Jumat, 29 April 2011

Upaya Meningkatkan Kualitas Seni BONSAI Indonesia


 
”Bonsai masuk dalam ranah seni yang kompleks; dibutuhkan teori & aturan dasar yang bersifat hidup sebagai kerangka pikir dalam seni bonsai; agar seni bonsai maju maka dibutuhkan pengembangan & eksplorasi lanjut; perbedaan pilihan berkaitan dengan proses & selera yang harus saling dihormati-dihargai.”

Bonsai termasuk dalam ranah seni hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dengan membuat, merawat dan menikmati bonsai saya merasa memperoleh kesenangan, kebahagiaan, dan banyak pendidikan yang saya rasa mampu... meningkatkan kualitas mental spiritual (merasa dapat lebih bijaksana serta sadar akan hakikat manusia dan Sang Penciptanya). Hal ini (bonsai) jika disandingkan dengan hakikat seni maka dapat disimpulkan identik/sesuai.
Konsekuensinya adalah dalam membuat, merawat dan menikmatinya seyogianya menggunakan pendekatan seni selain pendekatan ilmu hortikultura (karena salah satu obyek seni bonsai adalah pohon hidup) dan bidang-bidang ilmu yang lain. Dalam seni khususnya seni rupa terdapat unsur-unsur seni rupa seperti garis, warna, tekstur, keseimbangan, komposisi, dimensi, total performance. Tiap unsur di atas memiliki nilai-nilai/value (bukan nilai dalam arti angka tetapi sesuatu/aturan yang diyakini & dipatuhi) yang akan mampu menjadi dasar panduan bagi seniman secara umum untuk menghasilkan hasil karya seni yang bermutu.
Nilai/value dalam seni rupa ada yang dijadikan sebagai aturan baik tertulis maupun tidak tertulis sebagai acuan dasar (rekam jejak ilmu pengetahuan yang dapat dituangkan dalam bentuk pengetahuan, teori, doktrin, norma atau bahkan peraturan/hukum) bagi dirinya sendiri maupun bagi yang lain yang juga akan belajar, memahami maupun menikmatinya. Nilai/value dari tiap unsur juga bersifat dinamis/tidak statis yang mengalami tumbuh kembang sesuai dengan kondisi sosial para pelaku seni itu sendiri (hal ini seyogianya berlaku juga di dunia seni bonsai).
Dewasa ini kebanyakan seniman yang sukses adalah seniman yang dibentuk dari proses pendidikan formil seni & menggunakan manajemen yang baik. Hal ini saya maknai bahwa secara relative, mereka yang sukses adalah seniman yang terbiasa menggunakan teori & aturan dasar dalam menghantar penciptaan sebuah maha karya seni secara fleksibel (bijaksana). Dasar-dasar yang baik tentu akan sangat membantu dalam proses berkesenian selanjutnya, dengan ditambahkan kreativitas tentu akan terjadi proses penemuan (inventing) & penciptaan (creating) pengetahuan yang baru di bidang seni.
Teori & aturan dasar seyogianya menjadi pertimbangan kerangka pikir seorang seniman dalam berkesenian tetapi bukan harus ditiru secara total karena hal tersebut merupakan plagiasi (penjiplakan) karya seni orang lain. Dalam pribadi seniman tentu ingin ada aktualisasi diri dan pengakuan dari lingkungan sehingga seniman cenderung akan melakukan pengembangan dari yang sudah ada atau bahkan melakukan eksporasi lebih dalam dan luas berdasarkan teori, imajinasi & kreativitasnya.
Setiap maestro seni pasti pernah membuat karya seni dalam taraf dasar dan konvensional sebelum mereka menjadi maestro dalam keahlian spesifik mereka. Hal ini jika ditarik dalam dunia seni bonsai saya maknai bahwa bonsai klasik, non klasik/modern atau bahkan kontemporer (melawan, melanggar, melintasi aturan-aturan dasar) menunjukkan sebuah proses dan berkaitan dengan selera. Proses & selera pada umumnya akan mengalami siklus daur ulang. Semua baik & indah pada ranah masing-masing.
Bonsai masuk dalam ranah seni yang kompleks; dibutuhkan teori & aturan dasar yang bersifat hidup sebagai kerangka pikir dalam seni bonsai; agar seni bonsai maju maka dibutuhkan pengembangan & eksplorasi lanjut; perbedaan pilihan berkaitan dengan proses & selera yang harus saling dihormati-dihargai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar