Jumat, 29 April 2011

Tata Kelola Seni BONSAI


“Kelemahan kita adalah lebih cenderung pada kualitas SDM pelaku seni bonsai dan tata kelola bonsai yang perlu ditingkatkan.”

Berbicara tentang tantangan bonsai Indonesia berarti kita melihat kondisi perkembangan bonsai di negara-negara lain dan selanjutnya dibandingkan dengan kondisi dunia bonsai kita saat ini. Di negara-negara yang mengenal bonsai jauh lebih awal dibanding kita, terjadi perkembangan yang beragam. Masih ada seniman bonsai yang menjadikan bonsai hanya sebaga obyek saja namun sebagian besar lainnya lagi menjadikan bonsai sebagai obyek dan subyek seni bonsai itu sendiri. Ini berarti bahwa para senimannya terus berkreasi menggunakan bahan-bahan yang ada jauh melampaui pakem-pakem dasar bonsai. Seniman bonsai di luar yang menghasilkan bonsai indah mayoritas berupaya melakukan proses rekayasa (reengineering) dan make over dari bahan yang ada bukan sekedar merawat bahan bonsai yang dikumpulkan dari alam.
Kreativitas dan inovasi ini dipicu oleh keterbatasan jenis dan jumlah bahan bonsai yang ada di negara-negara tersebut serta dipicu oleh pemahaman dan apresiasi tentang seni yang memadai. Kemapanan ekonomi yang dimiliki oleh seniman/kolektor bonsai luar negeri dapat juga dipandang sebagai ancaman. Dengan kemampuan ekonomi yang besar maka mereka dapat memperoleh bonsai dan bahan bonsai yang sangat bermutu tinggi dari kita dengan nilai/harga yang kurang layak.
Sedangkan kelemahan kita adalah lebih cenderung pada kualitas SDM pelaku seni bonsai dan tata kelola bonsai yang perlu ditingkatkan. Kualitas SDM pelaku seni bonsai kita sebagian besar dipengaruhi oleh warisan mentalitas yang sengaja dibentuk oleh kaum kolonial dahulu. Jika kita mau jujur mengakui bahwa kolonialisme yang sangat lama dialami Indonesia telah membentuk mentalitas SDM yang kurang berani mengambil bahkan menghindari risiko untuk mencoba berkreasi dan berinovasi, takut gagal dalam usaha, kurang mandiri, senang dibuai dengan kejayaan masa lalu.
Tata kelola bonsai di Indonesia erat kaitannya dengan regulasi dari pemerintah di bidang pertanian, ekonomi mikro maupun budaya dan pariwisata serta peran dari organisasi-organisasi bonsai yang ada. Khusus untuk organisasi-organisasi bonsai, karakteristik dan pola operasionalnya cenderung disusun seperti organisasi birokrasi pemerintahan. Menurut saya, hal ini kurang tepat karena karakteristik organisasi hobi jelas sangat beda dengan bentuk dan struktur organisasi birokrasi pemerintah.
Bentuk dan struktur suatu organisasi pasti berpengaruh terhadap kebijakan dan strategi operasionalnya. Struktur birokrasi pemerintah cocok digunakan pada millenium kedua, nah sekarang kita ada di millenium ketiga yang tantangannya berbeda. Sekarang di lingkungan pemerintahan saja bentuk dan operasional organisasi berubah sesuai kebutuhan dan tuntutan masyarakat.


Solusi

Lalu alternatif solusi untuk mengatasi segala kelemahan, tantangan, hambatan tersebut antara lain adalah dengan mempersiapan dan menyusun kompetensi SDM maupun organisasi bonsai ke SDM & organisasi masa depan yang bercirikan:
1.     Strategi aliansi. Globalisasi menimbulkan ketergantungan dengan pihak lain sehingga bila selama ini kita fokus pada kemandirian masing-masing individu atau komunitas maka harus kita ubah menjadi membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan pebonsai & komunitas yang lain.
2.     Pembelajaran berkelanjutan. Perubahan lingkungan yang begitu cepat harus disikapi dengan kemampuan untuk belajar beradaptasi pada perubahan tersebut. Fungsi belajar berkelanjutan juga menjadi keharusan bagi pebonsai dan organisasi bonsai. Pada hal ini suatu organisasi bonsai harus menyediakan sarana pendidikan dan pelatihan tentang bonsai, harus mampu membangun sikap mental mau berbagi ilmu serta informasi yang bermanfaat tentang bonsai. Para seniman bonsai juga harus membangun jaringan hubungan sosial yang baik dengan sesama seniman bonsai dan pihak lain agar akumulasi pengetahuan dapat berjalan jauh lebih cepat dan memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas bonsai.
3.     Moral yang baik. Pengurus organisasi bonsai yang ada harus memiliki sifat dan perilaku yang menunjang tata kelola bonsai yang baik seperti amanah, jujur, punya integritas, dedikasi, kedisiplinan dan beretika organisasi yang baik. Kepercayaan dari anggota organisasi bonsai akan timbul jika pengurus memiliki sifat-sifat yang demikian.
4.     Aktif menjadi pelaku. Para seniman bonsai harus kreatif, inovatif, proaktif, dan berwawasan wirausaha; cara kerja dari individual menjadi kerja tim.
5.     Menjadi organisasi kreatif. Organisasi bonsai mengubah visi, misi & nilai-nilainya; organisasi berubah strukturnya dari fungsional menjadi lintas fungsi (organisasi fleksibel & kreatif);
6.     Desentralistik. Kepemimpinan yang harus dikembangkan adalah berubah dari kepemimpinan terpusat menjadi kepemimpinan yang berasal dari semua orang. Oleh karena itu maka pusat-pusat organisasi dan lini kepemimpinan harus diubah dari terpusat menjadi terdistribusi. Hal ini jika terwujud maka pusat-pusat perkembangan seni bonsai akan semakin banyak dan seiring waktu akan bertambah besar dan hebat.

