Kamis, 21 Januari 2010

Pembentukan Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN)

Kami Peduli bukan untuk sekedar pasang aksi

Pada Hari Minggu tanggal 17 Januari 2010 di Kota Pemalang Jawa Tengah telah berlangsung pertemuan klub-klub, paguyuban seni bonsai yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Dalam forum tersebut disepakati oleh perwakilan klub-klub untuk mendirikan suatu wadah/forum komunikasi yang diberi nama Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia yang disingkat dengan AKSISAIN.

AKSISAIN dibentuk untuk dapat menjadi media berkomunikasi klub-klub seni bonsai di Indonesia sehingga terjadi percepatan peningkatan kualitas bonsai-bonsai Indonesia serta membawa manfaat bagi pebonsai dan masyarakat umum lainnya. Adanya AKSISAIN akan mampu meningkatkan arus informasi dan komunikasi antar klub, mampu saling bantu untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi oleh klub seni bonsai dan daerah.

Untuk dapat mewujudkan tujuan pembentukan AKSISAIN tersebut maka AKSISAIN akan lebih banyak melakukan aksi-aksi nyata menciptakan lingkungan dan iklim industri bonsai yang kondusif. Peran yang akan dominant dilakukan oleh AKSISAIN adalah menjadi fasilitator dan katalisator kemajuan seni bonsai di Indonesia.

Pada saat ini AKSISAIN tidak memiliki struktur organisasi yang bersifat structural maupun fungsional, tapi lebih cenderung menjadi struktur organisasi paguyuban yang kreatif. Tidak terdapat pengurus pusat, tidak terdapat kantor pusat atau secretariat pusat karena setiap daerah atau area akan diberdayakan semaksimal mungkin sehingga menjadi pusat-pusat kemajuan industri bonsai. Daerah akan dijadikan basis dan puncak-puncak kemajuan industri bonsai Indonesia. Untuk kelancaran komunikasi dan pengorganisasian maka di beberapa daerah dibentuk koordinator yang berfungsi untuk penghubung, pemandu klub-klub bonsai di daerah itu sendiri. Koordinator tidak ditunjuk tetapi berdasarkan kesepakatan dan kesediaan dari calon coordinator itu sendiri. Menjadi coordinator area bukanlah untuk memerintah dan berkuasa di area tersebut tetapi merupakan kesediaan untuk melayani, membesarkan, meningkatkan dan membaikkan klub-klub bonsai yang ada di area dikoordinasikasikan. Seorang coordinator area harus mau dan mampu berkorban demi klub-klub yang ada di area masing-masing.

Di dalam organisasi AKSISAIN juga tidak ada keputusan-keputusan yang bersifat terlalu mengatur dan membatasi kemerdekaan serta kreativitas klub-klub bonsai yang menjadi anggotanya. Yang ada hanyalah kode etik atau komitmen moral yang menjadi tali pengikat antar klub dan organisasi serta panduan berinteraksi di dalam organisasi serta dengan pihak di luar organisasi dengan baik dan santun. Memang hal tersebut sangat berat, menjadi tantangan bagi seluruh anggotanya untuk dapat melaksanakan.

Akhirnya selamat atas berdirinya Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN), semoga mampu mewujudkan visi dan misinya serta memberi manfaat yang optimal bagi masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia.

Selasa, 19 Januari 2010

Membangun Harmoni di Atas Perbedaan



Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural, tersusun atas belasan ribu pulau-pulau yang dihubungankan oleh wilayah perairan dan dinaungi oleh angkasa biru. Di atas wilayah Indonesia hidup lebih dari 200 juta penduduk yang terdiri lebih dari 300 suku bangsa yang masing-masing memiliki budaya dan keunggulan. Bangsa Indonesia sungguh sangat beragam dan kaya.

Diharapkan seluruh elemen Bangsa Indonesia termasuk seluruh suku, kelompok dan komunitas lainnya dapat hidup berdampingan dengan serasi, selaras dan membentuk harmoni kehidupan yang indah. Selayaknya seluruh individu memiliki kebanggaan yang positif terhadap diri sendiri, mengembangkan setiap potensi yang dimiliki sehingga membawa kemanfaatan bagi bangsa dan negara. Setiap individu harus memahami bahwa Bangsa Indonesia didirikan di atas kemajemukan bangsa sehingga hal ini harus dihormati dan dijunjung tinggi serta menjadi ragam kekayaan bangsa.

Keanekargaman Bangsa Indonesia harus dipandang sebagai anugerah Tuhan YME sehingga harus disyukuri dan semua pihak harus dapat mengendalikan diri mereka serta mentaati pranata-pranata di dalam masyarakat Indonesia. Agar berbagai suku bangsa, kelompok serta komunitas-komunitas lainnya dapat hidup berdampingan dengan harmonis maka diperlukan pemahaman sebagai berikut:

1. Memahami hakikat persamaan dan perbedaan manusia

Setiap orang baik yang berada di dalam organisasi maupun yang tidak berada dalam organisasi pada prinsipnya memiliki persamaan universal yang meliputi:

a. Mempunyai sifat lebih mengutamakan diri dan keluarga dekatnya.

b. Menganggap dirinya mempunyai peranan yang penting.

c. Senang diberi penghargaan berupa materi maupun non materi.

d. Tidak menyenangi penderitaan.

e. Berusaha menghindari bahaya.

f. Menyenangi kepuasan dan kenikmatan sehinga akan selalu berusaha untuk mendapatkannya.

g. Cenderung menghindari atau meminimalisasi risiko-risiko.

Selain memiliki persamaan universal maka setiap orang juga memiliki perbedaan universal yang meliputi:

a. Mempunyai perbedaan cara berpikir.

b. Mempunyai perbedaan dalam merespon keadaan di sekitarnya.

c. Mempunyai perbedaan emosi dan perasaan.

d. Mempunyai perbedaan bertindak.

e. Mempunyai perbedaan dalam kepribadian.

f. Mempunyai perbedaan dalam mencapai tingkat kepuasan.

g. Mempunyai preferensi yang berbeda.

h. Mempunyai tingkat stamina yang berbeda yang berpengaruh pada tingkat kinerja.

2. Memahami argumen

Pengalaman menunjukkan bahwa para pihak yang berkonflik pada umumnya memiliki banyak argumen yang menjadi pegangan dan alasan untuk menyerang pihak lawan. Mereka sering kali meremehkan argumen pihak lawan dan menganggap bahwa argumen pihak lawan adalah salah. Pada umumnya perbedaan yang terjadi karena sudut pandang yang digunakan untuk melihat suatu hal berbeda sehingga jelas sekali bahwa hasil penafsiran dan argumen yang akan dikemukakan oleh masing-masing pihak akan berbeda.

Seharusnya agar terjadi titik temu dalam melihat suatu hal maka para pihak menggunakan sudut pandang yang sama sehingga hasil kesimpulan yang akan didapat akan mendekati sama dan dapat diterima oleh semua pihak.

Pengalaman yang sering dijumpai sehari-hari menyiratkan bahwa pengungkapan opini dan sudut pandang yang sedikit berbeda biasanya akan dapat membantu untuk mencapai penyelesaian yang lebih baik. Argumen merupakan resulusi perbedaan yang diperoleh melalui proses diskusi. Hal ini merupakan prinsip utama yang harus diperhatikan terlebih dahulu.

Untuk dapat memperoleh argumen sebagai resolusi perbedaan maka argumen perlu dikelola atau diarahkan dengan cara:

a. Analisis isi

Masing-masing argumen yang berbeda-beda perlu dilakukan analisa secara cermat dan mendalam sehingga dapat memunculkan kebaikan dan keburukan dari suatu argumen. Cara yang digunakan adalah dengan pendekan analisa isi (content analysis). Melalui analisa isi ini akan diketahui keunggulan/keistimewaan suatu argumen dan hal ini secara langsung maupun tidak langsung akan dapat menyadarkan semua pihak yang terlibat dalam analisa argumen ini serta akan dapat mencegah munculnya suatu konflik.

b. Membuat alternatif argumen

Perhatian yang memadai atau kurang memadai disebabkan karena kandungan logika argumen. Perhatian ang kurang memadai tentang suatu objek permasalahan akan menyebabkan kandungan argumennya kurang berarti dan kurang bermakna. Oleh karena itu di dalam menganalisa suatu argumen sebaiknya menggunakan banyak perspektif dan dari banyak perspektif ini kemudian dibobot untuk selanjutnya masing-masing pembobotan dibandingkan dengan relevansi permasalahan yang ada.

Jika pihak lain mempunyai kualitas pemikiran yang rendah maka pihak yang memiliki kualitas pemikiran yang tinggi sebaiknya dapat menjelaskan sesuai dengan derajat pengetahuan mereka dengan menggunakan pendekatan menggiring, merangkul serta menunjukkan kelemahannya.

c. Mengendalikan emosi diri

Emosi dan perasaan yang tidak terkendali jika diungkapkan kepermukaan cenderung menjadi benih konflik atau benih pertikaian. Emosi dan perasaan yang terpendam juga dapat menjadi benih konflik. Pikiran boleh panas tetapi hati harus tetap dingin. Hati yang dingin akan dapat dijadikan sebagai pengendali emosi dan perasaan yang tidak terkendali. Hati yang dingin dapat menurunkan tingkat emosi. Secara umum, perbedaan argumen dapat terjadi, jika hal ini benar-benar terjadi maka dibutuhkan kesadaran dan kemauan untuk meredam di dalam hati emosi dan perasaan yang terkendali sehingga tidak muncul kepermukaan atau terpendam yang akan menjadi benih konflik atau pertikaian. Diperlukan kesadaran dan kemauan untuk menerima dan menghargai perbedaan serta keputusan yang telah disepakati.

