptaan-Nya.
  6. Semangat untuk maju harus selalu dipupuk melalui pendidikan dan kreatif dalam mengerjakan segala sesuatu.

















Rabu, 21 Juli 2010

Pameran AKSISAIN I

Santigi (L), Budi Kirangan, Malang
The best in show


Beringin Arjuna (L), Ir. Bambang Subyandono Dipl. HE.,
Paguyuban Seni Bonsai Mataram, Yogyakarta.
Penghargaan Emas.


Santigi (M), Wahjudi D. Sutomo,
Forum Komunikasi Bonsai Surabaya,
Penghargaan Emas


Santigi (M), Wahjudi D. Sutomo,
Forum Komunikasi Bonsai Surabaya,
Penghargaan Emas.


Juniperus chinensisi (XL), Sukiyanto/Lik, Surabaya
Penghargaan Emas.


Sancang (L), Wahjudi D. Sutomo,
Forum Komunikasi Bonsai Surabaya,
Penghargaan Emas.


Santigi (L), Rony H. Toni, Nganjuk,
Sanggar Bonsai Mbah Suro Bledeg,
Penghargaan Emas.


Alhamdulillah, pameran I AKSISAIN telah terselenggara dengan baik pada tanggal 1-7 Juli 2010 di Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Pameran diikuti oleh lebih dari 100 bonsai terbaik terseleksi milik klub anggota AKSISAIN dan masyarakat umum lainnya. Dari seluruh peserta pameran bonsai tersebut 76 bonsai diikutkan untuk kontes bonsai dan pada akhirnya terpilih oleh juri sebanyak 7 bonsai dengan kategori peraih penghargaan emas dan 7 bonsai peraih penghargaan perak. Jika diamati dengan seksama maka bonsai-bonsai yang terpilih sebagai bonsai-bonsai terbaik tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai macam gaya dasar. Hal ini sesuai dengan tema pameran tersebut yaitu "kreativitas dan keragaman adalah kekuatan".

Menurut berbagai kalangan yang berasal dari para maestro, pebonsai senior, event organizer, pengunjung dan pengamat pameran, mereka menilai bahwa pameran seni bonsai I yang diselenggarakan oleh AKSISAIN ini tergolong sukses luar biasa. Kesuksesan ini diukur dari indikator jumlah peserta yang melebihi target yang ditentukan, kualitas pohon yang ditampilkan juga semuanya bonsai yang sudah siap dinikmati/jadi dan berkualitas tinggi, sistem & hasil penjurian kontes bonsai relatif baik, jumlah pengunjung yang datang sangat banyak serta berasal 80% masyarakat umum dan sisanya adalah para pebonsai.

Sukses penyelenggaraan pameran I AKSISAIN ini tentu tidak lepas dari segala jerih payah kerja keras panitia pameran, AKSISAIN, pihak-pihak terkait serta dukungan dari masyarakat. Beberapa pihak seperti dari media massa menilai bahwa pameran tersebut sangat sukses karena pemilihan momentum yang tepat untuk pameran. Lokasi pameran terletak di jantung kota Yogyakarta yang memiliki nilai kesejarahan yang sangat tinggi, dilingkupi oleh pusat-pusat pariwisata dan perdagangan, mudah dijangkau oleh wisatawan, eyecatching, bertepatan dengan musim liburan nasional-internasional, bertepatan dengan Festival Kesenian Yogyakarta yang telah menginternasional dan bertepatan dengan peringatan 1 abad Muhammadiyah. Intinya adalah bahwa pameran I seni bonsai Indonesia yang diselenggarakan oleh AKSISAIN top banget.......Bagi yang tidak sempat hadir di atas itu, beberapa foto-foto bonsai terbaik.

Kamis, 27 Mei 2010

Majalah Seni Bonsai Indonesia


Alhamdulillah, penerbit AKSISAIN telah selesai mencetak edisi perdana Majalah Seni Bonsai Indonesia yang sedianya diterbitkan awal Bulan Juni 2010. Melalui majalah bonsai terbitan AKSISAIN ini diharapkan akan mampu menambah media komunikasi dan pendidikan tentang seni bonsai di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa sumber informasi berupa media cetak relatif langka selama beberapa waktu ini. Hadirnya Majalah Seni Bonsai Indonesia ini kiranya dapat menjadi media penyegar bagi para penggemar bonsai.
Isi majalah bonsai terbitan AKSISAIN relatif bervariasi. Berbagai ulasan seputar bonsai baik dari segi teknik, gambar-gambar, agenda kegiatan, wawancara, liputan utama dan lain sebagainya akan dikemas untuk disajikan dengan cantik dan elegan kepada para pembaca. Kekayaan isi majalah tersebut tidak terlepas dari upaya penerbit untuk melibatkan wartawan profesional, kontributor, penulis tetap, kiriman dari anggota AKSISAIN serta partisipasi dari masyarakat umum yang ingin menulis di majalah tersebut.