Upaya Meningkatkan Kualitas Seni BONSAI Indonesia


 
”Bonsai masuk dalam ranah seni yang kompleks; dibutuhkan teori & aturan dasar yang bersifat hidup sebagai kerangka pikir dalam seni bonsai; agar seni bonsai maju maka dibutuhkan pengembangan & eksplorasi lanjut; perbedaan pilihan berkaitan dengan proses & selera yang harus saling dihormati-dihargai.”

Bonsai termasuk dalam ranah seni hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dengan membuat, merawat dan menikmati bonsai saya merasa memperoleh kesenangan, kebahagiaan, dan banyak pendidikan yang saya rasa mampu... meningkatkan kualitas mental spiritual (merasa dapat lebih bijaksana serta sadar akan hakikat manusia dan Sang Penciptanya). Hal ini (bonsai) jika disandingkan dengan hakikat seni maka dapat disimpulkan identik/sesuai.
Konsekuensinya adalah dalam membuat, merawat dan menikmatinya seyogianya menggunakan pendekatan seni selain pendekatan ilmu hortikultura (karena salah satu obyek seni bonsai adalah pohon hidup) dan bidang-bidang ilmu yang lain. Dalam seni khususnya seni rupa terdapat unsur-unsur seni rupa seperti garis, warna, tekstur, keseimbangan, komposisi, dimensi, total performance. Tiap unsur di atas memiliki nilai-nilai/value (bukan nilai dalam arti angka tetapi sesuatu/aturan yang diyakini & dipatuhi) yang akan mampu menjadi dasar panduan bagi seniman secara umum untuk menghasilkan hasil karya seni yang bermutu.
Nilai/value dalam seni rupa ada yang dijadikan sebagai aturan baik tertulis maupun tidak tertulis sebagai acuan dasar (rekam jejak ilmu pengetahuan yang dapat dituangkan dalam bentuk pengetahuan, teori, doktrin, norma atau bahkan peraturan/hukum) bagi dirinya sendiri maupun bagi yang lain yang juga akan belajar, memahami maupun menikmatinya. Nilai/value dari tiap unsur juga bersifat dinamis/tidak statis yang mengalami tumbuh kembang sesuai dengan kondisi sosial para pelaku seni itu sendiri (hal ini seyogianya berlaku juga di dunia seni bonsai).
Dewasa ini kebanyakan seniman yang sukses adalah seniman yang dibentuk dari proses pendidikan formil seni & menggunakan manajemen yang baik. Hal ini saya maknai bahwa secara relative, mereka yang sukses adalah seniman yang terbiasa menggunakan teori & aturan dasar dalam menghantar penciptaan sebuah maha karya seni secara fleksibel (bijaksana). Dasar-dasar yang baik tentu akan sangat membantu dalam proses berkesenian selanjutnya, dengan ditambahkan kreativitas tentu akan terjadi proses penemuan (inventing) & penciptaan (creating) pengetahuan yang baru di bidang seni.
Teori & aturan dasar seyogianya menjadi pertimbangan kerangka pikir seorang seniman dalam berkesenian tetapi bukan harus ditiru secara total karena hal tersebut merupakan plagiasi (penjiplakan) karya seni orang lain. Dalam pribadi seniman tentu ingin ada aktualisasi diri dan pengakuan dari lingkungan sehingga seniman cenderung akan melakukan pengembangan dari yang sudah ada atau bahkan melakukan eksporasi lebih dalam dan luas berdasarkan teori, imajinasi & kreativitasnya.
Setiap maestro seni pasti pernah membuat karya seni dalam taraf dasar dan konvensional sebelum mereka menjadi maestro dalam keahlian spesifik mereka. Hal ini jika ditarik dalam dunia seni bonsai saya maknai bahwa bonsai klasik, non klasik/modern atau bahkan kontemporer (melawan, melanggar, melintasi aturan-aturan dasar) menunjukkan sebuah proses dan berkaitan dengan selera. Proses & selera pada umumnya akan mengalami siklus daur ulang. Semua baik & indah pada ranah masing-masing.
Bonsai masuk dalam ranah seni yang kompleks; dibutuhkan teori & aturan dasar yang bersifat hidup sebagai kerangka pikir dalam seni bonsai; agar seni bonsai maju maka dibutuhkan pengembangan & eksplorasi lanjut; perbedaan pilihan berkaitan dengan proses & selera yang harus saling dihormati-dihargai.

Selasa, 26 April 2011

Bonsai Metaforik: Karonsih

KARONSIH
(sebuah pendidikan perkawinan & seks dari Indonesia)


Karonsih merupakan sebuah kata yang berasal dari penggabungan dua buah kata dalam bahasa jawa “karo-an yang berarti berduaan” dan “asih yang bermakna cinta”. Secara umum Karonsih dapat diartikan menjadi kisah cinta antara sepasang suami-istri. Kisah cinta ini di masyarakat Jawa umum diwujudkan dalam bentuk Tari dan Gending/Musik Karonsih yang sering ditampilkan dalam perhelatan pernikahan.
Dalam Tari & Gending Karonsih Klasik menceritakan tentang romantisme kisah percintaan antara putri Galuh Candra Kirana atau Dyah Sekartadji dengan kekasihnya bernama Panji Asamara Bangun. Galuh adalah putri dari Kertamerta asal kerajaan di Kediri sedangkan Panji Asmara Bangun adalah putra dari Prabu Lembu Amiluhur raja Jenggala.
Kini romantisme Karonsih agar dapat terus diketahui & diambil kebijaksanaannya, telah dapat diwujudkan dalam sebuah karya Seni BONSAI dengan pohon yang berasal dari species Legundi (Vitex trifolia). Elemen sepasang kekasih/suami istri ditampilkan dalam wujud dua jalur kulit hidup di sisi batang sebelah kiri dan kanan. Bentuk alur kulit hidup pada kedua belah bagian tidak sama/asimetri yang menggambarkan adanya dua karakter dasar yang berbeda antara pria dan perempuan.
Di antara bagian kulit hidup terdapat keringan dan lubang atau rongga menganga yang melambangkan bahwa hakikat pernikahan & percintaan bukanlah untuk menyatukan serta menyamakan dua karakter dasar yang berbeda tetapi lebih kepada memadupadankan keduanya. Perpaduan yang harmonis antara dua karakter yang berbeda dengan dilandasi kesediaan untuk saling menerima keadaan apa adanya serta upaya untuk menjadikan pasangannya jadi dalam keadaan yang jauh lebih baik lagi.
Bonsai Legundi “Karonsih” dibuat dengan bentuk dasar yang kaya akan gerak, dinamis untuk meninggalkan kesan monoton. Pemilihan bentuk dengan kekayaan gerak melambangkan kehidupan cinta yang sangat dinamis, variatif dan tidak membosankan. Berbagai eksplorasi dilakukan, terkadang gerak lembut, terkadang agak kasar, naik-turun-menyamping membentuk ruang dan kedalaman yang membangun nuansa romantisme, keindahan & kebahagiaan.
Demikian pula dengan penataan cabang, ranting maupun peletakan batang dalam bidang tanam yang sangat memperhatikan komposisi bentuk. Hal ini menyimbolkan kemampuan pasangan kekasih yang secara bijaksana mampu mengelola riak-riak kehidupan maupun bumbu-bumbu dalam kisah kasih. Bahkan hal-hal yang dahulu ditabukan kini menjadi suatu kewajiban yang bernilai ibadah.

"Karonsih" Legundi (Vitex trifolia)

Bonsai Metaforik: Constancy

Keteguhan

Dalam kuasa hitam gelap malam
Dalam belaian hembus angin pelan
Aku terdiam dalam sebuah kepasrahan
Menyerahkan hidup kepada pencipta kalam

Dalam setiap keterbatasan ku temukan keleluasaan
Dalam setiap kelemahan ku jumpai kekuatan
Yang tampak dari yang tersembunyi
Adalah tanda dari hakiki

Meski bumi bergetar tanah berguncang
Meski petir menyambar badai menerjang
Aku akan tetap tegar berdiri
Menunaikan amanah dari Yang kucintai





Salah satu cara untuk menikmati sebuah karya seni bonsai adalah dengan pendekatan metaforik, bonsai dilihat dari ungkapan konotatifnya sebagai representasi dari suatu konsep yang bermakna tertentu. Demikian halnya dengan karya seni bonsai atas bahan Landepan (Plectonia horida) ini, Seniman sekaligus pemiliknya dalam membuat bonsai ini memiliki konsep tentang firmness (keteguhan) yang dilambangkan oleh batang-batang Landepan yang relatif berbentuk lurus-lurus tegak ke atas. Meskipun kecil batang-batang tersebut menunjukkan sifat ketuaan, keras dan sangat tegas memegang teguh prinsip hidup.