3. Memahami manusia sebagai makhluk aktualisasi diri

Abraham Maslow mengemukakan bahwa pada umumnya manusia memiliki motivasi dalam setiap perbuatannya. Motivasi manusia lebih dominan disebabkan karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan yang mendasar bagi manusia adalah kebutuhan untuk bertahan hidup yaitu kecukupan fisiologisnya. Selanjutnya kebutuhan meningkat pada kebutuhan akan rasa aman bagi diri dan milik pribadi. Apabila dua kebutuhan di atas telah terpenuhi maka kebutuhan akan meningkat lagi menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri. Pendapat Maslow ini berlaku secara umum pada masyarakat manusia yang sedang berkembang untuk menuju masyarakat maju.

Namun di dalam masyarakat yang sudah maju teori hirarki kebutuhan Maslow ini berlaku terbalik. Menurut Frederick Herzberg, pada masyarakat modern yang menjadi kebutuhan dasarnya adalah kebutuhan aktualisasi diri dan untuk selanjutnya adalah kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan untuk memenuhi fisiologi manusia.


Dari sedikit uraian di atas maka dapat kita ambil butir-butir indah untuk dapat membangun harmoni di atas perbedaan Bangsa Indonesia, perlu memahami: persamaan & perbedaan manusia; argumen; manusia sebagai makhluk aktualisasi diri. Kesadaran serta keikhlasan untuk melakukan butir-butir di atas dari diri sendiri dan hal-hal kecil yang dapat dikerjakan.

Jumat, 15 Januari 2010

BEDA BUKAN BERARTI MUSUH

Karena berbeda maka menjadi sangat indah!


Allah Swt. menciptakan alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan makhluk yang dianggap kembar sekalipun pasti tidak identik dalam segala hal. Menurut penafsiran dan pemahaman penulis, segala perbedaan tersebut diciptakan Allah agar manusia sadar bahwa Allah Maha Kuasa, selain itu keragaman merupakan ayat-ayat yang terhampar di seluruh jagat raya untuk dijadikan bahan belajar bagi manusia sehingga bisa menjadi semakin sempurna akhlaqnya.

Setiap perbedaan yang ada dapat ditafsirkan sebagai kekurangan/kelemahan dari yang memiliki perbedaan tersebut akan tetapi dapat juga ditafsirkan sebagai kelebihan/keunggulan. Bagi manusia-manusia yang berpikir dan beriman, setiap perbedaan yang ada seharusnya disikapi dengan arif dan bijaksana. Dengan adanya perbedaan yang ditemukan maka seyogianya dijadikan bahan atau peluang untuk mempelajarinya sehingga pengetahuan kita yang selama ini tidak ada atau kurang maka akan menjadi tahu/mengerti.

Perbedaan yang ada baik yang ditafsirkan sebagai kekurangan atau kelebihan maka sebaiknya dijadikan sarana untuk saling melengkapi, saling menutupi, saling menguatkan satu dengan yang lain. Sebagai contoh: sekrup dan baut merupakan dua hal yang sangat berbeda, tetapi dengan perbedaan yang ada tersebut jika digabung dan dikombinasikan dengan tepat maka akan mampu menghasilkan manfaat dan memberi kekuatan yang hebat bagi barang-barang yang disatukan antara sekrup dan baut tersebut. Bayangkan jika untuk menggabungkan, menguatkan suatu barang hanya digunakan sekrup saja atau baut saja maka tentu tidak akan mampu menghasilkan kekuatan seperti kekuatan gabungan sekrup dan baut.

Dunia ini menjadi sangat indah karena ada perbedaan warna, ada perbedaan bentuk, ada perbedaan waktu dan banyak lagi perbedaan. Mari kita bayangkan, bagaimana akan menjadi sangat membosankan jika seluruh pepohonan dari akar, batang, ranting, daun, bunga, buahnya hanya berwarna coklat semua atau hijau semua atau bahkan tanpa warna semua. Bayangkan jika manusia di muka bumi ini berjenis kelamin wanita semua, memiliki bentuk raut muka yang datar saja tanpa lekukan mata, hidung, pipi, bibir dan lain sebagainya.

Dari ilustrasi sederhana di atas itu saja tampak bahwa keseragaman tanpa perbedaan akan berdampak membosankan, tidak akan merangsang terjadi perkembangan/kemajuan atau dinamika kehidupan. Sebaliknya dapat kita rumuskan bahwa adanya perbedaan, keragaman merupakan rahmat dari Allah Swt., hal itu merupakan hukum wajib dari Sang Pencipta yang tidak boleh ditutup-tutupi, tidak diakui atau bahkan dilarang. Barang siapa tidak mengakui perbedaan, menghalangi orang lain untuk berbeda maka sesungguhnya telah melawan hukum alam, hukum yang diciptakan oleh Allah Yang Maha Mengatur. Barang siapa tidak mentaati hukum yang dibuat oleh Yang Maha Mengatur maka niscaya kehancuran dan kesesatan bagi mereka.