Senin, 08 Maret 2010

BUTIR-BUTIR KESEPAKATAN ANGGOTA AKSISAIN


ASOSIASI KLUB SENI BONSAI INDONESIA


Wahyudi D. Sutomo memberi sambutan


Peresmian Lembaga Kajian Bonsai Indonesia


Sebagian anggota AKSISAIN


Diskusi Tim-Tim Kecil, sangat demokratis!


Peserta menyampaikan pendapat dalam diskusi

Perwakilan anggota AKSISAIN sebelum pulang


Secara umum ilmu itu selalu berkembang seiring dengan perjalanan waktu. Demikian juga ilmu yang berkaitan dengan bonsai. Oleh karena itu mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan itu.

Menapaki kehidupan perbonsaian di Indonesia yang semakin marak serta menyadari bahwa perkembangan sudah menjadi kebutuhan yg mendesak maka dengan dilandasi oleh keinginan yang luhur, jiwa yang bersih, pikiran yang positif serta wawasan masa depan yang baik maka dengan semangat yang membara terbentuklah embrio ASOSIASI KLUB BONSAI INDONESIA yang disingkat AKSISAIN pada tanggal 17 januari 2010 yang lalu bersamaan dengan pameran bonsai di Pemalang Jawa Tengah.

Sebagai organisasi yang baik serta bertanggung jawab tentu dibutuhkan visi & misi yang jelas karena visi & misi yang jelas itu akan menjadi acuan bagi organisasi dalam menjalankan aktivitasnya.

Visi: terwujudnya seni dan ilmu bonsai yang dinamis dalam konstelasi lingkungan hidup dan budaya Indonesia.

Misi:

  1. a. mengutamakan apresiasi serta kajian seni dan estetika agar dihasilkan karya seni bonsai yang indah penuh dengan rasa takjub, terpesona serta mengarah pada bonsai khas Indonesia;
  2. b. mengembangkan kreativitas seni bonsai sesuai dengan Budaya Indonesia;
  3. c. mengembangkan profesionalitas sumber daya manusia sehingga dapat tercipta seni bonsai yang berkualitas;
  4. d. mengedepankan program yang mendasarkan pada kelestarian lingkungan hidup untuk mewujudkan keseimbangan alam.

Program:

a. jangka panjang (5-10 tahun):

  1. menciptakan hasil karya Seni Bonsai Indonesia yang berkualitas dan unggul;
  2. membangun tata kelola industri bonsai di Indonesia secara komprehensif dan terintegrasi utuh yang membawa manfaat bagi anggota asosiasi dan masyarakat umum lainnya;
  3. menampilkan hasil-hasil karya Seni Bonsai Indonesia yang berkualitas dan unggul di tataran nasional setiap 1 tahun sekali dan internasional 5 tahun sekali;


b.
jangka menengah (3-5 tahun):

  1. membangun pusat-pusat seni bonsai di daerah-daerah;
  2. membangun tata niaga bonsai yang baik pada tataran nasional & internasional;
  3. mendirikan pusat-pusat penelitian di klub masing-masing dan pengembangan seni bonsai;
  4. mendorong anggota asosiasi untuk terus berkarya, mengasah kreativitas dan berinovasi dalam seni bonsai;


c.
jangka pendek (1 tahun):

  1. menyusun syarat dasar berdirinya asosiasi dan mendaftarkan paling lambat Bulan April 2010;
  2. mensosialisasikan keberadaan Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN) kepada klub dan masyarakat seni bonsai dan masyarakat umum lainnya;
  3. menginventarisasi klub-klub, paguyuban, komunitas, sanggar dan lain sebagainya yang secara suka rela menggabungkan diri dalam asosiasi beserta segenap sumber dayanya.
  4. menyelenggarakan pertemuan, sarasehan pendidikan & pelatihan untuk menjalin komunikasi antar klub anggota asosiasi dan shareholder nasional & internasional setiap triwulan;
  5. menerbitkan majalah khusus bonsai untuk media komunikasi, pembelajaran dan promosi setiap triwulan;
  6. membangun web site ”AKSISAIN” untuk media komunikasi cyber global;
  7. menyelenggarakan deklarasi berdirinya asosiasi dan pameran bersama yang bersifat monumental diawali pada pameran perdana Bulan Juli di Yogyakarta;
  8. menyusun standarisasi Bonsai Indonesia yang berkualitas dan unggul melalui penerbitan buku bonsai-bonsai terbaik Indonesia 1 tahun sekali;
  9. menjalin komunikasi dan kerja sama dengan para stakeholders nasional maupun internasional (organisasi sejenis; seni, budaya, pendidikan, pariwisata; industri kerajinan; lembaga keuangan dan lain-lain);
  10. mengembangkan saluran-saluran dan media komunikasi yang efektif bagi anggota asosiasi serta masyarakat;
  11. membangun corporate culture/budaya organisasi yang baik.

