Rabu, 15 September 2010

Kesulitan yang Memuliakan



Beberapa hari yang lalu seorang sahabat silaturahim ke rumah. Sahabat yang satu ini memang sering bertandang ke rumah untuk tetap menjalin tali silaturahim atau untuk sharing tentang masalah yang sedang dihadapi. Tampilan fisik yang cakep, sikap dan tutur bahasa yang sangat sopan menjadi atribut harian sahabat yang satu ini, pastinya setiap orang akan merasa senang berinteraksi dengannya.
Setelah berbincang-bincang tentang aktivitas dan seabrek masalah yang menyertainya akhirnya pembicaraan mengarah kepada topik kualitas kepemimpinan. Memang saat ini sahabat yang satu ini memimpin suatu unit organisasi yang cukup kompleks. Dia bercerita tentang model kepemimpinan yang diterapkannya selama ini dan ternyata cukup efektif sehingga tujuan-tujuan yang ditetapkan dapat dicapai dengan sangat baik.
Di ujung topik pembicaraan kepemimpinan dan organisasi, sahabat ini mengungkapkan bahwa selama ia memimpin ternyata menghadapi berbagai macam kesulitan baru yang selama ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dulu ketika ia belum memimpin, hari-harinya hanya untuk mengurusi segala kepentingannya sendiri, uang....uang....dan uang. Ia tidak peduli sama sekali dengan kondisi lingkungan organisasinya, yang penting tujuan pribadinya tercapai.
Namun kini kondisinya berbeda 180 derajat. Setelah ia memimpin maka secara otomatis ia harus bertanggung jawab untuk menjalankan organisasi dengan segala keterbatasan sumber daya dan akuntabilitasnya. Setiap sumber daya yang dipergunakan untuk tujuan organisasi harus diperhitungkan dengan cermat efektivitas dan efisiensinya. Berbicara tentang efektivitas dan efisiensi inilah yang terkadang membuat kepala pusing.
Ada sesuatu hal yang membuat saya bangga dan tersenyum ketika ia menyatakan bahwa ia kini telah berubah. Ketika jadi karyawan ia banyak menuntut dan egois, tapi kini ketika ia memimpin maka ia harus banyak memberi serta mencontohkan kepada seluruh karyawan. Ia dituntut mampu bertindak secara cepat, tepat, tegas namun memperhatikan aspek-aspek dari sudut karyawan. Ia merasa banyak mengalami kesulitan dalam berbagai situasi, namun segala kesulitan yang dihadapi ia tanggapi dengan cukup tenang, kepala dingin dan yang paling penting adalah mampu membangun hubungan kerja yang harmonis di seluruh lini organisasi.
Singkatnya ia kini merasakan bahwa hidupnya jadi jauh lebih bermakna, walau masih muda usia kini ia harus mampu meneladankan dalam segala aspek bagi bawahannya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika ia mampu memperbaiki karyawannya baik di tataran organisasi maupun pribadi. Kini ia merasa menikmati hidup, lebih pandai bersyukur dan merasa dekat dengan Allah Swt.
Butir yang dapat disarikan dari cerita sahabat ini adalah:
  1. Lingkungan kita pasti berubah sehingga kita juga harus berubah agar mampu mempertahankan eksistensi dan unggul.
  2. Kekurangan sumber daya yang dapat menjadi kelemahan kita harus mampu diatasi sehingga menjadi kekuatan baru.
  3. Hambatan yang menjadi penghalang harus mampu diubah menjadi peluang.
  4. Sharing merupakan salah satu upaya penyelesaian masalah dan sebagai media pembelajaran yang berkelanjutan.

Kamis, 09 September 2010

Bonsai di Istana Gedung Agung

Iprik, Aryaguna "Lintas Batas" Yogyakarta


Cemara Duri, Wisnujakas "Lintas Batas" Yogyakarta


Beringin Korea, Tejo-Yogyakarta


Santigi (Pempis acidula), Sulis Ninja "Imagine" Surabaya


Serut (Streblus asper), Husny Bahasuan-Sidoarjo




Pacar Laut, Sulis Ninja "Imagine" Surabaya


Sejak Juni 2010 yang lalu, di halaman Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta dapat dilihat beberapa deretan pilar dengan bonsai-bonsai indah di atasnya. Yach, pihak Istana Negara telah bersepakat dengan Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (AKSISAIN) untuk mendekorasi/menghias istana yang menjadi lambang kebanggaan Bangsa Indonesia ini dengan bonsai.
Bonsai-bonsai yang didisplay di Gedung Agung Yogyakarta ini merupakan bonsai hasil karya para seniman-seniman bonsai Indonesia bukan berasal dari luar negeri. Bonsai yang ditampilkan merupakan representasi kreativitas dan kerja keras seniman bonsai Indonesia. Siapa lagi yang mesti peduli dan bangga dengan bangsa ini jika bukan kita-kita yang mengaku bertanah air Indonesia.
Sudah beberapa tahun terakhir ini Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta yang menyimpan benda-benda seni dan budaya bermutu tinggi membuka diri untuk dikunjungi oleh masyarakat. Pihak Istana berupaya untuk menjadikan Gedung Agung sebagai rumah miliki bangsa Indonesia yang dapat dijadikan sarana pendidikan dan pembentukan karakter bangsa dan seni bonsai salah satunya.
Semoga dengan keberadaan bonsai-bonsai indah di halaman Gedung Agung Yogyakarta ini akan mampu merangsang kemajuan seni bonsai dan semakin meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bonsai di Indonesia. Majulah Seni Bonsai Indonesia, Jayalah Bangsa Indonesia.