Selasa, 26 April 2011

Bonsai Metaforik: Karonsih

KARONSIH
(sebuah pendidikan perkawinan & seks dari Indonesia)


Karonsih merupakan sebuah kata yang berasal dari penggabungan dua buah kata dalam bahasa jawa “karo-an yang berarti berduaan” dan “asih yang bermakna cinta”. Secara umum Karonsih dapat diartikan menjadi kisah cinta antara sepasang suami-istri. Kisah cinta ini di masyarakat Jawa umum diwujudkan dalam bentuk Tari dan Gending/Musik Karonsih yang sering ditampilkan dalam perhelatan pernikahan.
Dalam Tari & Gending Karonsih Klasik menceritakan tentang romantisme kisah percintaan antara putri Galuh Candra Kirana atau Dyah Sekartadji dengan kekasihnya bernama Panji Asamara Bangun. Galuh adalah putri dari Kertamerta asal kerajaan di Kediri sedangkan Panji Asmara Bangun adalah putra dari Prabu Lembu Amiluhur raja Jenggala.
Kini romantisme Karonsih agar dapat terus diketahui & diambil kebijaksanaannya, telah dapat diwujudkan dalam sebuah karya Seni BONSAI dengan pohon yang berasal dari species Legundi (Vitex trifolia). Elemen sepasang kekasih/suami istri ditampilkan dalam wujud dua jalur kulit hidup di sisi batang sebelah kiri dan kanan. Bentuk alur kulit hidup pada kedua belah bagian tidak sama/asimetri yang menggambarkan adanya dua karakter dasar yang berbeda antara pria dan perempuan.
Di antara bagian kulit hidup terdapat keringan dan lubang atau rongga menganga yang melambangkan bahwa hakikat pernikahan & percintaan bukanlah untuk menyatukan serta menyamakan dua karakter dasar yang berbeda tetapi lebih kepada memadupadankan keduanya. Perpaduan yang harmonis antara dua karakter yang berbeda dengan dilandasi kesediaan untuk saling menerima keadaan apa adanya serta upaya untuk menjadikan pasangannya jadi dalam keadaan yang jauh lebih baik lagi.
Bonsai Legundi “Karonsih” dibuat dengan bentuk dasar yang kaya akan gerak, dinamis untuk meninggalkan kesan monoton. Pemilihan bentuk dengan kekayaan gerak melambangkan kehidupan cinta yang sangat dinamis, variatif dan tidak membosankan. Berbagai eksplorasi dilakukan, terkadang gerak lembut, terkadang agak kasar, naik-turun-menyamping membentuk ruang dan kedalaman yang membangun nuansa romantisme, keindahan & kebahagiaan.
Demikian pula dengan penataan cabang, ranting maupun peletakan batang dalam bidang tanam yang sangat memperhatikan komposisi bentuk. Hal ini menyimbolkan kemampuan pasangan kekasih yang secara bijaksana mampu mengelola riak-riak kehidupan maupun bumbu-bumbu dalam kisah kasih. Bahkan hal-hal yang dahulu ditabukan kini menjadi suatu kewajiban yang bernilai ibadah.

"Karonsih" Legundi (Vitex trifolia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar