Selasa, 07 Desember 2010

Jadilah Kaya

Pak Putut Sugito, BA di antara pemula

       Beberapa hari yang lalu saya bersilaturahim dengan rekan-rekan sesama penghobi seni bonsai di Ponorogo Jawa Timur. Kebetulan acara waktu itu bertepatan dengan sebuah pagelaran pameran Seni Bonsai Indonesia V yang diusung oleh Samandiman Bonsai Club. Perjalanan darat yang saya lakukan sebenarnya berjalan kurang lancer karena sempat salah jalan hingga lebih dari satu setengah jam. Kejadian itu walaupun agak merisaukan namun saya coba untuk menikmati pemandangan alam yang ada. Kapan lagi saya sampai di tempat indah seperti itu kalau tidak karena kesasar?
       Setelah menyusuri jalan yang penuh dengan kelokan seksi selama rute kesasar ini akhirnya saya tiba di Bumi Reog, daerah tempat lahirnya budaya Bangsa Indonesia yang adi luhung dan sangat mempesona. Rekan-rekan yang berada di lokasi pameran menyambut saya dan rombongan dengan sangat baik dan penuh dengan keakraban. Pada waktu itu rekan-rekan dan panitia pameran sedang sibuk mempersiapkan acara penjurian peserta kontes bonsai serta persiapan ini dan itu untuk acara pembukaan pameran yang sedianya akan dilangsungkan malam harinya.
       Ketika sedang menikmati suasana sambil menunggu proses penjurian, tampak dari pintu sebelah utara lokasi pameran berjalan masuk seorang yang sudah sangat matang didampingi seorang pemuda yang gagah. Orang-orang yang berada di tempat itu langsung berhambur menyambut kehadiran mereka serta memberi jabat tangan dan penghormatan yang sangat dalam serta santun. Dalam benak saya bertanya, “O….o….siapa dia?” Belum sempat pertanyaan itu memperoleh jawaban tanpa disangka Beliau mengucapkan satu pertanyaan kepada yang ada di tempat itu, “Mana Kapolda Jogja?” Semua yang ada terdiam dan masih bingung dengan pertanyaan beliau ini karena pada waktu itu tidak ada dan tidak diagendakan kehadiran Kapolda Jogja di acara tersebut. Sesaat kemudian Beliau mengulang pertanyaan yang sama, saya juga masih terdiam karena saya bukan atau belum menjadi seperti pertanyaanya (he….he….he…. just joke!).
       Selanjutnya tuan rumah yang paling senior mengenalkan Beliau kepada saya dan saya pun mengenalkan diri kepadanya. Ternyata Beliau adalah Pak Putut Sugito, B.A. Saat kami bersalaman dengan erat dan mantap, pandangan beliau menatap tajam namun tidak menghakimi dan menyakiti, kemudian untaian senyum terangkai dari bibir Beliau. Dalam hati saya berkata, “Pria yang sangat berkarakter!” Setelah beberapa menit berlalu dengan sejumlah dialog, baru saya tahu bahwa Pak Putut ini adalah seorang tokoh yang sangat popular di kalangan masyarakat Ponorogo. Menurut penuturan rekan-rekan, hampir seluruh orang dari tua hingga anak-anak di Ponorogo tahu profil Pak Putut. Beliau adalah sesepuh, orang tuanya masyarakat Ponorogo.
       Dari obrolan yang kami lakukan akhirnya saya tahu bahwa dulunya Pak Putut juga penggemar bonsai. Beliau mulai mempunyai hobi seni bonsai sejak tahun 1970, jauh lebih awal dibanding Ismak Risandi atau senior yang lainnya. Baru tahu pula saya bahwa Beliau ini adalah seorang penganut Seni Bonsai Tauhid. Segala hal yang berkaitan dengan seni bonsai dikaitkan dengan Keesaan dan Kebesaran Allah Swt. Sungguh pribadi yang sangat luar biasa.
       Dalam salah satu obrolan kami, tiba-tiba beliau memandang saya dengan dalam dan penuh arti kemudian bertutur, “Mas, Njenengan (Anda) harus kaya!” Saat itu saya belum memberi respon yang begitu berarti namun berupaya untuk semakin meningkatkan perhatian dan berupaya untuk memaknai perkataan beliau dengan kecerdasan spiritual (wah….topik yang berat nich, batin saya waktu itu). Ujar Beliau selanjutnya, “Dengan menjadi kaya maka Anda akan dapat melakukan banyak hal untuk membantu banyak orang dan memberi manfaat bagi masyarakat. Jaman sekarang ini untuk dapat berbuat banyak harus orang harus kaya dalam segala hal yang baik-baik. Memang untuk dapat berbuat baik dan membantu yang lain tidak mutlak harus kaya, tapi akan jauh lebih mudah dan baik lagi jika memiliki semua piranti yang dibutuhkan sehingga akan lebih mampu bermanfaat bagi banyak orang.”
       Secara cepat, tegas dan mantap segera saya sambut petuah dari yang patut diteladani ini dengan perkataan, “Inggih Pak, dalem nyuwun donga kaliyan pangestunipun (iya Pak,saya mohon doa dan restunya). Hati saya semakin mantap ketika Beliau menjawab, “Saya doakan semoga menjadi orang yang kaya, sehat dan selamat!”
       Detik-detik berikutnya terjadi dialog panjang dalam diri saya antara batin dan pikiran. Hal yang disampaikan Pak Putut sangat benar. Untuk dapat menolong orang lain dan memberi manfaat untuk banyak orang dibutuhkan berbagai sumber daya tidak hanya yang berwujud uang, harta benda maupun sumber daya tangible lainnya. Sumber daya yang tidak berwujud pun juga akan sangat dibutuhkan dan membantu jika saya memilikinya. Semakin banyak tersedia sumber daya atau modal dalam arti luas maka logikanya ditambah dengan kesediaan dan keikhlasan untuk berbagi dengan sesama maka akan mampu memberi manfaat bagi banyak pihak.
       Namun demikian untuk berbuat kebajikan, membantu yang lain serta memberi manfaat bagi sesama tentu tidak perlu menunggu untuk kaya dulu baru berbuat. Dalam kondisi seperti apa saja tentu saya dapat melakukan hal-hal baik dan bermanfaat, mumpung masih bias melakukan maka seyogianya berbuat karena kita tidak tahu apakah masih akan ada kesempatan beberapa menit yang akan datang, besok, bulan depan atau tahun depan bagi kita? Sesungguhnya manusia terlahir dalam keadaan telanjang tanpa membawa bekal, jika sekarang memiliki sesuatu tentu saja itu hanya karena campur tangan dari Allah, itu semua milik Allah yang dititipkan. Semua titipan itu dilekatkan hak guna pakai, jadi dapat digunakan untuk kepentingan kita atau untuk menyebarkan kebaikan dan manfaat.
       Tanpa terasa saya terlarut dalam dialog pribadi dan tahu-tahu penjurian bonsai telah selesai. Kini waktunya menikmati sate Ponorogo yang sangat masyur. Roda-roda karet akhirnya membawa saya ke Nologaten gang sate, warung sate Pak Tukri telah menanti.