Kegiatan pertemuan anggota embrio AKSISAIN di Surabaya tersebut dihadiri oleh lebih kurang 100 orang yang merupakan perwakilan dari 42 buah klub, paguyuban, komunitas seni bonsai yang ada di Indonesia. Pada pertemuan di atas juga dideklarasikan Lembaga Kajian Bonsai Indonesia yang bergerak di bidang pengembangan dan penelitian seni bonsai secara ilmiah. Semoga dengan adanya lembaga kajian ini seni bonsai di Indonesia dapat semakin maju dengan pesat sehingga mampu menghasilkan karya seni bonsai yang berkualitas dan unggul dalam tataran perbonsaian masyarakat bonsai internasional.

Rabu, 24 Februari 2010

GONG XI FAT CHOI

Pameran bonsai di Chinatown Jogja
dalam rangka perayaan imlek 2010:




































Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bersifat plural, tersusun atas lebih dari tiga ratus suku bangsa yang mendiami belasan ribu pulau-pulau yang terhubung oleh lautan yang maha luas. Keragaman suku bangsa dan budaya yang dimiliki merupakan kekayaan serta kekuatan dari Bangsa Indonesia yang perlu dikelola dengan baik.
Keragaman Bangsa Indonesia merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa agar setiap manusia lebih mengenal orang lain, dirinya sendiri dan pada akhirnya menjadi jauh lebih mengenal Sang Pencipta. Perbedaan warna kulit hitam, putih, sawo matang maupun kuning; bentuk mata sipit, bulat maupun oval; bentuk rambut lurus, keriting maupun berombak semakin menjadikan dunia ini indah.
Bangsa Indonesia akan semakin kuat jika memiliki karakter yang kokoh dan berjiwa besar mampu berasimilasi dengan budaya lain yang sesuai dengan jati diri Bangsa Indonesia. Berasimilasi dan berakulturasi bukanlah suatu kesalahan ataupun kemunduran, malah sebaliknya hal tersebut akan semakin memperkokoh dan membesarkan Bangsa Indonesia.
Akhirnya, Lintas Batas mengucapkan Gong Xi Fat Choi bagi saudara-saudara yang merayakan. Semoga Tuhan melimpahkan berkah, kemakmuran dan kebahagiaan bagi saudara dan kita sekalian.

Jumat, 12 Februari 2010

Jogja's 2009: The Power of Harmony



wisnujakas "Lintas Batas"
setelah sarasehan dan demonstrasi:
The Power of Harmony



Serut-H. Abah Tony

Serut-Billy Anggara

Serut-Tejo

Serissa Foetida

Santigi-Wahyu

Santigi-Wahyudi D. Soetomo

Santigi-Wahyudi D. Soetomo

Santigi

Santigi-Kuwat

Santigi-Kim Liong

Santigi

Santigi

Santigi

Santigi

Santigi

Sancang

Sancang

Sakura

Mirten

Mustam-Ir. Bambang Subyandono, Dipl. Eng

Mirten

Mirten

Lohansung

Lohansung

Loa

Landepan "Lintas Batas"

Lada-lada

Jeruk Kingkit

Kimeng

Kimeng

Kawista Batu-H. Abah Tony

Kawista Batu-Hadi Sutomo

Kawista Batu-Billy Anggara

Kawista Batu-Ir. Bambang Subyandono, Dipl. Eng

Jeruk Kingkit

Jeruk Kingkit

Jeruk kingkit

Jeruk Kingkit

Jambu Peking

Iprik-Wahyudi D. Soetomo

Iprik

Ileng-ileng

Hokiantea

Hokiantea

Hokiantea

Hokiantea

Hokiantea

Hokiantea

Hokiantea

Gulo Gumantung

Gulo Gumantung "Lintas Batas"

Beringin Korea

Beringin Dollar

Bunut-Wahyudi D. Soetomo

Bougenville

Boxus

Beringin Elegant

Beringin

Beringin Arjuna

Beringin

Beringin Karet

Asem Jawa

Asem Jawa

Asem Jawa

Asem Jawa

Asam Jawa


Arabica

Arabica

Arabica

Anting Putri

Anting Putri

Ampelas

Ampelas

Kawista Batu

Santigi